Jumat, 30 Mei 2014

IMAM MALIKI


 
Di sepanjang sejarahnya, Islam dipenuhi tokoh-tokoh besar. Dalam bidang fiqih kita mengenal imam-imam terkemuka. Di sini, akan kita telusuri sedikit dari tapak perjuangan salah satu imam madzab yang sangat terkenal sebagaimana imam yang lain, yaitu imam Abu Abdillah Malik bin Anas Imam Darul Hijroh.
Beliau lahir disebuah tempat di kota Madinah Al Munawwarah, pada tahun 93 hijriah bertepatan dengan tahun 712 masehi, dari seorang ibu yang bernama Al 'Aliyah binti Syuraik bin Abdurrahman bin Syuraik Al Azadiyah dan seorang ayah bernama Anas bin Malik bin Abi Amir Al Ashbahy. Kelahiran beliau bertepatan dengan berkuasanya Sulaiman bin Abdul Malik dari Bani Umayyah VII.

Kota Madinah ketika itu masih di penuhi ulama-ulama dari Shahabat dan tabi'in. Malik bin Anas kecil, tumbuh sebagai anak yang pandai dan cerdas, hafalannya begitu kuat, daya fikirnya hebat, maka tak ayal dalam usia belum menginjak dewasa ia sudah mampu menghafal Al Qur'an di luar kepala.
Perkembangan keilmuan Malik bin Anas sangat menakjubkan, dengan penuh semangat ia belajar dari banyak ulama' seperti Rabi'ah Ar Ra'yi, Imam Nafi' Maula Ibnu Umar, Imam Syaibah Az Zuhri dan banyak lagi ulama yang lain.
Ilmu yang begitu banyak ternyata tidak membuat Imam Malik menjadi takabur dan congkak. Tubuh beliau yang tinggi besar, berkulit merah kekuning-kuningan berjanggut panjang semakin menambah kharismanya.

Luasnya pengetahuan tentang hukum-hukum diakui oleh banyak ulama. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa beliau belum belum pernah menjumpai ulama pun yang lebih 'alim dari imam Maliki, Imam Al Laits bin Sa'ad berkata " Pengetahuan imam Malik adalah pengetahuan orang bertaqwa kepada Allah, pengetahuan imam malik boleh di percaya bagi orang-orang yang benar-benar ingin mengambil pengetahuan. Imam Yahya bin Syu'bah berkata " Tidak ada pada masa itu seorangpun yang dapat menduduki kursi mufti di masjid Nabawi selain imam Malik.

Dalam ilmu hadits, beliau adalah ulama yang sangat terpercaya. Perhatiannya begitu besar terhadap hadits Rasulullah SAW. Sehingga setiap menyampaiakan hadits, beliau selalu mandi, bersuci, memakai wangi-wangian dan berpakaian bersih. Beliau tidak akan mengajarkan hadits kecuali dengan duduk tenang tanpa terburu-buru. Setiap perkataan lain selain hadits rasulullah Saw yang terdengar lebih keras dari hadits yang beliau sampaikan akan ditegurnya, karena tidaklah layak seorang manusia mengeraskan suara ketika hadits rasulullah dibacakan.

Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi'i pernah berkata : "Apabila datang hadits kepadamu dari imam Malik, maka pegang teguhlah olehmu dengan kedua tanganmu, karena ia menjadi alasan/hujjah bagi kamu. Apabila di sebut-sebut ulama ahli hadits maka beliaulah bintangnya, dan tidak seorangpun yang lebih aku percaya tentang hadits melainkan imam Malik dan imam Ibn Uyainah, keduanya berkawan erat pada satu masa, jika tidak ada kedua imam ini, niscaya musnahlah ilmu hadits.

Berkata pula Imam Sufyan bin Uyainah, 'Imam Malik adalah orang yang tidak suka menyampaikan hadits, melainkan yang pasti dan terang datangnya dari rasulullah SAW, beliau tidak suka meriwayatkan hadits, melainkan dari orang-orang yang sungguh dipercaya, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada imam Malik karena keras dan telitiannya memeriksa orang-orang yang meriwayatkan hadits".

Ketelitian beliau dalam menilai Rawi hadits ini pernah dinyatakan oleh imam Ahmad bin Shalih, "Aku belum pernah melihat seorang yang lebih teliti mencari kebersihan orang yang meriwayatkan hadits dan ulama-ulamanya selain Imam Malik.

Imam Yahya bin Mu'in berkata "Imam malik adalah seorang raja bagi orang-orang beriman tentang ilmu hadits, Tidak ada di muka bumi ini seorangpun pada masa itu yang lebih aku percayai tentang hadits Rasulullah SAW selain imam Malik. Sekali-kali saya belum pernah melihat seorangpun yang lebih pandai tentang hadits selain Imam Malik, Sufyan Ats Tsauri adalah imam dalam bidang hadits dan imam Al Auza'iy adalah imam dalam sunnah dan imam malik adalah imam kedua bidang itu."

Imam Malik menyusun kitab hadits yang begitu monumental dengan nama AL MUWATTHA', dalam kitab itu beliau hanya memasukkan hadits-hadits yang dipandang shahih sepanjang penelitian dan penyelidikan beliau. Imam Syafi'i mengatakan : "tidak ada kitab ilmu di bumi yang paling banyak benarnya dari pada kitab Muwatha' Imam Malik."

Sekalipun beliau memiliki ilmu yang begitu luas, beliau sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa. Pernah beliau ditanya empat puluh masalah di Irak, tetapi hanya lima masalah saja yang dapat beliau jawab, selebihnya beliau katakan "Aku belum tahu". Kehati-hatian beliau dalam memberikan fatwa terhadap persoalan yang sampai kepadanya tercermin dalam perkataannya "Aku tidak mengatakan baik" atau "Aku tidak memandang baik". Pernah beliau berkata "Aku tidak akan berfatwa sehingga ada 70 saksi yang mempersaksikan bahwa aku ahli (mengetahui) masalah tersebut."
Dalam memutuskan sesuatu, beliau kembali kepada Al Qur'an dan As Sunnah. Tapi ketika tidak dijumpai dari kedua sumber itu beliau merujuk pada Ijma' para shahabat, jika tidak beliau dapatkan pula beliau putuskan dengan jalan Mashalihul Mursalah dan Istishlah yaitu memelihara tujuan agama dengan cara atau jalan menolak kebinasaan atau mencari kebaikan.

Perbuatan yang dibenci beliau.

Begitu kuatnya beliau memegang teguh agama ini memerikan atsar pada diri beliau dan orang lain. Beliau sangat membenci perbuatan yang baru dalam agama. Perbuatan bid'ah sangat beliau benci. Beliau berkata " Barangsiapa mengada-ada suatu perbuatan baru dalam agama, dan ia menganggap perbuatan itu baik, maka sesungguhnya ia telah menuduh nabi Muhammad SAW telah menyembunyikan risalahnya. "Sebaik-baik urusan agama itu adalah mengikuti sunnah nabi SAW dan sejelek-jelek urusan agama adalah yang diperbuat dengan tidak ada contoh dari nabi SAW, dan tidak pula dikerjakan oleh beliau SAW.
Perbuatan lain yang beliau benci adalah taqlid buta, beliau tidak pernah menganjurkan kepada orang lain untuk mengikuti setiap yang dikatakannya, beliau pernah berkata " Aku ini tidak lain melainkan manusia biasa, bisa salah dan benar, maka lihat dan fikirklah baik-baik pendapat saya. Tiap-tiap yang sesuai dengan Al Qur'an dan As sunnah ambilah, dan setiap yang tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.

Dalam aqidah beliau sangatlah ketat, ketika ada seseorang yang begitu berani menanyakan tentang bagaimana Allah beristiwa' (bersemayam) beliau mengatakan "Allah ada di langit dan mengetahui setiap tempat, Istiwa (bersemayam) itu ma'lum (diketahui) Kaifiyah (bagaimana bersemayamnya Allah) itu majhul (tidak di ketahui). Beriman (bahwa Allah bersemayam) adalah wajib dan Bertanya bagaimana Allah bersemayam hukumnya bid'ah.
Selain dikenal sebagai orang yang alim beliau di kenal dengan ahli ibadah, tidak pernah lepas dari waktunya selain melakukan shalat, dzikir, tilawah Al Qur'an, tadris, beliau tidak pernah lalai berjamaah di masjid. Kezuhudan beliau terhadap dunia begitu besar, beliau mengatakan "Zuhud itu bukan tiada harta, tetapi mengosongkan hari dari padanya."

Layaknya sebuah kebun yang indah, dihiasai beraneka ragam bunga, menebar aroma wewangi ke setiap penjuru. Majlis tempat beliau mengajarkan Al Qur'an, Al Hadits dan Fiqih dan ilmu-ilmu agama yang lain dibanjiri oleh banyak manusia.
Mereka berdesakan, saling mendahului, masing-masing memilih duduk paling depan. Apalagi setelah meninggalnya imam Nafi Maula Ibn Umar, majlis beliau di gantikan oleh Imam Ahmad, maka ramailah manusia mengambil ilmu dari beliau. Diantara murid-murid beliau yang terkenal seperti Ibnul Mubarak, al Qothon, Ibnu Mahdi, Ibnu wahb, Ibnu Qosim, al Qo'nabi, Abdullah bin Yusuf, Said bin Manshur, Yahya bin Yahya, an Naisaburi, Yahya bin Yahya al Andalusi, Yahya bin Bakir, Qutaibah abu Mus'ab, az Aubairi dan Abu Hudzafah as Sahmi.

Pada akhirnya dunia berduka setelah beliau menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 10 rabiul awal tahun 177 H. Tapi pengaruh pendapat-pendapat beliau tersebar luas diberbagai belahan negri Islam seperti di Hijaz, Mesir, Afrika, Maroko, Irak, Palestina, Lybia, Tunisia, Tripoli dll. Semoga amal ibadah beliau dibalas dengan balasan terbaik dari Allah SWT.

Amin. Diambil dari berbagai sumber.






BUKTI KEBENARAN RASULULLAH SAW.




 
Di antara sekian banyak bukti kebenaran Rasulullah Muhammad saw. yang diangkat oleh Allah swt. ialah:

Pertama.
Bahwa Rasulullah saw. adalah seorang yang zuhud di dunia. Beliau sama sekali tidak pernah mengharapkan upah atau balasan atas risalahnya. Demikian juga beliau zuhud dalam hal harta atau segala sesuatu yang boleh kita katakan sebagai kebendaan (materialis), beliau juga zuhud dalam kedudukan, pangkat, ketenaran, ketinggian pangkat dan lain-lain yang berhubungan dengan keduniaan.

Zuhudnya dalam soal harta, jika dilihat dari kebiasaan kehidupannya saja, kiranya sudah dapat menunjukkan hal ini dengan bukti yang sejelas-jelasnya. Beliau tidak menghamparkan hamparan yang terbuat dari sutra, tidak pernah mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra, juga tidak pernah mengenakan hiasan dari emas. Keadaan rumah dan rumah tangganya sebagaimana lazimnya manusia biasa. Malah pernah selama dua bulan, di rumahnya tidak dinyalakan api sama sekali, sebagai tanda bahwa yang dimasak tidak ada. Oleh sebab dua bulan tidak pernah memasak, maka Urwah r.a. pernah bertanya kepada bibinya yakni istri beliau yaitu Aisyah r.a. isi pertanyaan itu berbubungan dengan makanan. Urwah berkata, “Bibiku! Apakah yang dapat bibi gunakan sebagai bahan makanan?” Aisyah menjawab, “Hanya dua benda hitam belaka (aswadan) yakni kurma dan air.”

Pada suatu ketika Umar bin Khattab r.a. melihat Rasulullah saw. tidur di atas selembar tikar yang sudah usang, malah tubuh beliau berbekas garis-garisnya. Umar r.a. lalu menangis. Rasulullah saw. bertanya, “Apa sebabnya engkau menangis?” Umar r.a. berkata, “Bagaimana keadaan Kisra (Maharaja Parsi) dan Kaisar (Maharaja Romawi) sama tidur di atas sutera tebal dan tipis, sedang Tuan sebagai Rasulullah sampai membekas dilambung Tuan hamparan tikar.” Rasulullah saw. lalu bersabda, “Hai Umar! Tidakkah engkau rela jika dunia ini mereka miliki sedang kita akan memiliki akhirat?.”

Terjadi pula peristiwa yang lain yaitu pada suatu hari harta rampasan perang datang kepada Rasulullah saw. setelah kaum muslimin memperoleh kemenangan gilang-gemilang. Para istri beliau ingin sekali mendapatkan sebagian dari harta itu agar dapat meringankan kehidupan yang serba kekurangan. Kemudian mereka bersama-sama meminta kepada beliau agar diberi bagian dari harta rampasan tersebut. Tiba-tiba turunlah sebuah ayat yang mulia yang dengan tegas menolak apa yang mereka inginkan. Ayat yang mulia itu menyebutkan, “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu semua menghendaki kehidupan dan perhiasan dunia, maka marilah Kuberikan kesenangan padamu dan akan kuceraikan kamu dengan cara yang baik. Tetapi jika kamu semua menghendaki Allah dan rasul-Nya serta perumahan di akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan pahala yang besar untuk orang-orang yang berbuat kebaikan dari antaramu’." (Q.S. Al-Ahzab:28-29) Setibanya wahyu tersebut, Rasulullah saw. mengumpulkan seluruh istrinya, lalu bersabda yang maksudnya, apakah kalian lebih menginginkan Allah, rasul-Nya dan perumahan akhirat yang penuh bahagia ataukah lebih mencintai harta keduniaan, serta kesenangan-kesenangan yang sementara. Mereka semua memilih mencintai Allah, rasul-Nya dan kebahagiaan di akhirat. Oleh sebab itu turunlah ayat yang mulia yang merupakan pujian terhadap ketegasan sikap mereka, yaitu, “Hai istri-istri nabi, kamu semua tidaklah seperti wanita-wanita lain. Jika kamu semua takut kepada Allah, janganlah kamu semua tunduk dalam berbicara, sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya berkeinginan, tetapi ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S. Al-Ahzab:32)
Tentang berbicara dengan lemah-lembut yang dilarang untuk para istri nabi saw. karena dapat menimbulkan keinginan nafsu bagi orang-orang yang buruk budi pekertinya atau yang jahat perangainya. Oleh karena itu diperingatkan kepada mereka supaya berkata yang sebenarnya dan dengan tegas dan wajar.

Kezuhudan Rasulullah saw. dapat pula dibuktikan di waktu wafatnya. Ketika wafatnya, baju besinya sedang digadaikan kepada salah seorang Yahudi.

Beliau selama hidupnya belum pernah kenyang sekalipun, dari makanan roti.

Kezuhudan Rasulullah saw. dalam hal kepangkatan, ketinggian derajat dan sebagainya, maka dapat ditinjau dari hal-ihwalnya sehari-hari.

Pada suatu hari para sahabat memuji dan mengelukannya, tetapi bukan makin senang hati beliau melihat sikap mereka tersebut, bahkan menunjukkan rasa tidak senang dan bersabda, “Janganlah kamu semua menyanjung-nyanjung diriku sebagaimana sanjungan yang diberikan oleh kaum Nasrani kepada Almasih (Isa) bin Maryam.”

Suatu ketika Walid bin Mughirah datang kepada beliau sebagai utusan yang dikirim oleh kaum musyrik di Mekah. Maksud utama ialah hendak menawarkan apa saja yang kiranya beliau suka terima asal tidak menyebar-luaskan agama yang dibawanya. Tetapi beliau jawab dengan tegas sekali. Dia bacakan di hadapan utusan itu permulaan surah Hamim/Fushshilat yang ringkasnya tawaran yang bagaimanapun, jika sifatnya hendak menghalang-halangi dakwahnya, pasti ditolak mentah-mentah. Padahal tawaran yang diajukan itu adalah berupa harta, pangkat sebagai raja, wanita dan sebagainya. Inilah kezuhudan yang merupakan salah satu tabiat dari sekian banyak rangkaian akhlak tinggi yang dimiliki oleh Rasulullah saw. itu.

Kedua

Di antara bukti-bukti kebenaran nubuwah Rasulullah saw. ialah bahwa beliau seorang umi yakni tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi sekalipun demikian beliau dapat melaksanakan pekerjaan-pekerjaan besar sebagaimana yang kita saksikan di muka, padahal beliau tidak pernah memasuki sekolah, tidak pernah belajar dari guru. Namun demikian beliau berhasil sekali menunaikan kewajiban dan tugasnya dan dapat mencapai tingkatan yang tidak pernah dicapai oleh orang sebelumnya atau pun sesudahnya.

Alquran sendiri memberikan catatan mengenai hakikat yang sedemikian ini, agar supaya dapat dijadikan pertanda tentang kebenaran beliau serta bukti amanahnya. Allah Taala berfirman, “Begitulah Kami (Allah) wahyukan padamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Engkau dahulunya tidak mengetahui apa kitab itu dan apa pulakah kepercayaan itu. Kami jadikan Alquran cahaya yang terang yang dengannya Kami pimpin orang-orang yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau memberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Yaitu jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, semua perkara kembalinya kepada Allah semata-mata.” (Q.S. Asy-Syura:52-53)

Memang dahulunya Rasulullah saw. juga seperti manusia biasa, tidak mengetahui sedikit pun tentang kenubuwatan dan bahkan tidak dapat sampai kepada Zat Yang Maha Tinggi. Jadi dia memperoleh semua lewat kedua tangannya sebagai mukjizat yang dikaruniakan oleh Allah Taala kepadanya.

Pikirkanlah, betapa banyaknya kaum terpelajar, yang semata-mata mencurahkan perhatian sepanjang usianya untuk mencari ilmu pengetahuan dan penelitian yang ajaib-ajaib, tetapi mereka pasti tidak mampu memperoleh sesuatu yang pernah dicapai oleh Rasulullah saw. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa semua yang disebutkan kenyataannya hanyalah dengan sebab pertolongan dan pengokohan dari Allah swt. belaka.

Alquran menyebutkan, “Dan engkau (Muhammad) sebelum Alquran ini, tidak dapat membaca kitab dan tidak dapat pula menuliskannya dengan tangan kananmu. Andai kata engkau dapat menulis dan membaca, pastilah orang-orang yang mengingkari kebenaranmu akan menjadi ragu-ragu (sebab menyangka bahwa Alquran buatan Muhammad sendiri).” (Q.S. Al-Ankabut:48)

Persoalan keadaan beliau di atas cukup disaksikan oleh para lawan dan musuhnya yang pernah berhadapan dengannya. Hakikat dan kenyataan yang demikian tidak pernah disangsikan oleh siapa pun juga, baik kawan maupun lawan. Jadi kenyataannya ialah bahwa wahyu Alquran tadi bukan ciptaan Muhammad saw. sendiri, sebab jangankan mengarang seperti itu, menulis dan membaca pun tidak bisa. Bukankah ini suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi.

Allah Taala berfirman, “Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, maka orang-orang yang tidak mengharapkan menemui Kami berkata, ‘Kemukakanlah Alquran yang lain dari ini atau rubahlah.’ Katakanlah kepadanya, ‘Tiadalah pbagiku untuk merubahnya dengan kemauan diriku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan padaku.

Sesungguhnya aku takut kepada siksaan hari yang dahsyat kalau aku mendurhakai Tuhanku.’ Katakanlah, ‘Jika Allah menghendaki yang lain, tidaklah ayat ini kubacakan dan tidak pula Dia mengajarkan ayat itu kepadamu. Sesungguhnya seluruh hidupku sebelum (diturunkan Alquran) ini, bersama-samamu, mengapa kamu semua tidak merenungkannya’.” (Q.S. Yunus:15-16)

Ketiga
Ada hal lain yang dapat dijadikan sebagai bukti kebenaran nubuwat       Rasulullah saw., yaitu sifat shidiq (benar) yang dimiliki oleh beliau, yakni tidak pernah berdusta. Perihal benarnya Rasulullah saw. dalam segala ucapan dan kata-katanya ini, telah disaksikan oleh seluruh umat manusia saat itu. Memang belum pernah terlihat sekalipun bahwa beliau berbuat kedustaan, baik sebelum diutus sebagai rasul apa lagi sesudahnya. Ketika beliau pertama kali didatangi oleh wahyu, beliau segera pergi ke tempat istrinya yakni Khadijah dan bersabda, “Sungguh saya takut tentang diriku sendiri ini.” Khadijah berkata kepadanya, “Demi Allah, tentu Allah tidak akan menghinakan Tuan selama-lamanya. Bukankah Tuan selalu benar dalam percakapan, mempererat tali kekeluargaan, menanggung beban kerabat, menjamu tamu, memberikan bantuan pada orang yang kekurangan dan menolong penderita sepanjang masa?”

Rasulullah saw. untuk pertama kali menunjukkan kenabiannya (diangkat sebagai nabi) kepada Abu Bakar r.a. dan mengharapkan padanya supaya ia memeluk agama Islam. Abu Bakar r.a. dengan spontan saja mempercayai.

Apakah yang menyebabkan beliau segera menyatakan keimanannya? Tidak lain hanya karena beliau sudah tahu benar akan sifat shiddiqnya serta amanatnya Rasulullah saw. Sewaktu Rasulullah saw. menunjukkan risalahnya, tampak pula adanya sifat shiddiq itu dalam wajahnya. Pernah pula suatu ketika seorang Arab (orang Arab pedalaman) datang kepada Rasulullah saw. dan baru saja melihat air mukanya, dengan cepat orang tersebut berkata, “Wajah semacam ini, demi Allah, bukanlah wajah seseorang yang suka berdusta.”


Ali bin Abi Thalib



 
Pribadinya
Ayahnya adalah: Abu Thalib, paman Nabi saw, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim, bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, 'Uqail, Ja'far dan Ummu Hani.

Dengan demikian, jelaslah, Ali adalah berdarah Hasyimi dari kedua ibu-bapaknya. Keluarga Hasyim memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang mulia, penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat. Ibunya adalah Fathimah binti Asad, yang kemudian menamakannya Haidarah. Haidarah adalah salah satu nama singa, sesuai dengan nama ayahnya: Asad (singa). Fathimah adalah salah seorang wanita yang terdahulu beriman dengan Risalah Nabi Muhammad Saw. Dia pula-lah yang telah mendidik Nabi Saw, dan menanggung hidupnya, setelah meninggalnya bapak-ibu beliau, Abdullah dan Aminah. Beliau kemudian membalas jasanya, dengan menanggung kehidupan Ali, untuk meringankan beban pamannya, Abu Thalib, pada saat mengalami kesulitan ekonomi. Saat Fathimah meninggal dunia, Rasulullah Saw yang mulai mengkafaninya dengan baju qamisnya, meletakkannya dalam kuburnya, dan menangisinya, sebagai tangisan seorang anak atas ibunya. Dan bersabda:

"Semoga Allah SWT memberikan balasan yang baik bagi ibu asuhku ini. Engkau adalah orang yang paling baik kepadaku, setelah pamanku dan almarhumah ibuku. Dan semoga Allah SWT meridhai-mu."

Dan karena penghormatan beliau kepadanya, maka beliau menamakan anaknya yang tersayang dengan namanya: Fathimah. Darinyalah kemudian mengalir nasab beliau yang mulia, yaitu anak-anaknya: Hasan, Husein, Zainab al Kubra dan Ummu Kultsum.

Haidarah adalah nama Imam Ali yang dipilihkan oleh ibunya. Namun ayahnya menamakannya dengan Ali, sehingga dia terkenal dengan dua nama tersebut, meskipun nama Ali kemudian lebih terkenal.

Anak-anaknya adalah: Hasan, Husein, Zainab, Ummu Kultsum, dari Fathimah binti Rasulullah Saw. Seorang isteri yang tidak pernah diperlakukan buruk oleh Ali r.a. selama hidupnya. Bahkan Ali tetap selalu mengingatnya setelah kematiannya. Ia juga mempunyai beberapa orang anak dari isteri-isterinya yang lain, yang ia kawini setelah wafatnya Fathimah r.a. Baik isteri dari kalangan wanita merdeka maupun hamba sahaya. Yaitu: Muhsin, Muhammad al Akbar, Abdullah al Akbar, Abu Bakar, Abbas, Utsman, Ja'far, Abdullah al Ashgar, Muhammad al Ashghar, Yahya, Aun, Umar, Muhammad al Awsath, Ummu Hani, Maimunah, Rahmlah ash Shugra, Zainab ash Shugra, Ummu Kaltsum ash Shugra, Fathimah, Umamah, Khadijah, Ummu al Karam, Ummu Salmah, Ummu Ja'far, Jumanah, dan Taqiyyah.

Keturunannya yang mulia, selanjutnya mengalir dari Hasan, Husain, Muhammad bin Hanafiah, Umar dan Abbas. Karena kecintaan dan penghormatannya yang mendalam terhadap sahabat Nabi yang mulia, dan yang telah dijanjikan masuk surga, maka ia menamakan beberapa orang anaknya dengan nama-nama mereka, yaitu: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Abu Bakar, anaknya, terbunuh bersama Husain dalam peristiwa Karbala. Anak ini merupakan anak dari isterinya, Laila bin Mi'waz. Sementara anaknya Utsman yang dilahirkan dari isterinya Ummu Banin, juga terbunuh dalam perisitwa Karbala. Sedangkan Umar adalah anaknya dari Ummu Habib ash Shahba.

Saat imam Ali mendapatkan mati syahid, ia meninggalkan empat orang isteri yang merdeka, yaitu: Umamah, Laila, Ummu Banin dan Asma bin 'Umais. Serta delapan belas orang hamba sahaya wanita.

Jumlah seluruh anak lakinya adalah lima belas orang, dan anak perempuannya adalah delapan belas orang.

Kelahirannya
Fathimah binti Asad melahirkan anaknya, Haidarah (Ali KW), di Ka'bah, pada dua puluh satu tahun sebelum hijrah. Ada yang mengatakan, pada tahun ke tiga puluh dua dari kelahiran Rasulullah saw. Ia adalah anak bungsu dari kedua orang tuanya, selain Ja'far, Uqail dan Thalib. Saat Abu Thalib mengalamai krisis ekonomi karena kekeringan yang melanda, seperti yang dialami oleh orang-orang Quraisy, Rasulullah saw menyarankan kepada kedua pamannya: Hamzah dan Abbas untuk turut membantu meringankan beban saudaranya, Abu Thalib, dengan menanggung biaya hidup anaknya. Maka keduanya pun memenuhi permintaan tersebut. Mengetahui hal itu, Abu Thalib berkata kepada kedua saudaranya tersebut,: "Ambillah siapa yang kalian ingini, namun tinggalkanlah Uqail, untuk tetap aku didik." Uqail adalah anak yang paling disayangi oleh Abu Thalib. Maka Abbas mengambil Thalib, Hamzah mengambil Ja'far dan Rasulullah saw mengambil Ali KW.

Adalah Nabi Saw bagi anak keponakannya, Ali KW, bertindak sebagai bapak, saudara, teman, dan guru pendidik. Dan Ali pun menerima beliau pengganti kedua orang tua, dan keluarganya. Sehingga ia pun terdidik dalam didikan Nabi Saw. Ia Merupakan keturunan puncak keluarga Hasyimiah, yang darinya terlahir kemuliaan, kedermawanan, sifat pemaaf, ksaih sayang dan hikmah yang lurus.

Seperti diriwayatkan, ia tumbuh menjadi anak yang cepat matang. Di wajahnya tampak jelas kematangannya, yang juga menunjukkan kekuatan, dan ketegasan. Saat ia menginjak usia pemuda, ia segera berperan penuh dalam dakwah Islam, tidak seperti yang dilakukan oleh pemuda seusianya. Contoh yang paling jelas adalah keikhlasannya untuk menjadi tameng Rasulullah Saw saat beliau hijrah, dengan menempati tempat tidur beliau. Ia juga terlibat dalam peperangan yang hebat, seperti dalam perang Al Ahzab, dia pula yang telah menembus benteng Khaibar. Sehingga dia dijuluki sebagai pahlawan Islam yang pertama.

Isteri-isterinya: setelah Fathimah az Zahra wafat, Imam Ali menikahi Umamah bin Abi Al Ash bin Rabi' bin Abdul Uzza al Qurasyiyyah. Selanjutnya menikahi Umum Banin bini Haram bin Khalid bin Darim al Kulabiyah. Kemudian Laila binti Mas'ud an Nahsyaliyyah, ad Daarimiyyah dari Tamim. Berikutnya Asmaa binti 'Umais, yang sebelumnya merupakan isteri Ja'far bin Abi Thalib, dan selanjutnya menjadi isteri Abu Bakar (hingga ia meninggal), dan berikutnya menjadi isteri imam Ali. Selanjutnya ia menikahi Ummu Habib ash Shahbaa at Taghalbiyah. Kemudian, Khaulah binti Iyas bin Ja1far al Hanafiyyah. Selanjutnya Ummu Sa'd ats Tsaqafiyyah. Dan Mukhabba'ah bintih Imri'il Qais al Kulabiyyah.

Sifat-sifatnya: Imam Ali KW adalah seorang dengan perawakan sedang, antara tinggi dan pendek. Perutnya agak menonjol. Pundaknya lebar. Kedua lengannya berotot, seakan sedang mengendarai singa. Lehernya berisi. Bulu jenggotnya lebat. Kepalanya botak, dan berambut di pinggir kepala. Matanya besar. Wajahnya tampan. Kulitnya amat gelap. Postur tubuhnya tegap dan proporsional. Bangun tubuhnya kokoh, seakan-akan dari baja. Berisi. Jika berjalan seakan-akan sedang turun dari ketinggian, seperti berjalannya Rasulullah Saw. Seperti dideskripsikan dalam kitab Usudul Ghaabah fi Ma'rifat ash Shahabah: adalah Ali bin Abi Thalib bermata besar, berkulit hitam, berotot kokoh, berbadan besar, berjenggot lebat, bertubuh pendek, amat fasih dalam berbicara, berani, pantang mundur, dermawan, pemaaf, lembut dalam berbicara, dan halus perasaannya.

Jika ia dipanggil untuk berduel dengan musuh di medan perang, ia segera maju tanpa gentar, mengambil perlengkapan perangnya, dan menghunuskan pedangnya. Untuk kemudian menjatuhkan musuhnya dalam beberapa langkah. Karena sesekor singa, ketika ia maju untuk menerkam mangsanya, ia bergerak dengan cepat bagai kilat, dan menyergap dengan tangkas, untuk kemudian membuat mangsa tak berkutik.

Tadi adalah sifat-sifat fisiknya. Sedangkan sifat-sifat kejiwaannya, maka ia adalah sosok yang sempurna, penuh dengan kemuliaan.

Keberaniannya menjadi perlambang para kesatria pada masanya. Setiap kali ia menghadapi musuh di medan perang, maka dapat dipastikan ia akan mengalahkannya.

Seorang yang takwa tak terkira, tidak mau masuk dalam perkara yang syubhat, dan tidak pernah melalaikan syari'at.

Seorang yang zuhud, dan memilih hidup dalam kesederhanaan. Ia makan cukup dengan berlauk-kan cuka, minyak dan roti kering yang ia patahkan dengan lututnya. Dan memakai pakaian yang kasar, sekadar untuk menutupi tubuh di saat panas, dan menahan dingin di kala hawa dingin menghempas.

Penuh hikmah, adalah sifatnya yang jelas. Dia akan berhati-hati meskipun dalam sesuatu yang ia lihat benar, dan memilih untuk tidak mengatakan dengan terus terang, jika hal itu akan membawa mudharat bagi umat. Ia meletakkan perkara pada tempatnya yang tepat. Berusaha berjalan seirama dengan rekan-rekan pembawa panji dakwah, seperti keserasian butiran-butiran air di lautan.

Ia bersikap lembut, sehingga banyak orang yang sezaman dengannya melihat ia sedang bergurau, padahal hal itu adalah suatu bagian dari sifat kesempurnaan yang melihat apa yang ada di balik sesuatu, dan memandang kepada kesempurnaan. Ia menginginkan agar realitas yang tidak sempurna berubah menjadi lurus dan meningkat ke arah kesempurnaan. Gurauan adalah 'anak' dari kritik. Dan ia adalah 'anak' dari filsafat. Menurutku, gurauan yang tepat adalah suatu tanda ketinggian intelektualitas para tokoh pemikir dalam sejarah.

Ia terkenal kefasihannya. Sehingga ucapan-ucapannya mengandung nilai-nilai sastra Arab yang jernih dan tinggi. Baik dalam menciptakan peribahasa maupun hikmah. Ia juga mengutip dari redaksi Al Quran, dan hadits Rasulullah Saw, sehingga menambah benderang dan semerbak kata-katanya. Yang membuat dirinya berada di puncak kefasihan bahasa dan sastra Arab.

Ia amat loyal terhadap pendidiknya, Nabi-nya, juga Rabb-nya. Serta berbuat baik kepada kerabatnya. Amat mementingkan isterinya yang pertama, Fathimah az Zahra. Dan ia selalu berusaha memberikan apa yang baik dan indah kepada orang yang ia senangi, kerabatnya atau kenalannya.

Ia berpendirian teguh, sehingga menjadi tokoh yang namanya terpatri dalam sejarah. Tidak mundur dalam membela prinsip dan sikap. Sehingga banyak orang yang menuduhnya bodoh dalam politik, tipu daya bangsa Arab, dan dalam hal melembutkan sikap musuh, sehingga kesulitan menjadi berkurang. Namun, sebenarnya kemampuannya jauh di atas praduga yang tidak benar, karena ia tahu apa yang ia inginkan, dan menginginkan apa yang ia tahu. Sehingga, di samping kemanusiaannya, ia seakan-akan adalah sebuah gunung yang kokoh, yang mencengkeram bumi. Itu emua adalah cermin dari percaya dirinya, keimanannya, dan keyakinanya terhadap Rabb-nya, lantas bagaimana mungkin ia menjadi lembek?

Ia dengan teguh menolak sikap yang tidak sesuai dengan kebenaran, atau syari'ah, atau akhlak atau kemuliaan. Jiwanya yang mulia menolak untuk menipu seorang gubernur yang senang berkuasa, dan yang menghamburkan kekayaan umat untuk kepentingan hamba nafsunya. Ia tidak tidak peduli dengan orang yang membenci, atau orang yang memusuhinya. Menurutku, ia adalah sifat orang yang kuat, baik dalam kepribadiaannya, pendapatnya dan dalam memegang kebenaran.

Barangkali ada yang berpikir bahwa ia telah bersikap lunak dalam peristiwa tahkim (arbitrase). Namun menurutku, dugaan seperti itu adalah suatu kebodohan. Imam Ali KW tidak bersifat lembek, namun ia lebih mementingkan persatuan umat. Karena orang-orang yang ikut bersidang saat itu sedang berada dalam kubu-kubu yang saling berbeda pendapat. Maka ia memilih untuk keluar dari kondisi terburuk menuju kondisi yang buruk. Ia telah menegaskan hal itu, dan memberi peringatan kepada para pengikutnya. Namun ternyata orang-orang yang berada di sekitarnya tenggelam dalam perdebatan tanpa ujung dan pertikaian tanpa henti. Sehingga terjadilah peristiwa-peristiwa yang memilukan.

Rasa kasih sayang dalam hatinya-lah yang mendorong dirinya untuk bersikap lunak dan tidak keras. Hal itu ia lakukan karena ingin menyelamatkan orang lain, sehingga ia rela meletakkan dirinya dalam bahaya. Ia rela untuk menebus nyawa orang yang ia kasihi, atau kelompok orang yang beriman, atau beberapa orang yang sedang diincar oleh musuh, dengan nyawanya. Sehingga diapun bersikap lunak, dan meminta jalan yang lebih baik. Agar kasih sayang mengalahkan kecemburuan, kecintaan mengalahkan kekerasan, dan menjauhkan orang-orang yang ia sayangi dari kebinasaan. Orang yang membaca apa yang ia pinta kepada Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Abdullah, niscaya akan mengetahui bahwa keduanya telah menghianatinya, dan memeranginya. Maka iapun mengecam keduanya, dengan kecaman seorang penyayang terhadap orang yang ia sayangi. Ia mengingatkan keduanya tentang janji-janji yang pernah mereka ucapkan, dan kebersamaan mereka dalam menegakkan kalimat Allah SWT. Apa yang ia lakukan saat terjadi bentrokan yang terjadi antara dirinya dan Aisyah menjadi bukti akan ketinggian sifat kasih sayangnya, kemuliaan perasaannya, dan usahanya yang keras untuk memadamkan tanda-tanda ambisi rendahan, yang tidak layak bagi tokoh besar seperti dirinya, juga bagi tokoh mulia semacam Aisyah r.a. Oleh karena itu, ia berusaha melakukan negosiasi yang hanya dapat dilakukan oleh orang besar semacam dirinya, yaitu para mujahidin yang mulia.

--------------------------------------------------------------------------------Dari buku: Khutbah-khutbah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA.
Judul Asli: Khuthab Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib RA.
Pensyarah: Imam Muhammad Abduh
Penerbit: Maktabah Shahaafah, Kairo, tt.
Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani, Sulthoni Yusuf dan Masnur Hamzah
Edisi bahasa Indonesia akan diterbitkan oleh Gema Insani Press.