Jumat, 30 Mei 2014

BUKTI KEBENARAN RASULULLAH SAW.




 
Di antara sekian banyak bukti kebenaran Rasulullah Muhammad saw. yang diangkat oleh Allah swt. ialah:

Pertama.
Bahwa Rasulullah saw. adalah seorang yang zuhud di dunia. Beliau sama sekali tidak pernah mengharapkan upah atau balasan atas risalahnya. Demikian juga beliau zuhud dalam hal harta atau segala sesuatu yang boleh kita katakan sebagai kebendaan (materialis), beliau juga zuhud dalam kedudukan, pangkat, ketenaran, ketinggian pangkat dan lain-lain yang berhubungan dengan keduniaan.

Zuhudnya dalam soal harta, jika dilihat dari kebiasaan kehidupannya saja, kiranya sudah dapat menunjukkan hal ini dengan bukti yang sejelas-jelasnya. Beliau tidak menghamparkan hamparan yang terbuat dari sutra, tidak pernah mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra, juga tidak pernah mengenakan hiasan dari emas. Keadaan rumah dan rumah tangganya sebagaimana lazimnya manusia biasa. Malah pernah selama dua bulan, di rumahnya tidak dinyalakan api sama sekali, sebagai tanda bahwa yang dimasak tidak ada. Oleh sebab dua bulan tidak pernah memasak, maka Urwah r.a. pernah bertanya kepada bibinya yakni istri beliau yaitu Aisyah r.a. isi pertanyaan itu berbubungan dengan makanan. Urwah berkata, “Bibiku! Apakah yang dapat bibi gunakan sebagai bahan makanan?” Aisyah menjawab, “Hanya dua benda hitam belaka (aswadan) yakni kurma dan air.”

Pada suatu ketika Umar bin Khattab r.a. melihat Rasulullah saw. tidur di atas selembar tikar yang sudah usang, malah tubuh beliau berbekas garis-garisnya. Umar r.a. lalu menangis. Rasulullah saw. bertanya, “Apa sebabnya engkau menangis?” Umar r.a. berkata, “Bagaimana keadaan Kisra (Maharaja Parsi) dan Kaisar (Maharaja Romawi) sama tidur di atas sutera tebal dan tipis, sedang Tuan sebagai Rasulullah sampai membekas dilambung Tuan hamparan tikar.” Rasulullah saw. lalu bersabda, “Hai Umar! Tidakkah engkau rela jika dunia ini mereka miliki sedang kita akan memiliki akhirat?.”

Terjadi pula peristiwa yang lain yaitu pada suatu hari harta rampasan perang datang kepada Rasulullah saw. setelah kaum muslimin memperoleh kemenangan gilang-gemilang. Para istri beliau ingin sekali mendapatkan sebagian dari harta itu agar dapat meringankan kehidupan yang serba kekurangan. Kemudian mereka bersama-sama meminta kepada beliau agar diberi bagian dari harta rampasan tersebut. Tiba-tiba turunlah sebuah ayat yang mulia yang dengan tegas menolak apa yang mereka inginkan. Ayat yang mulia itu menyebutkan, “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu semua menghendaki kehidupan dan perhiasan dunia, maka marilah Kuberikan kesenangan padamu dan akan kuceraikan kamu dengan cara yang baik. Tetapi jika kamu semua menghendaki Allah dan rasul-Nya serta perumahan di akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan pahala yang besar untuk orang-orang yang berbuat kebaikan dari antaramu’." (Q.S. Al-Ahzab:28-29) Setibanya wahyu tersebut, Rasulullah saw. mengumpulkan seluruh istrinya, lalu bersabda yang maksudnya, apakah kalian lebih menginginkan Allah, rasul-Nya dan perumahan akhirat yang penuh bahagia ataukah lebih mencintai harta keduniaan, serta kesenangan-kesenangan yang sementara. Mereka semua memilih mencintai Allah, rasul-Nya dan kebahagiaan di akhirat. Oleh sebab itu turunlah ayat yang mulia yang merupakan pujian terhadap ketegasan sikap mereka, yaitu, “Hai istri-istri nabi, kamu semua tidaklah seperti wanita-wanita lain. Jika kamu semua takut kepada Allah, janganlah kamu semua tunduk dalam berbicara, sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya berkeinginan, tetapi ucapkanlah perkataan yang baik.” (Q.S. Al-Ahzab:32)
Tentang berbicara dengan lemah-lembut yang dilarang untuk para istri nabi saw. karena dapat menimbulkan keinginan nafsu bagi orang-orang yang buruk budi pekertinya atau yang jahat perangainya. Oleh karena itu diperingatkan kepada mereka supaya berkata yang sebenarnya dan dengan tegas dan wajar.

Kezuhudan Rasulullah saw. dapat pula dibuktikan di waktu wafatnya. Ketika wafatnya, baju besinya sedang digadaikan kepada salah seorang Yahudi.

Beliau selama hidupnya belum pernah kenyang sekalipun, dari makanan roti.

Kezuhudan Rasulullah saw. dalam hal kepangkatan, ketinggian derajat dan sebagainya, maka dapat ditinjau dari hal-ihwalnya sehari-hari.

Pada suatu hari para sahabat memuji dan mengelukannya, tetapi bukan makin senang hati beliau melihat sikap mereka tersebut, bahkan menunjukkan rasa tidak senang dan bersabda, “Janganlah kamu semua menyanjung-nyanjung diriku sebagaimana sanjungan yang diberikan oleh kaum Nasrani kepada Almasih (Isa) bin Maryam.”

Suatu ketika Walid bin Mughirah datang kepada beliau sebagai utusan yang dikirim oleh kaum musyrik di Mekah. Maksud utama ialah hendak menawarkan apa saja yang kiranya beliau suka terima asal tidak menyebar-luaskan agama yang dibawanya. Tetapi beliau jawab dengan tegas sekali. Dia bacakan di hadapan utusan itu permulaan surah Hamim/Fushshilat yang ringkasnya tawaran yang bagaimanapun, jika sifatnya hendak menghalang-halangi dakwahnya, pasti ditolak mentah-mentah. Padahal tawaran yang diajukan itu adalah berupa harta, pangkat sebagai raja, wanita dan sebagainya. Inilah kezuhudan yang merupakan salah satu tabiat dari sekian banyak rangkaian akhlak tinggi yang dimiliki oleh Rasulullah saw. itu.

Kedua

Di antara bukti-bukti kebenaran nubuwah Rasulullah saw. ialah bahwa beliau seorang umi yakni tidak pandai membaca dan menulis. Tetapi sekalipun demikian beliau dapat melaksanakan pekerjaan-pekerjaan besar sebagaimana yang kita saksikan di muka, padahal beliau tidak pernah memasuki sekolah, tidak pernah belajar dari guru. Namun demikian beliau berhasil sekali menunaikan kewajiban dan tugasnya dan dapat mencapai tingkatan yang tidak pernah dicapai oleh orang sebelumnya atau pun sesudahnya.

Alquran sendiri memberikan catatan mengenai hakikat yang sedemikian ini, agar supaya dapat dijadikan pertanda tentang kebenaran beliau serta bukti amanahnya. Allah Taala berfirman, “Begitulah Kami (Allah) wahyukan padamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Engkau dahulunya tidak mengetahui apa kitab itu dan apa pulakah kepercayaan itu. Kami jadikan Alquran cahaya yang terang yang dengannya Kami pimpin orang-orang yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau memberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Yaitu jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, semua perkara kembalinya kepada Allah semata-mata.” (Q.S. Asy-Syura:52-53)

Memang dahulunya Rasulullah saw. juga seperti manusia biasa, tidak mengetahui sedikit pun tentang kenubuwatan dan bahkan tidak dapat sampai kepada Zat Yang Maha Tinggi. Jadi dia memperoleh semua lewat kedua tangannya sebagai mukjizat yang dikaruniakan oleh Allah Taala kepadanya.

Pikirkanlah, betapa banyaknya kaum terpelajar, yang semata-mata mencurahkan perhatian sepanjang usianya untuk mencari ilmu pengetahuan dan penelitian yang ajaib-ajaib, tetapi mereka pasti tidak mampu memperoleh sesuatu yang pernah dicapai oleh Rasulullah saw. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa semua yang disebutkan kenyataannya hanyalah dengan sebab pertolongan dan pengokohan dari Allah swt. belaka.

Alquran menyebutkan, “Dan engkau (Muhammad) sebelum Alquran ini, tidak dapat membaca kitab dan tidak dapat pula menuliskannya dengan tangan kananmu. Andai kata engkau dapat menulis dan membaca, pastilah orang-orang yang mengingkari kebenaranmu akan menjadi ragu-ragu (sebab menyangka bahwa Alquran buatan Muhammad sendiri).” (Q.S. Al-Ankabut:48)

Persoalan keadaan beliau di atas cukup disaksikan oleh para lawan dan musuhnya yang pernah berhadapan dengannya. Hakikat dan kenyataan yang demikian tidak pernah disangsikan oleh siapa pun juga, baik kawan maupun lawan. Jadi kenyataannya ialah bahwa wahyu Alquran tadi bukan ciptaan Muhammad saw. sendiri, sebab jangankan mengarang seperti itu, menulis dan membaca pun tidak bisa. Bukankah ini suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi.

Allah Taala berfirman, “Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, maka orang-orang yang tidak mengharapkan menemui Kami berkata, ‘Kemukakanlah Alquran yang lain dari ini atau rubahlah.’ Katakanlah kepadanya, ‘Tiadalah pbagiku untuk merubahnya dengan kemauan diriku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan padaku.

Sesungguhnya aku takut kepada siksaan hari yang dahsyat kalau aku mendurhakai Tuhanku.’ Katakanlah, ‘Jika Allah menghendaki yang lain, tidaklah ayat ini kubacakan dan tidak pula Dia mengajarkan ayat itu kepadamu. Sesungguhnya seluruh hidupku sebelum (diturunkan Alquran) ini, bersama-samamu, mengapa kamu semua tidak merenungkannya’.” (Q.S. Yunus:15-16)

Ketiga
Ada hal lain yang dapat dijadikan sebagai bukti kebenaran nubuwat       Rasulullah saw., yaitu sifat shidiq (benar) yang dimiliki oleh beliau, yakni tidak pernah berdusta. Perihal benarnya Rasulullah saw. dalam segala ucapan dan kata-katanya ini, telah disaksikan oleh seluruh umat manusia saat itu. Memang belum pernah terlihat sekalipun bahwa beliau berbuat kedustaan, baik sebelum diutus sebagai rasul apa lagi sesudahnya. Ketika beliau pertama kali didatangi oleh wahyu, beliau segera pergi ke tempat istrinya yakni Khadijah dan bersabda, “Sungguh saya takut tentang diriku sendiri ini.” Khadijah berkata kepadanya, “Demi Allah, tentu Allah tidak akan menghinakan Tuan selama-lamanya. Bukankah Tuan selalu benar dalam percakapan, mempererat tali kekeluargaan, menanggung beban kerabat, menjamu tamu, memberikan bantuan pada orang yang kekurangan dan menolong penderita sepanjang masa?”

Rasulullah saw. untuk pertama kali menunjukkan kenabiannya (diangkat sebagai nabi) kepada Abu Bakar r.a. dan mengharapkan padanya supaya ia memeluk agama Islam. Abu Bakar r.a. dengan spontan saja mempercayai.

Apakah yang menyebabkan beliau segera menyatakan keimanannya? Tidak lain hanya karena beliau sudah tahu benar akan sifat shiddiqnya serta amanatnya Rasulullah saw. Sewaktu Rasulullah saw. menunjukkan risalahnya, tampak pula adanya sifat shiddiq itu dalam wajahnya. Pernah pula suatu ketika seorang Arab (orang Arab pedalaman) datang kepada Rasulullah saw. dan baru saja melihat air mukanya, dengan cepat orang tersebut berkata, “Wajah semacam ini, demi Allah, bukanlah wajah seseorang yang suka berdusta.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar