Selasa, 06 Mei 2014

kebudayaan dusun LBR


TUGAS KERTASEN

OBSERVASI DAN SURVEI DI DUSUN LENDANG BAJUR









Oleh
Muhammad Deni
151 129 158


JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

 

Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dan shalawat dan senantiasa terlimpahkan kepada hamba dan utusan Allah SWT, Nabi Muhammad bin ‘Abdillah SAW beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.
       Dalam proses penulisan makalah ini, kelompok kami mengucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah banyak membantu dalam proses penyusunan sehingga penyelesaian makalah ini. Keterbatasan akan pengetahuan dan kemampuan kelompok kami menjadi kendala dalam kesempurnaan penyusunan makalah ini. Walaupun makalah ini masih jauh dari sempurna maka dari itu kami sangat membutuhkan partisipasi anda untuk sekiranya dapat memberikan kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan guna memperbaiki kesalahan dimasa mendatang.
       Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan pada umumnya dan khusus bagi pendidikan Islam di kalangan Remaja dan Mahasiswa.

                                                                                                       Mataram, 18 November 2013

                                                                                                                        Penulis


Daftar Isi

Halaman Judul
Kata Pengantar.................................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang......................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah.................................................................................................... 2
C.     Tujuan...................................................................................................................... 2

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Budaya.................................................................................................. 3
B.     Budaya atau Adat Istiadat Dusun Lendang Bajur.................................................. 4
C.     Aspek Ekonomi....................................................................................................... 8
D.    Aspek Sosial............................................................................................................ 8

BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan.................................................................................................................. 10
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran



BAB I
PENDAHULUAN
I.I      Latar Belakang
Manusia dalam kesehariannya tidak akan lepas dari kebudayaan, karena manusia adalah pencipta dan pengguna kebudayaan itu sendiri. Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan kadang kala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.
Hubungan yang erat antara manusia (terutama masyarakat) dan kebudayaan telah lebih jauh diungkapkan oleh Melville J. Herkovits dan bronislaw Malinowski, yang mengemukakan bahwa cultural determinism berarti segala sesuatu yang terdapat didalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu. (Soemardjan, Selo: 1964: 115). Kemudian Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang superorganic. Karena kebudayaan berturun temurun dari generasi ke generasi tetap hidup. Walaupun manusia yang menjadi anggota masyarakat sudah berganti karena kelahiran dan kematian.
Lebih jauh dapat dilihat dari definisi yang dikemukakan oleh E. B. Tylor (1871) dalam bukunya Primitive Culture: kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan lain perkataan, kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku normative. Oleh karena itu, manusia yang mempelajari kebudayaan dari masyarakat, bisa membangun kebudayaan (konstruktif) dan bisa juga merusaknya (destruktif).

I.II    Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Budaya?
2.      Bagaimana Adat Istiadat atau Budaya Dusun Lendang Bajur?
3.      Bagaiman Aspek Ekonomi Masyarakat Lendang Bajur?
4.      Bagaiman Aspek Sosial Masyarakat Lendang Bajur?
I.III   Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian budaya itu sendiri.
2.      Untuk mengetahui bagaimana Adat Istiadat atau Budaya masyarakat Lendang Bajur.
3.      Untuk mengetahui bagaimana cara memenuhi kebutuhan atau perekonomian  masyarakat lendang bajur.
4.      Untuk mengetahui masih ada rasa solidaritas dan toleransi sesama masyarakat Lendang Bajur.

5.       
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, pakaian, bahasa, dan seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
B.       Budaya atau Adat Istiadat Dusun Lendang Bajur
1.      Sistem Teknologi
Bangunan rumah di lingkungan Lendang Bajur, berjejer dan jaraknya tidak terlalu jauh selayaknya seperti gubuk. Hampir semua jalannya tidak terlalu bagus, dan jarang memakai aspal dikarenakan banyak rumah penduduk dan anak-anak yang bermain. Sebagian besar rumahnya berdinding tembok yang terbuat dari batu bata, pasir dan semen. Dan atapnya menggunakan genteng, namun tidak terlalu banyak rumah yang masih berdinding dengan pagar dan atap jerami. Di sana juga terdapat pegunungan. Banyak tanam-taman seperti Jot, Mangga, kelapa dll.
2.      Sistem Kepercayaan dan Sosial
Sebagian besar masyarakat Lendang Bajur menganut agama Islam, mereka juga sering mengadakan acara-acara keagamaan diantaranya:
a.    Maulid Nabi Muhammad SAW
Masyarakat disana ketika akan merayakan maulid Nabi saw, seluruh RT dan Ramaja di kumpulkan untuk membuat panitia maulid. Disana juga membahas uang sumbangan bagi setiap perkeluarga dan bisa juga buah-buahan.
Setelah pembentukan panitia, panitia mengadakan lomba-lomba yang berkaitan dengan ke Islaman. Lomba diantaranya azan, membaca sifat 20, Cerdas Cermat, tahfizul qur’an dan lain-lain.
b.    Malam Takbiran
Masyarakat disana merayakan malam tersebut dengan menyalakan lampu-lampu yang terbuat dari bambu yang diberi sumbu dari kambut dan diisi dengan minyak tanah.Selain itu, mereka juga mengadakan takbiran dengan mengumpulkan anak-anak, remaja maupun dewasa untuk, melaksanakan takbiran, kemudian mereka mengelilingi Desa Gunungsari sambil membaca takbir dan memukul beduk.


c.    Acara Melahirkan
Ketika wanita hendak melahirkan, maka suaminya segera mencari belian yang merupakan orang yang mengetahui seluk beluk peristiwa tersebut. Dalam melahirkan anaknya.Sesudah lahir, maka ari-ari diperlakukan sama seperti memperlakukan sang bayi, karena menurut mereka ari-ari merupakan saudara bayi. Oleh sebab itu, ari-ari mendapat perawatan khusus, setelah dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam kemek. Kemudian  ditanam di depan rumah dengan diberi tanda gundukan.
d.   Pemberian Nama Bayi (perak api)
Pemeberian nama bayi atau biasa disebut dengan pedak api,  hal ini dilakukan setelah pemotongan tali pusar bayi.
e.    Pemotongan Rambut Bayi (ngurisan)
Pemotongan rambut bayi atau biasa disebut dengan ngurisan, acara ini dilakukan karena rambut yang tidak bagus dari lahir. Dalam acara ini, keluarga yang bersangkutan mengadakan selamatan dengan mengundang orang-orang untuk membacakan srakalan. Biasanya seorang laki-laki atau ayahnya  menggendong bayi tersebut, dan jalan mengelilingi orang-orang yang sedang membacakan srakalan serta masing-masing yang hadir memotong sedikit rambut bayi.
f.     Berkhitan
Menjelag dewasa anak laki-laki harus menjalani suatu upacara untuk mengantarkan kedewasaannya . upacara tersebut adalah bersunat atau berkhitan dan biasa juga disebut nyunatan, nyunatan ini merupakan hal yang wajib dilakukan oleh pemeluk agama silam.
g.    Menikah (merariq)
Ketika malam dilarikannya seorang wanita. Setelah beberapa hari, keluarga laki-laki mengutus dua atau tiga orang untuk kerumah si perempuan untuk memberitahu sekaligus melakoq (meminta), acara melakoq ini membahas tentang berapa maskawin dan uang pengatong (pengantar kepada keluarga perempuan). Setelah mandapatkan kesepakatan, barulah mereka mengadakan akad nikah. Setelah melakukan akad nikah, dan dilanjutkan dengan nyongkolan, dan para warga ikut serta untuk meramaikan acara tersebut. Sebelum acara nyongkolan, pada pagi harinya  diadakan acara begawe, acara ini dilakukan dengan mengundang tamu gubuk atau kerabat untuk makan bersama, kurang lebih seperti acara selamatan. Kemudian  pada sore harinya barulah diadakan acara nyongkolan, acara ini dilakukan dengan mengunjungi rumah perempuan dengan diiringi oleh laki-laki yang menggunakan pakaian kebaya serta diiringi dengan music kecimol atau gendang beleq. Tetapi kebanyakan di Desa saya kebudayaan nyongkolan sudah berkurang karena nyongkolan sudah menyimpang dari ajaran Islam to sendiri.
Adapun larangan-larangan atau sanksi-sanksi yang ada di desa jempong kecamatan Ampenan adalah sebagai berikut:
a)      Jika seorang wanita yang keluar sampai jam 22.00 malam maka dia tidak diterima oleh keluarganya maka wanita tersebut harus menikah.
b)      Kalau ada wanita yang hamil di luar nikah maka wanita tersebut harus dinikahkan secepat mungkin.
Akan tetapi larangan yang pertama sekarang sering sekali tidak diperhatikan karena diakibatkan oleh perkembangan zaman. Padahal banyak yang orang sudah melanggarnya tapi kenapa kepala kampungnya tidak mengambil tindakan.
Menurut kepala Kadus Lendang Bajur “peraturan itu sebenernya sudah diterapkan dan kalok ada yang melanggarnya akan diberikan sanksi atas apa yang dia langgar”. “Sebenernya peraturan itu untuk di taati bukan dilanggar, tapi kebanyakan pemuda-pemuda sekarang itu ingin melanggarnya agar dia cepat dinikahi”. Kenapa dia ingin melanggarnya, dikarenakan dia sudah kebelet untuk nikah dengan orang yang dia sayangi meskipun dia tidak ada uang. Ujar Opan sebagai Co. Kemasyarakan Lendang Bajur.
h.      Kematian
Sebagaimana kita ketahui bahwa Allah menciptakan sesuatu  yang ada didunia ini pasti berpasang-pasangan begitupun dengan kehidupan pasangannya yaitu kematian. Pengertian hidup  itu bisa kita lihat Hidup ialah pertalian antara roh dan badan serta hubungan interaksi antara keduanya. Atau hidup adalah suatu sifat yang dengan sifat itu sesuatu menjadi berpengetahuan dan memiliki kekuatan. Jadi, hidup itu merupakan sumber kenikmatan, sebab dengan adanya hidup maka seseorang dapat merasakan kenikmatan dan tanpa kehidupan maka tidak seseorang pun dapat menikmati arti kehidupan di dunia serta merasakan pembalasan baik dan buruk di akhirat nanti.
Sebagaimna Rasulullah SAW telah bersabda yang bersumber dari Abu Darda’: “sekiranya tidak karena tiga perkara, tidak ada anak Adam yang menundukkan kepalanya, yaitu kekafiran, sakit dan kematian. Akan tetapi di samping itu ada pahala”.
Karena itu, maka manusia tidak boleh menjadikan dunia ini sebagai tanah air dan tempat tinggal selamanya, tetapi hendaklah ia laksanakan bagai seseorang yang merantau yang segera bersiap-siap meneruskan perjalanannya.
Sedangkan Mati ialah terputusnya hubungan roh dengan lahir batin, perpisahan antara keduanya, pergantian dari yang satu keadaan kepada keadaan lain. mati berbeda dengan tidur, karena tidur berupa terputusnya roh sementara dengan hubungan-hubungan lahiriah. Firman Allah SWT, yang artinya;
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang)  yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskannya jiwa yang lain sampai waktu yang di tentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kamu yang berfikir. (QS az Zumar. 39:42).
Akan tetapi saya disini membahas tentang adat apa saja yang dilakukan ketika ada seseorang yang meninggal (mati)
Di Dusun Lendang Bajur Desa Gunungsari  jika ada orang meninggal ada yang di namakan nyiwak disebut dengan nyiwak karena hari kesembilan meninggalnya. Kemudian ada juga disebut metangdase disebut metangdase karena hari ke 40 meninggalnya, kemudian ada juga disebut nyatus. Setelah nyiwak, roah, metangdase, dan nyatus ada juga disebut nyelametan. Nyelametan ini dilakukan jikalau kelurga dari orang yang meninggal memiliki biaya jika tidak mempunyai bianya, maka tidak melakukannya.
C.    Aspek Ekonomi
Dari segi perekonomian, saya melihat masyarakat di desa saya sendiri yaitu Lendang Bajur yang berhubungan dengan, pertukaran dan konsumsi barang dan jasa. Di desa saya ini, sebagian besar bermata pencahariaan sebagai pedagang, pembuatan poteng dan buruh .
Menurut ibu Zubaidah “ jeri pedagang wah te susah wah te seneng” wah ne maik wah ne nyakit. Penghasilan perhari yang di peroleh ibu Zubaidah sekitar Rp. 250.000,- paling banyak dan paling sedikit sekitar Rp. 100.000,-.  Wah ne luek dengan belanje wah ne sekedik, kance girang dek rak dengan belanje” ujar pak Udi pemilik warung. Penghasilan yang diperoleh perharinya Rp. 500.000,- dan kadang-kadang bisa mencapai kurang dari jumlah tersebut.
Menjadi buruh memerlukan tenaga yang banyak dan fisik yang kuat. Menurut pak Rudi “ lamun te jari buruh no paling gampang ato molah, sengak arak sekek perluang ne kuat doang”. “jeri buroh no sekedik meukne kepeng, padahal jari buroh ni pegaweang sik mulie” ujar pak Itek.
Jadi dari data di atas bahwa jadi seorang pedagang maupun buruh itu ada sedih dan ada bahagianya, ada sakit dan ada pula senengnya. Pilihlah pekerjaan yang halal meskipun sedikit asalkan dengan keringat kita sendiri, dari pada banyak pengahasilan hanya bisa menyengsarakan orang.
D.    Aspek Sosial
Dalam aspek sosial, proses-proses social dan perubahan-perubahan social yang terjadi di masyarakat, seperti yang kita ketahui bahwa dalam pelajaran sosiologi memiliki tujuan untuk mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, memiliki kesadaran terhadap nilai-nilai dan kemanusiaan serta memiliki kemampuan berkomunikasi, dan bekerjasama dalam masyarakat yang majemuk. Terkait dalam hal ini, dari hasil observasi yang telah saya lakukan bahwa sikap kerjasama sudah berkurang yang diterapkan baik itu dalam hal gotong royong, begawe dan lain-lain. Dikarenakan bahwa jarang sekali namanya tegur asapa antar individu dengan individu.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam Aspek perekonomian atau ekonomi masyarakat lingkungan Lendang Bajur Desa Gunungsari kecamatan Gunungsari ini bermata pencaharian Buruh, dan bermata pencaharian sebagai pedagang, akan tetapi diantara ke dua mata pencaharian diatas yang hasilnya paling banyak adalah bermata pencaharian sebagai pedagang. Kemudian dalam aspek sosial sifat kerja sama dalam gotong royong lum bisa diterapkan di dusun Lendang Bajur ini baik dalam hal kerja bakti, atau yang lainnya. Sedangkan dalam Aspek Budaya atau adat istiadat ini masyarakat lingkungan Lendang Bajur ini dalam adat perkawinan tidak terlalu diperhatikan karena disebabkan oleh perkembangan zaman dan dalam adat kematian atau orang meninggal masyarakat di desa ini masih tetap menggunakan adat seperti biasanya.



Daftar Pustaka
Notowidagdo Rohiman, 2000. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, Jakarta; PT Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar