Minggu, 11 Mei 2014

PRINSIP-PRINSIP QUANTUM TEACHING DALAM PEMBELAJARAN AQIDAH



BAB II
PEMBHASAN

A.    Pengertian Quantum Teaching (QT)
Quantum Teacing adalah ilmu pengetahuan dan metodologi yang digunakan dalam rancangan, penyajian dan fasilitas super camp yang di ciptakan berdasarkan teori-teori pendidikan seperti Eccelerated Learning (luzanov), Mutiple Intellegence (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Ginder Dan Bandler), Experiental  Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson And Jonson), Dan Elemen Of Effective Intruction (Hunter).
Selain itu, Quantum Teaching juga dapat di artikan sebagai pendekatan pengajaran untuk membimbing peserta didik agar mau belajar.[1] Quantum Teaching yang di bangun berdasarkan dari teori tersebut mencakup tujuh spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses belajar. Quantum Teacing bersandar pada konsep “bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.[2]
Melalui Quantum Teaching ini, seorang guru yang akan mengaruhi kehidupan mereka. Anda memahami sekali, bahwa setiap murid anda memiliki   karkter masing-masing sebagai mana alat musik seperti seruling dan gitar, memiliki suara yang berbeda.[3]
B.     Prinsip – prinsip dalam Quantum Teaching
Quantum Teaching juga memiliki lima atau kebenaran tetap. Serupa dengan asas utama, sebagaimana di sebutkan diatas, prinsip-prinsip ini memengaruhi seluruh aspek Quantum Teching. Prinsip tersebut ada lima yaitu: 1.) segalanya berbicara, 2.)segalanya bertujuan, 3.) pengalaman sebelum pemberian nama, 4.) akui setiap usaha, 5.) jika layak di pelajari, maka layak pula di rayakan.[4]
Dalam pelaksanaannya, Quantum Teaching melakuan langkah-langkah pengajaran dengan 6 langkah yang tercermin dalam istilah tandur yag merupakan singkatan dari tumbuhkan, alami, namai, demontrasikan, ulangi dan rayakan. yang di maksud dengan  Tumbuhkan  adalah tumbuhkan minat dengan memuaskan, yakni  apakah manfaat pelajara tersebut bagi guru dan murid.sedangkan yang di maksud dengan Alami  adalah  ciptakan  dan  datangkan  pengalaman umum yang dapat di mengerti semua pelajaran. Kemudian yang di maksud dengan  Namai  maksudnya harus di sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, dan strategi yang kemudian menjadi sebuah masukan bagi si anak. sedangkan yang di maksud dengan Demontrasikan adalah hendaknya di sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka itu tahu. Kemudian yang di maksud dengan Ulangi adalah runjukkan pada para pelajar tentang cara-cara mengulangi materi dan menegaskan : bahwa aku tahu bahwa aku memang tahu  ini. Selanjutnya yang di maksud dengan rayakan adalah pemberian pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi,  dan perolehan  dan dan perolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.   
Dari kerangka konseptual tentang langkah-langkah pengajaran dalam teaching tersebut terdapat empat ciri sebagai berikut,1.) adanya unsur demokrasi dalam  pengajaran.dalam Quantum Teaching hal ini terihat bahwa dalam Quantum Teaching terdapat unsur kesempatan yang luas kepada seluruh para siswa untuk terlibat aktif dan partisipasi dalam tahapan-tahapan kajian terhadap suatu mata pelajaran.2.) sebagai akibat dari ciri yang pertama maka memungkinkan tergali dan terepresikannya seluruh potensi dan bakat yang terdapat pada diri anak. 3.) adanya kepuasan pada diri si anak.hal ini terihat dari adanya pengkuan terhadap penemuan dan kemampuan yang di tunjukkan oleh si anak secara proposional.4.) adanya unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu keterampilan yang di ajarakan.hal ini terlihat dari adanya pengakuan terhadap sesuatu yang sudah di kuasai anak. 5.) adanya unsur kemampuan pada seorang guru dalam merumuskan temuan yang di hasilkan si anak, dalam bentuk konsep, teori, model dan sebagainya.
Dengan di terapkannya prinsip-prinsip dan langkah-langkah yang terdapat di Quantum Teaching, maka suasana belajar akan terlihat dinamis, demokratis, menggairahkan dan menyenangkan anak didik, sehingga mereka dapat bertahan berlama-lama dalam ruangan tanpa mengenal lelah atau bosan. Selain itu, Quantum Teaching tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan atau nilai-nilai kepada anak didik,melainkan juga memberikan pengalaman,keterampilan proses dan metodologi dalam mencapai tujuan tersebut.
Metode pengajara dalam bentuk Quantum Teaching tampak lebih konprehensip di bandingkan dengan berbagi metode pengajaran yang telah ada sebelumnya.dengan kata lain bahwa dalam Quantum Teaching terkandung beberapa macam metode pengajaran yang di olah menjadi satu, seperti metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, penugasan, studi banding, pemecahan masalah, simulasi, eksperimen, proyek dan lain sebagainya. berbagai metode pengajaran ini satu dan lainnya saling berhubungan dan membentuk Quantum Teaching.
Selain itu, Quantum Teaching juga dekat dengan pengajaran siswa aktif atau pengajaran CBSA yang telah diuraikan sebelumnya pada bab terdahulu. Dengan CBSA, para siswa diharapkan tiadak hanya mampu dan trampil dalam memahami dan mempraktikkan teori, melainkan juga diharapkan memiliki keterampilan proses dan metode dalam menemukan dan memecahakan masalah. Dengan demikian, pengajaran tidak hanya ditunjukkan semata-mata dalam penguasaan materi atau (subject materorientasi ) melainkan juga memiliki penguasaan terhadap metedologi belajar yang kreatif dan inofativ. Dengan kata lain, bahwa seorang peserta didik diharapkan tidak hanya memeperoleh sesuatu yang siap untuk di cerna, melainkan memiliki cara untuk mendapatkan sesuatu itu, sehingga pada saat kehilangan sesuatu dapat kembali menemukannya. Hal sejalan dengan pendapat Ali syari’ati yang mengatakan bahwa seorang boleh saja kehilangan atau lupa terhadap sesuatu, namun ia tidak boleh kehilangan atau lupa cara, atau metode untuk mendapatkan sesuatu itu.[5]
Melalui pengajaran CBSA sebagaimana tersebut di atas,seorang siswa di harapkan dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, kreatif, inovatif, dan kritis. cara pengajaran seperti ini di tawarkan untuk menggantikan metode pengajaran yang sebelumnya yang cendrung terpusat pada guru ( teacher centris) dan kurang berpusat pada murid (student centris) atau yang lebih di kenal dengan istilah DDCH (Datang, Dengan, Catat, dan Hapal). Metode  DDCH ini di pandang kurang mampu menggali potensi anak didik dan menyebabkan anak didik kurang kreatif.dengan pendekatan CBSA ini tampak sudah tercakup dalam metode pengajaran yang menggunakan pendekatan Quantum Teching.
Sehubngan dengan hal   tersebut di atas,  maka seorang guru yang menggunakan metode dengan pendekatan Quantum  Teaching, selain menguasai materi pelajaran yang akan di sampaikannya dengan baik juga harus menguasai berbagai metode pengajaran lainnya sebagaimana tersebut di atas. Seorang guru yang menggunakan metode Quantum Teaching adalah seorang guru selain telah menguasai berbagai macam teori, teknik dan metode pengajaran, juga adalah seorang yang telah berpengalaman. Untuk itu, seorang guru yang akan menggunakan metode  Quantum Teaching harus terlebih dahulu melakukan latihan yang memadai di bawah bimbingan seorang tenaga ahli di badang strategi pembelajaran. Ia tidak bisa menggunakan Quantum Teaching dalam taraf coba-coba, karena akan mengecewakan peserta didik.
Peggunaan Quantum Teaching sebagaimana tersebut di atas, sesungguhnya amat sejalan dengan ajaran yang terdapat di dalam Al Qur’an. Sebagaimana telah disebutkan dia atas,bahwa di dalam Quantum Teaching terdapat 5 (lima) prinsip, yaitu 1) segala berbicara ; 2) segala bertujuan; 3) pemberian pengalaman sebelum memberi nama; 4) akui setiap usaha; 5) rayakan jika layak dirayakan. Kelima prinsip yang terdapat di Quantum Teaching juga terdapat di dalam pandangan islam. Menurut islam, bahwa segala sesuatu memiliki jiwa atau personalitas, air, udara, tanah, gunung, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dan lain sebagainya memiliki jiwa dan personalitas. [6]
Berdasarkan pandangan seperti itu, maka semua ciptaan Tuhan itu harus di perlakukan secara baik dan diberikan hak hidupnya.seluruh ciptaan Tuhan itu harus di rawat, di sayang, di bimbing, dibina, di jaga dan seterusnya, sehingga semuanya itu bersahabat dan memberi manfaat kepada manusia. Semua ciptaan itu selain memberi manfaat bagi kelangsungan hidup manusia, juga merupakan objek penelitian yang dapat menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. lihat misalnya, Allah berfirman dalam (QS.Al Baqaroh :29) yang berbunyi:
uqèd Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèŠÏJy_ §NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# £`ßg1§q|¡sù yìö7y ;Nºuq»yJy 4 uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇËÒÈ
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS.Al Baqaroh :29)
Dan Allah berfirman juga (QS.Yunus : 6) yang berbunyi,
¨bÎ) Îû É#»n=ÏG÷z$# È@ø©9$# Í$pk¨]9$#ur $tBur t,n=yz ª!$# Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcqà)­Gtƒ ÇÏÈ  
“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa”. (QS.Yunus : 6).
Allah berfirman dalam  (QS Ali imran : 19) yang berbunyi:
¨bÎ) šúïÏe$!$# yYÏã «!$# ÞO»n=óM}$# 3 $tBur y#n=tF÷z$# šúïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) .`ÏB Ï÷èt/ $tB ãNèduä!%y` ÞOù=Ïèø9$# $Jøót/ óOßgoY÷t/ 3 `tBur öàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$#  cÎ*sù ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇÊÒÈ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.[7]

Dengan mengemukakan tiga ayat yang di atas, terlihat beberapa hal sebagai berikut. Pertama bahwa pada seluruh ciptaan Allah seperti tumbuh-tumbuhan, benda-benda cair, binatang ternak,sawah, ladang, dan lainnya, serta yang ada di langit berupa matahari, bulan, bintang, dan benda-benda luar angkasa lainnya terdapat hikmah,pelajaran dan nilai pendidikan yng berharga, seperti dalam hal penyediaan bahan makanan dan minuman, bahan pembuatan rumah, bahan pembuatan berbagai peralatan kerja,bahan bakar, bahan obat-obatan, dan lain sebagainya,bahan untuk menentukan bilangan waktu, tanggal, bulan, tahun, dan sebagainya. Kedua, bahwa berbagai ciptaan Tuhan yng ada di langit dan di bumi itu akan bermanfaat jika manusia dapat mendayakan potensi jasmani, intelektual, dan rohaniyahnya, yang dibina melalui pemberian pengetahuan, keterampilan, penanaman sikap dan sebagainya melalui kegiatan pendidikan. Ketiga, bahwa berbagai temuan berupa hikmah, ajaran, dan nilai-nilai yang di dapat melalui kajian berbagai hal tersebut dalam islam bukanlah merupakan tujuan, melainkan sebagai alat untu melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT.
Seorang yang meneliti gunung akan menghasilkan ilmu geologi, yang meneliti bintang-bintang akan menghasilkan ilmu astronomi, yang meneliti hujan dan cuaca, akan menghasilkan ilmu meteorologi dan geofisika, yang meneliti tumbuh-tumbuhan akan menghasilkan ilmu pertanian, yang meneliti binatang dan makhluk hidup lainnya yang akan menghasilkan ilmu biologi, yang meneliti keadaan kandungan bumi akan menghasilkan ilmu pertambangan, orang yang meneliti khasiat tumbuh-tumbuhan dan segala sesuatu akan menghasilkan ilmu obat-obatan dan sebagainya.8  dengan berbagai pengetahuan yang di hasilkan melalui penelitian tersebut, maka akan membawa seseorang akan meyakini kekuasaan Tuhan, karna segala sesuatu itu pada hakikatnya adalah ciptaaan Tuhan. Semua itu dapat mempertinggi derajat manusia, baik secara biologis, material, intelektual, kebudayaan, ilmu pengtahuan, dan teknologi juga akan membawa kepada semakin dekat dengan Allah SWT.
Berkenaan dengan hal tersebut, di dalam Al Qur’an di jumpai ayat berbunyi
$¯RÎ) $oYôÊttã sptR$tBF{$# n?tã ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ÉA$t6Éfø9$#ur šú÷üt/r'sù br& $pks]ù=ÏJøts z`ø)xÿô©r&ur $pk÷]ÏB $ygn=uHxqur ß`»|¡RM}$# ( ¼çm¯RÎ) tb%x. $YBqè=sß Zwqßgy_ ÇÐËÈ
“sesungguhnya kami telah memberikan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikul amanat tersebut dan khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat tersebut oleh manusia. Sesungguhya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS.al-Ahzab :72).
Ayat tersebut selain menunjukkan adanya pengakuan terhadap eksistensi dan manfat makhluk lain selain manusia, juga menunjukkan bahwa manusia lebih memiliki kemampuan di bandingan dengan makhluk lainnya. Dan atas dasar pula, manusia menjadi khalifah dan pemegang amanat atas segala makhluk lainnya itu sesuai dengan petunjuk Allah SWT.
Kedua, bahwa prinsip yang ada dalam Quantum Teaching, yaitu bahwa segalanya bertujuan adalah juga ada dalam ajaran islam. Di dalam Al Qur’an terdapat ayat yang berbunyi:
t$uZ­/u $tB |Mø)n=yz #x»yd WxÏÜ»t/ y7oY»ysö6ß $oYÉ)sù z>#xtã Í$¨Z9$# ÇÊÒÊÈ  
“ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS.Ali Imran, 3 : 191).
Ayat tersebut di atas, berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang sikap orang-orang yang berakal, yaitu orang yang mampu meneliti segala ciptaan Tuhan yang ada di langit dan di bumi serta dalam pergantian waktu siang dan malam. Dengan berpegang pada prinsip ini, maka seorang yang berakal akan selalu meneliti rahasia, manfaat, dan hikmah yang terkandung dalam semua ciptaan Tuhan. Dengan cara demikian, maka orang tersebut selain akan menemukan berbagai teori dibidang ilmu pengetahuan (sains), juga semakin membawa dirinya dekat dengan Tuhan. Atas dasar ini, maka seluruh ciptaan Tuhan, harus di gunakan dangan tujuan sebagai media untuk meningkatkan pengetahuan.
Ketiga, bahwa prinsip memberikan pengalaman sebelum pemberian nama sebagaimana terdapat dalam Quantum teaching, juga sejalan dengan pinsip yang ada dalam ajaran islam. Dalam ajaran islam seseorang terlebih dahulu di suruh percaya kepada Allah, mengucapkan dua kaliamat syahadat, melaksanakan shalat, membaca Al Qur’an dan mempraktikkan ajaran islam lainnya.laksanakanlah terlebih dahulu semua ajaran tersebut,baru kemudian bertanya mengapa semuanya itu harus dilakukan. Dalam contoh Nabi Muhammad SAW. Langsung di suruh membaca ayat-ayat yang di bawa oleh malaikat Jibril as.,atas perintah Allah SWT.,yaitu perintah membaca ayat 1-5 surat al - Alaq. setelah itu, Barulah Nabi memahami ayat-ayat tersebut.
Dalam kaitan ini, maka metode mengajar membaca Al Qur’an, hendaknya di mulai langsung dengan membacanya ayat demi ayat, mengulangi bacaan yang di berikan oleh guru secara tepat, yait dengan bacaan yang baik dan benar. Setelah itu, barulah di berikan penjelasan tentang bacaan tersebut melalui ilmu tajwid. Memberikan penjelasan terhadap sesuatu yang sudah di kuasai oleh si anak itu lebih mantap dalam mengajaran,dari pada lebih dahulu mengemukakan berbagai teori yang sulit-sulit. Dengan kata lain, mulailah dari praktik membaca, dilanjutkan dengan menjelaskan, dan memberikan nama (teori) tentang yang di baca dan praktikkan tersebut.
Keempat, bahwa prinsip yang terdapat dalam Quantum Teaching yang mengajui setiap usaha yang dilakukan, juga selain dangan prinsip yang terdapat dalam ajaran islam. Di dalam ajaran islam, terdapat predikat yang diberikan kepada seorang yang didasarkan pada usahanya. Misalnya, bagi orang yang mempercayai rukun iman dan hal-hal yang berkaitan dengannya di sebut mukmin. Bagi mereka yang melaksanakan ajaran islam di sebut muslim. Selanjutnya,untuk orang yang melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya di sebut Muttaqi. Demikian pula bagi orang yang berbuat baik di sebut Muhsinin, dan seterusnya. Berbagai predikat tersebut menunjukkan adanya apresiasi atau pengakuan terhadap sesuatu yang telah berhasil dilakukan oleh seseorang. Dengan cara demikian, maka pengakuan terhadap eksistensi dan usaha yang dilakukan oleh seserang, akan memberikan dampak kepuasan psikologis bagi yang bersangkutan. Keadaan ini pada gilirannya akan menimbulkan etos kerja yang makin meningkat.
Kelima, bahwa prinsip dirayakan jika layak di rayakan sebagaimana yang terdapat dalam Quantum Teaching juga terdapat dalam ajaran islam. Prinsip ini sejalan dengan adanya berbagai upacara tradisi dalam islam, seperti tradisi pemberian nama yang baik kepada anak, menyembelih hewan akikah, menikahkannya apabila sudah dewasa, adalah upaya perayaan yang di dalamnya mengandung unsur pengakuan tehadap keberadaan seseorang di tengah-tengah masyarakat.
Selanjutnya, langkah-langkah dalam Qantum Teching yang mampu menggairahkan suasana belajar yang terdapat dalam istilah Tandur sebagaiman yang telah dijelaskan di atas, juga selain dengan ajaran islam. Langkah pertama, yaitu tumbuhkan minat. Hal ini sejalan dengan adanya niat dan tujuan yang harus ditanamkan sebelum melakukan pekerjaan, yaitu niat yang ikhlas semata-mata karna Allah. (QS. Al – Bayyinat, 98: 5) yang berbunyi:
!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#rßç6÷èuÏ9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.
Langkah yang kedua, alami, yaitu memberikan pengalaman kepada seseorang untuk melakukan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan pendidikan akhlak dan sopan santun yang harus dilakukan dengan membiasakan, seperti membiasakan berkata baik, menghormati kedua orang tua, mengerjakan shalat, menolong orang lain dan sebagainya. Langkah ketiga, namai, yaitu berkan identitas atau nama bagi sesuatu yang ditemukan. Hal ini sejalan dengan apa yang di ajarkan Tuhan kepada Nabi Adam mengenai nama-nama yang ada di alam jagat raya ini, setelah Nabi Adam mengalaminya sendiri. (QS.Al-Baqaroh,2 : 31 ).
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ
 “dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Langkah yang keempat, demonstrasikan,yaitu menunjukkan apa yang telah dihasilkannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dilakukan Nabi Adam di hadapan para malaikat, ketika ia di minta oleh Tuhan untuk mendemonstrasikan hasil didikan-Nya di hadapan para malakat. (QS.Al-Baqaroh,2 : 32) yang berbunyi:
(#qä9$s% y7oY»ysö6ß Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ  
“ mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."
 Langkah yang kelima, ulangi, yakni tunjukkan apa yang telah di ajarkan oleh guru, agar benar-benar terlihat hasilnya dan lebih mantap. Hal ini sejalan dengan ayat-ayat Al Qur’an yang berbicara tentang sesuatu yang di ulang-ulangi dalam berbagai tempat dengan tujuan agar lebih mantap. Langkah yang keenam, rayakan, yakni berikan pengakuan. Hal ini sejalan dengan prinsip pemberian predikat kepada orang-orang sesuai dengan usaha dan prestasi yang di hasilkan.[8]


[1] S. Nasution. Didaktid asas-asas mengajarkan, jajarta: bumi asara, 1995, hllm. 35;
[2] Auges nggermanto, quantum  questient, bandung; nuansa, 2005 cet 6 hlm 22
[3] Abuddin nata, manajemen pendidikan ; mengtasi kelemahan pendidikan islam. Jakarta: Prenada Media Group. 2004 cet 1 hlm 148 dan dalam buku Persepektif Islam tentang Strategi Pemelajaran. Jakarta: Kncana Prenada Media Group. 2009. hlm. 231-232.
[4]  Dobbi Deporter dkk. 2007. Quantum Teaching mempraktikan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Surabaya; KAIFA. Hlm. 7-8.
[5] Ali Syari’ati, sosiologi islam, ( bandung ; Mian, 1988), cet. I, hlm. 34
[6]  Ibid. 7-8
[7]  Al Qur’anul Karim Terjemah.
[8] Abudin Nata. 2009. Perspektif Islam tentang  Strategi Pembelajaran. Jakarta: KENCANA PERNADA MEDIA GROUP. Hlm. 233-242

Tidak ada komentar:

Posting Komentar