Sabtu, 06 Juni 2015

MAKLAH PENGERTIAN AKIDAH AKHLAK



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Aqidah dan akhlak merupakan pondasi dasar yang wajib ditanamkan kepada peserta didik sejak dini khususnya di tingkat Madrash Ibtidaiyah. Sebagai seorang calon  guru yang akan  dicetak sebagai guru yng profesional, sudah semestinya kita sebagai calon guru mengenal bagaimana pembelajaran aqidah akhlak di tingkat madrasah ibtida’iyah. Seperti yang kita ketahui bahwa pada peserta didik khususnya di tingkat MI masih membutuhka pondasi akan pentingnya aqidah akhlak tersebut. 
Ni1ai suatu prilaku itu ditentukan oleh kandungan moral yang terpatri dibalik perilaku  tersebut. Semakin besar dan bermanfaat nilainya semakin penting untuk dipelajarinya.Perilaku yang paling penting adalah akhlakul karimah yang mengenalkan kita kepada Allah SWT, Sang Pencipta.Sehingga orang yang tidak kenal Allah SWT disebut kafir meskipun dia Profesor Doktor, pada hakekatnya dia bodoh.Adakah yang lebih bodoh daripada orang yang tidak mengenal yang menciptakannya?
Allah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya dan selengkap-­lengkapnya dibanding dengan makhluk/ciptaan lainnya.Kemudian Allah bimbing mereka dengan mengutus para Rasul-Nya.
Begitu pentingnya Aqidah ini sehingga Nabi Muhammad, penutup para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya selama 13 tahun ketika berada di Mekkah pada bagian ini, karena aqidah adalah landasan semua tindakan. Di dalam tubuh manusia seperti kepadanya.Maka apabila suatu ummat sudah rusak, bagian yang harus direhabilitisi adalah akhlak dan aqidahnya terlebih dahulu. Disiniah pentingnya aqidah ini.Apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akherat.Dialah kunci menuju surga.





B.     Rumusan masalah
1.      Apa definisi  Aqidah  Akhlak ?
2.      Apa hakekat  pembelajaran aqidah akhlak ?
3.      Bagaimana konsep dasar pembelajaran Aqidah Akhlak MI ?

C.      Tujuan
1.      Mengetahui definis Aqidah Akhlak
2.      Mengetahui hakekat  pembelajaran Aqidah Akhlak.
3.      Mengatahui konsep dasar pembelajaran Aqidah Akhlak MI


















BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN AQIDAH DAN AKHLAK
1.      Pengertian Aqidah
Kata ‘aqidah berasal dari kata bahasa arab. Secara bahasa, aqidah berarti sesuatu yang mengikat. Kata ini, sering juga disebut dengan ’aqa’id, yaitu kata plural (jama’) dari ’aqidah yang artinya simpulan. Kata lain yang serupa adalah i’tiqad, mempunyai arti kepercayaan. Menurut Sayyid Sabiq, seperti dikutip Nurcholis Madjid (baca: Cak Nur), tauhid atau al-‘aqidah al-islamiyyah adalah suatu sistem kepercayaan Islam yang mencakup didalamnya keyakinan kepada Allah dengan jalan memahami nama-nama dan sifat-sifatNya, keyakinan terhadap malaikat, ruh, setan, iblis dan makhluk-makhluk gaib lainnya, kepercayaan terhadap Nabi-nabi, Kitab-kitab Suci serta hal-hal eskatologis lainnya, seperti Hari Kebangkitan (al-ba’ts), hari kiamat/hari akhir (yaum al-qiyamah/yaum al-akhir), surga, neraka, syafa’at, jembatan gaib (al-shirath al-mustaqim), dan sebagainya.[1]
Aqidah adalah suatu keyakinan yang mengikat hatinya dari segala keraguan. Atau dengan kata lain Aqidah adalah suatu perkara yang harus dibenarkan dalam hati sehingga melahirkan jiwa yang tenang dan mantap serta tidak dipengaruhi keraguan dan meyakini dengan penuh keyakinan bahwa apa yang menjadi rukun Iman umat islam benar Mutlaq meyakini keberadaannya.
2.      Pengertian Akhlak
Akhlak berasal dari bahasa Arab, al-khuluqu atau al-khuluq yang berarti watak, tabiat, keberanian atau agama. Sedangkan secara istilah Muuhammad Rabbi Muhammad Jauhari mengutip pendapat  Ibnu Maskawaih bahwa Akhlak adalah   suatu keadaan bagi jiwa yang mendorong ia melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu tanpa melalui fikiran dan pertimbangan.  Keadaan ini terbagi dua: ada yang berasal dari tabiat aslinya, ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulan-ulang. Boleh jadi, pada mulanya tindakan-tindakan itu melalui fikiran dan pertimbangan, dan dilakukan terus-menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.[2]
Akhlak merupakan konsep kajian terhadap ihsan. Ihsan merupakan ajaran tentang penghayatan akan hadirnya Tuhan dalam hidup, melalui penghayatan diri yang sedang menghadap dan berada di depan Tuhan ketika beribadah. Ihsan juga merupakan suatu pendidikan atau latihan untuk mencapai kesempurnaan Islam dalam arti sepenuhnya (kaffah), sehingga ihsan merupakan puncak tertinggi dari keislaman seseorang. Ihsan ini baru tercapai kalau sudah dilalui dua tahapan sebelumnya, yaitu iman dan islam. Orang yang mencapai predikat ihsan ini disebut muhsin. Dalam kehidupan sehari-hari ihsan tercermin  dalam bentuk akhlak yang mulia (al-akhlak al-karimah). Inilah yang menjadi misi utama diutusnya Nabi Saw. ke dunia, seperti yang ditegaskannya dalam sebuah hadisnya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia”.   Tugas yang amat berat dan sangat mulia itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh Nabi berkat bimbingan langsung dari Allah Swt. dan juga didukung oleh kepribadian beliau yang sangat agung. Terkait dengan ini Allah Swt. berfirman: 
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam : 4)[3]

Jadi konsep  dasar mempelajari aqidah akhlak di madrasah adalah suatu pernyataan sekaligus gambaran dasar dalam mempelajari suatu ikatan dan keyakinan dasar dalam kehidupan beragama sehingga diharapkan dapat melahirkan budi pekerti dan akhlakul karimah pada peserta didik. 

B.     Hakikat Pembelajaran Aqidah Akhlak
           Belajar adalah proses perubahan di dalam diri manusia. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan, maka tidaklah dapat dikatakan bahwa padanya telah berlangsung proses belajar. Selain itu belajar juga selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah yang lebih baik, direncanakan atau tidak.
Kemudian untuk memudahkan pembahasan dan pemahaman dalam memberikan definisi tentang pembelajaran aqidah akhlak ini, penulis akan memaparkan dalam tiga  bagian, yaitu:
a.       Pembelajaran
Pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan. Di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen, yaitu guru, siswa dan materi pelajaran. Interaksi antara ketiga komponen utama ini melibatkan sarana dan prasarana seperti metode, media dan penataan lingkungan tempat belajar sehingga tercipta suatu proses pembelajaran yang memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan.
Untuk memahami hakikat pembelajaran, dapat dilihat dari dua segi, segi etimologis (bahasa) dan segi terminologis (istilah). Secara etimologis pembelajaran merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, instruction yang bermakna upaya untuuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang, melalui berbagai upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan kearah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan pengertian terminologis adalah Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan  seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus, atau menghasilkan respon dalam kondisi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan[4]
Menurut S. Nasution pembelajaran adalah proses interaktif yang berlangsung antara guru dan siswa atau juga antara sekelompok siswa dengan tujuan   untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan atau sikap serta menetapkan apa yang dipelajari itu.[5]
Sedangkan pengertian pembelajaran menurut Zainal Aqib adalah  suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, materiil, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.[6]
Sehingga berdasarkan pendapat diatas dapat ditarik pengertian bahwa pembelajaran adalah usaha orang dewasa yang sistematis, terarah, yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasar menuju perubahan tingkah laku dan kedewasaan anak didik, baik diselenggarakan secara formal maupun non formal.
b.      Akidah Akhlak
Para ahli sangat bervariasi dalam mendefinisikan aqidah yang  beranjak dari pengertian yang terkesan terbuka sampai pada yang terperinci, bahkan sangat berhati-hati dalam mengungkapkannya. Menurut Zuhairini, aqidah adalah: i’tikad batin, mengajarkan keEsaan Allah SWT, Esa sebagai Tuhan yang mencipta, mengatur dan meniadakan.
Menurut Zaki Mubarok Latif yang mengutip pendapat dari  Hasan Al Banna mengatakan bahwa aka’id (bentuk jamak dari aqidah) artinya beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati. Sedang kutipan pendapat dari Abu Bakar Jabir Al Jazani mengatakan bahwa aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah.[7]
Berdasarkan kedua pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan  bahwa setiap manusia memiliki fitrah tentang adanya Tuhan yang didukung oleh hidayah Allah SWT berupa indra, akal agama dan lain sebagainya, dan keyakinan sebagai sumber utama akidah itu tidak boleh bercampur dengan keraguan. Tiap-tiap pribadi pasti memiliki kepercayaan, meskipun bentuk dan pengungkapannya berbeda-beda. Dan pada dasarnya manusia memang membutuhkan kepercayaan, karena kepercayaan itu akan membentuk sikap dan pandangan hidup seseorang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian aqidah  adalah sesuatu yang pertama dan utama untuk diimani oleh manusia. Kemudian pengertian akhlak adalah suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan dan direncanakan sebelumnya.  Akhlak itu timbul dan tumbuh dari dalam jiwa, kemudian berbuah kesegenap anggota menggerakkan amal-amal, serta menghasilkan sifat-sifat yang baik dan utama dan menjauhi segalayang buruk dan tercela. Pemupukan agar dia bersemi dan subur ialah  berupa humanity dan iman, yaitu kemanusiaan dan keimanan yang kedua-duanya bersama menuju perbuatan.  Dari pemaparan diatas dapat dijelaskan bahwa aqidah akhlak adalah suatu bidang studi yang mengajarkan dan membimbing siswa untuk dapat  mengetahui, memahami dan meyakini aqidah Islam serta dapat membentuk dan mengamalkan tingkah laku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam. Jadi aqidah akhlak merupakan bidang studi yang mengajarkan dan membimbing siswa dalam suatu rangkaian yang manunggal dari upaya pengalihan pengetahuan dan penanaman nilai dalam bentuk kepribadian berdasarkan nilai-nilai  ketuhanan.
c.       Pembelajaran Akidah Akhlak
Pembelajaran aqidah akhlak merupakan tiga kata yaitu terdiri dari kata pembelajaran, aqidah dan akhlak. Berdasarkan pengertian tiga kata itu sebagaimana yang telah diuraikan diatas dalam bab ini, maka dapat difahami dan diketahui bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran aqidah akhlak adalah suatu wahana pemeberian pengetahuan, bimbingan dan pengembangan kepada siswa agar dapat memahami, meyakini dan menghayati kebenaran ajaran Islam, serta bersedia mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu pengertian pembelajaran aqidah akhlak adalah  suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk dapat menyiapkan peserta didik agar beriman terhadap ke-Esaan Allah SWT, yang berupa pendidikan yang mengajarkan keimanan, masalah ke-Islaman, kepatuhan dan ketaatan dalam menjalankan syari’at Islam menurut ajaran agama, sehingga akan terbentuk pribadi muslim yang sempurna iman dan Islamnya.  Dengan demikian yang penulis maksudkan dengan pembelajaran aqidah akhlak adalah: usaha atau bimbingan secara sadar oleh orang dewasa terhadap anak didik untuk menanamkan ajaran kepercayaan atau keimanan terhadap ke-Esaan Allah SWT, yaitu keyakinan penuh yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah, dan diwujudkan oleh amal perbuatan. Selain itu pembelajaran aqidah akhlak adalah salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang digunakan sebagai wahana pemberian pengetahuan, bimbingan dan pengembangan kepada siswa agar dapat memahami, meyakini dan menghayati kebenaran ajaran Islam sehingga dapat membentuk prilaku-prilaku siswa yang sesuai dengan norma dan syariat yang ada.






C.    Konsep Dasar Pembelajaran Akidah Akhlak MI
1.      Dasar-Dasar Pembelalajaran Akidah Akhlak MI
Adapun dasar-dasar pembelajaran aqidah akhlak pada MI adalah sebagai berikut:
a. Dasar Psikologi

Pada dasarnya manusia secara fitrah (bawaan) sudah membawa keimanan semenjak didalam kandungan. Sehingga secara naluriah manusia akan berusaha mencari Dzat Tuhan. Al Qur’an mengisyaratkan  bahwa   kehadiran  Tuhan   ada   dalam   setiap   diri manusia, dan hal tersebut merupakan fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadiannya. Sebagaimana dalam Al Qur’an telah ditegaskan:
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S Ar-Rum:30)
Berhubungan dengan hal tersebut, Dr.M. Quraish Shihab, M A, dalam bukunya Wawasan Al Qur’an, menggambarkan bahwa apabila manusia bebas dari segala persoalan hidup, maka akan mendengar suara  nurani  yang  mengajak  manusia  untuk  berbicara,  mendekat bahkan menyatu dengan suatu totalitas wujud Yang Maha Mutlak. Suara itu mengantarkan pada pengakuan betapa lemah manusia dihadapan-Nya. Betapa Kuasa dan Perkasa Dia Yang Maha Agung. Suara  yang  didengarkan  oleh  nurani  tersebut  adalah  suara  fitrah manusia.[8]
Dari uraian diatas dapat diambil pengertian bahwa secara psikologis setiap manusia mempunyai pembawaan untuk mengakui dan mencari adanya Allah, sebagai Dzat yang menguasai manusia dan seluruh alam semesta.


b. Dasar Antropologis
Pada dasarnya manusia ingin mencari perlindungan kepada Dzat Yang Maha Kuasa, baik itu disadari maupun tidak disadari. Pada saat- saat tertentu manusia pasti membutuhkan perlindungan atau pertolongan dari suatu kekuatan yang tidak dapat dimengerti dan difahami oleh manusia itu sendiri.
Hal itu dikarenakan sejak zaman pra sejarah menurut para ahli antropologi sudah mengakui bahwa ada suatu kekuatan tertinggi (alam ghaib) dibalik kekuatan duniawi, sebagaimana Andrew Lang (1814 –1912) mengecam teori Tylor yang telah dikutip oleh Koentjaraningrat yang menyatakan bahwa dalam jiwa manusia ada suatu kekuatan atau kemampuan ghaib yang dapat bekerja lebih kuat pada saat aktifitas pikiran manusia yang rasional mengalami kelemahan atau titik akhir yang tidak dapat memenuhi kebutuhan rasionalnya”. Dari uraian diatas dapat diambil pengertian bahwa menurut ahli antropologi manusia sejak zaman  pra  sejarah hingga sekarang ini, semua yakin dan percaya bahwa kekuatan ghaib dibalik kekuatan manusia itu ada dan diyakini dapat melindungi setiap manusia. Kekuatan  yang  luar  biasa  tersebut  adalah  Allah  SWT,  Sang Maha   Kuasa   Yang   menciptakan   seluruh   alam   semesta.   Allah berfirman:
Orang-orang yang beriman dan tiada mencampurbaurkan Iman mereka dengan sesuatu kedholiman, mereka memperoleh keamanan (pada hari kiamat) dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.( Q. S. AL Anam: 82)
c.   Dasar Sosiologis
Dari sudut pandang agama Islam sebenarnya setiap manusia dalam sanubarinya selalu ada keinginan untuk berkumpul dan berbaur dengan kelompok  manusia  yang  lain.  Karena  mereka  tidak  akan pernah bisa hidup sendirian tanpa bantuan manusia yang lainnya.
Sedangkan   dari   sudut   pandang   sosiologi   manusia   adalah makhluk sosial yang ingin selalu bergaul dan bersatu dengan yang lain. Karena mereka tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Dan salah satu faktor  pendorong untuk  dapat  selalu  kumpul  dan  bersama  dengan manusia yang lain adalah ingin mempertahankan diri atau terjaminnya keamanan.
Dan dengan demikian secara sosiologis manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai hasrat untuk selalu berkumpul dan bergaul dengan manusia yang lain. Dari interaksi sosial tersebut timbullah suatu tatanan nilai sosial yang berfungsi sebagai pendorong, pedoman serta memberi perlindungan hukum bagi setiap anggota masyarakat.
Dengan demikian tatanan nilai yang abadi dan bersifat universal hanyalah tatanan nilai agama. Karena bersumber dari Dzat Yang Maha Abadi,  Bijaksana  serta  Maha  Adil.  Tatanan  nilai  tersebut  adalah agama Islam dengan pedoman kitab suci Al qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Karena itulah agama yang terakhir yang memiliki tatanan Ilahiyah dan Insaniyah yang obyektif dan universal yang perlu diwariskan pada generasi berikutnya melalui pendidikan.
2.      Ruang Lingkup Pembelajaran Akhlak
Zaki Mubarok Latif mengutip pendapat dari Hasan Al Banna menunjukkan empat bidang yang berkaitan dengan lingkup pembahasan mengenai aqidah yaitu:
a.  Ilahiyat
Illahiyat yaitu: pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Illah (Tuhan) seperti wujud Allah SWT, asma Allah, sifat-sifat yang wajib ada pada Allah, dan lain-lain.
b.  Nubuwwat
Nubuwat yaitu: pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan
Rasul-Rasul Allah, termasuk Kitab suci, mu’jizat, dan lain-lain.
c.   Ruhaniyyat
Rukhyat yaitu: pembahasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan roh atau metafisik,seperti malaikat, jin, iblis, setan, roh, dan lain-lain.
d.  Sam’iyyat
yaitu: pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui Sam’iyyat melalui sami (dalil naqli: Al Qur’an dan As Sunah   seperti surga neraka, alam barzah, akhirat, kiamat, dan lain-lain.[9]
Secara khusus ruang lingkup pembelajaran aqidah akhlak meliputi dua unsur pokok, yaitu:
a)   Aqidah, berisi aspek pelajaran guna menanamkan pemahaman dan keyakinan terhadap aqidah Islam, sebagaimana yang terdapat dalam rukun iman, dan dalam hal bertauhid dapat dipahami dan diamalkan secara terpadu dua bentuk tauhid, yaitu Rububiyyah dan Uluhiyyah.
b) Akhlak,  meliputi  akhlak  terpuji,  akhlak  tercela,  kisah-kisah keteladanan para Rasul Allah, sahabat Rasul, orang saleh, serta adab dalam hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam lingkungannya.
Dalam  hubungannya  manusia  dengan  Allah,  manusia  menempati posisi sebagai ciptaan dan Allah sebagai pencipta. Posisi ini mengakibatkan konsekuensi adanya keharusan manusia taat dan patuh kepada pencipta-Nya. Kemudian dalam hubungannya manusia dengan sesamanya, dapat diberi penjelasan bahwa dengan berprinsip bahwa semua manusia adalah saudara, maka kehidupan antar sesama muslim akan tercipta ukhuwah yang dilandasi taqwa kepada Allah, dan akan tumbuh sikap toleran terhadap sesama manusia karena persamaan derajat sesama hamba Allah. Selanjutnya dalam hubungan manusia dengan alam lingkungannya dapat dijelaskan bahwa alam yang diciptakan Allah ini memang untuk manusia, dan apabila pemanfaatan alam yang berlebihan akan mengakibatkan rusaknya lingkungan alam itu, dan akibatnya yang paling terasa adalah menimpa manusia itu sendiri.
3.      Fungsi Pembelajaran Akidah Akhlak MI
Ada beberapa fungsi pembelajaran aqidah akhlak pada usia anak. Mata pelajaran aqidah akhlak pada Madrasah Ibtidaiyah berfungsi:
a.   Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT yang telah ditanamkan di lingkungan keluarga. Dengan demikian dasar-dasar keimanan dianggap telah ditanamkan sebelum siswa memasuki madrasah.
b. Perbaikan, yaitu  memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan,pemahaman, dan pengamalanajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan pengembangan keimanan yang dilakukan di madrasah dijalankan melalui proses yang sistematis dalam kerangka ilmu pengetahuan.
c. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan atau dari budaya lain yang dapat membahayakan diri siswa dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
d.   Pengajaran, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan tentang keimanan dan akhlak.

BAB III
PENUTUP
 

A.    Simpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa sebagai berikut:
Aqidah adalah suatu keyakinan yang mengikat hatinya dari segala keraguan. Atau dengan kata lain Aqidah adalah suatu perkara yang harus dibenarkan dalam hati sehingga melahirkan jiwa yang tenang dan mantap serta tidak dipengaruhi keraguan dan meyakini dengan penuh keyakinan bahwa apa yang menjadi rukun Iman umat islam benar Mutlaq meyakini keberadaannya. Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pikiran terlebih dahulu.
Jadi konsep  dasar mempelajari aqidah akhlak di madrasah adalah suatu pernyataan sekaligus gambaran dasar dalam mempelajari suatu ikatan dan keyakinan dasar dalam kehidupan beragama sehingga diharapkan dapat melahirkan budi pekerti dan akhlakul karimah pada peserta didik.
Adapun dasar-dasar pembelajaran Akidah Akhlak  sebagai berikut:
a.             Dasar Psikologi
b.            Dasar Antropologis
c.             Dasar Sosiologis
Jadi sudah jelas bahwa Aqidah dan Akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena kedua hal inilah seorang hamba bisa menuju keridhoan Robbnya.
B.     Saran         
Kita sebagai calon pendidik sudah semesti mempersiapkan diri untuk bertingkah laku dengan akhlakul karimah sejak sekarang karena mau tidak mau ketika kita terjun ke lapangan tentunya sudah menjadi barang pasti kita akan mejadi panutan bagi para peserta didik kita. Selanjutnya untuk para orang tua seharusnya mengarahkan dan membiasakan para anak-anaknya untuk beretika sebagaimana mestinya. Tidak terlupakan kami sebagai penulis mengharapkan kepada pemerintah untuk ikut berpatisipasi dalam mengalokasikan para generasi bangsa untuk menjunjung tinggi akhlakul karimah lewat lembaga dan wewenang yang mereka pegang agar tercipta bangsa dan negara yang bermartabat.


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari, Keistimewaan Akhlak Islami, Bandung: Pustaka Setia,  2006
Mahrus, modul Akidah, Jakarta : 2012
Marzuki, Prinsip Dasar Akhlak Mulia, Yogyakarta: Wahana Press, 2009
Heri Gunawan, Kurikulum dan pembelajaran PAI, Bandung: Alfabeta, 2012
S. Nasution, Kurikulum Dan pengajaran, Jakarta: Bina Aksara, 1984
Zainal Aqib, Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran, Surabaya: Insan Cendikia,
  2002
Zaki Mubarok Latif, dkk, Akidah Islam, Yogyakarta: UII Press, 2001
M. Quraish Shihab, Wawawsan Al Qur’an, Bandung: Mizan, 1996


[1] Mahrus, modul Akidah, (Jakarta : 2012) hal: 9
[2] Muhammad Rabbi Muhammad Jauhari, Keistimewaan Akhlak Islami (Bandung: Pustaka Setia, 2006 ) hlm.85
[3] Marzuki, Prinsip Dasar Akhlak Mulia (Yogyakarta: Wahana Press, 2009)hlm.9
[4] Heri Gunawan, Kurikulum dan pembelajaran PAI (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm.108
[5] S. Nasution, Kurikulum Dan pengajaran, (Jakarta: Bina Aksara, 1984), hlm.102
[6] Zainal Aqib, Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran, (surabaya: Insan Cendikia,
  2002), hlm. 41   
[7] Zaki Mubarok Latif, dkk, Akidah Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2001), hlm. 29
[8]  M. Quraish Shihab, Wawawsan Al Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), Cet. 3  hlm. 16
[9] Zaki Mubarok Latif, dkk, Op. Cit., hlm. 30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar