Jumat, 08 Agustus 2014



Objek penelitian; subjek penelitian; responden penelitian; informan (narasumber) penelitian; populasi objek penelitian; populasi subjek penelitian; populasi responden penelitian; anggota populasi subjek penelitian; anggota populasi responden penelitian; generalisasi; unit analisis;

Objek, subjek, dan populasi penelitian
Hampir tidak dijumpai dalam buku-buku penelitian pembedaan subjek penelitian dari responden penelitian dan informan (narasumber) penelitian. Yang lazim ada hanya mengenai subjek penelitian, itu pun kadang tidak lengkap sepenuhnya terbicarakan, termasuk dalam buku penulis “Menyusun Rencana Penelitian” yang terbit pertama kali sekitar tahun 1986-an oleh penerbit (ketika itu) CV Rajawali (kemudian menjadi RajaGrafindo Persada).
Mari kita buat contoh penelitian untuk memperjelas perbedaan ketiganya. Topiknya mengenai “Kepemimpinan kepala sekolah Sekolah Dasar di Kabupaten Situsini.” Hal (objek) yang akan diteliti (= objek penelitian) adalah “kepemimpinan kepala sekolah” (yang konkrit atau “operasionalnya” adalah apakah kepemimpinan kepala sekolah atau kasek tersebut efektif/baik ataukah tidak). Jadi, subjek penelitian (yang mempunyai sifat-karakteristik/keadaan yang akan diteliti itu — si empunya objek penelitian, dalam hal ini efektivitas kepemimpinan) adalah kepala sekolah.
Di Kabupaten Situsini ada sebanyak 222 SD. Jadi, ada 222 kepala sekolah, karena per SD ada satu kepala sekolah. Keseluruhan kepala sekolah (para kepala sekolah SD sebanyak 222 orang) tersebut disebutlah populasi penelitian (tepatnya populasi subjek penelitian).
Responden dan Populasi Responden Penelitian
Jika para kepala sekolah itu sendiri yang diteliti (ditanya–dan akan merespon atau menanggapi pertanyaan) disebutlah kepala sekolah itu sebagai responden (perespon, pejawab = orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan). Jadi, dalam kasus ini, kasek merupakan subjek sekaligus responden penelitian).
Tetapi, jika yang ditanya mengenai apakah kepala sekolah mampu memimpin dengan efektif atau tidak itu langsung si kepala sekolah, maka jawabannya bisa sangat subjektif (cenderung menilai diri baik). Oleh karena itu, dengan anggapan (asumsi) yang dianggap paling tahu (bisa menilai, karena mengalami sendiri) mengenai kepemimpinan kasek itu baik atau tidak tentulah yang dipimpin oleh kasek tsb, yaitu guru, maka yang sebaiknya akan ditanya (dan merespon, menjawab pertanyaan-penilaian) adalah guru itu. Guru itu disebutlah sebagai responden penelitian (responden yang bukan subjek penelitian, karena subjeknya–si pemilik “sesuatu” yang akan diteliti, dalam hal ini kepemimpinan– tetap kepala sekolah, bukan guru).
Karena guru dari 222 sekolah itu banyak sekali (paling tidak per SD ada 6-7 orang), maka seluruh guru itu disebutlah sebagai populasi penelitian juga, tetapi populasi responden penelitian, bukan populasi subjek penelitian.
Setiap kasek dari 222 kasek itu disebut pula sebagai anggota populasi subjek penelitian, dan setiap guru dari 222 SD itu disebut sebagai anggota populasi responden penelitian.
Sampel Penelitian
Karena anggota populasi banyak, biasanya yang akan ditanyai (diteliti secara langsung) tentulah tidak semuanya, terlampau memakan waktu, energi dan biaya. Jadi yang akan diteliti hanyalah sebagian dari mereka. Sebagian anggota populasi yang diteliti dari seluruh anggota populasi itu disebut sebagai sampel penelitian.
Adapun langkah pengambilan sampel atau sampling-nya sebagai berikut:
Pertama-tama diambil terlebih dahulu sampel subjek penelitian (kepala sekolah). Katakanlah diambil 25%-nya (dari 222 kasek). Jadi akan terambil sebagai sampel sekitar 54 (dibulatkan agar hitungannya “bulat” menjadi 50) orang kasek. Tentu dari 50 SD.
Telah diketahui bahwa di setiap SD ada 6-7 guru kelas dan bidang studi (Agama/Penjas). Dari setiap SD tempat kepala sekolah sampel tadi diambil, diambillah sampel guru, misalnya 3 orang (dari 6-7 orang guru tadi). Tiga orang guru tersebut disebut sebagai sampel responden. Sampel responden inilah yang ditanyai (diminta penilaiannya).
Unit Analisis dan Generalisasi
Yang dinilai oleh para guru itu kepala sekolah. Jadi kepala sekolah sebagai subjek penelitian menjadi unit analisis penelitian (Silakan baca lebih jauh dalam tulisan mengenai unit analisis dalam blog ini juga). Maksudnya “hitung-hitungan” nilai efektivitas kepemimpinan itu per kepala sekolah, bukan per guru.
Secara operasional, jelasnya, penilaian dari tiga guru bawahan seseorang kepala sekolah (sampel guru per sekolah tadi) dihitung dirata-ratakan. Misal guru A menilai 8, guru B menilai 7, dan guru C menilai 7,5. Total nilai 22,5. Reratanya 22,5 : 3 = 7, 5.
Rerata penilaian guru terhadap kepala sekolah atasannya (nilai 7,5 tadi)  jadilah sebagai nilai efektivitas kepemimpinan si kepala sekolah (dari satu sekolah). Dengan demikian, nantinya, akan ada sebanyak 50 nilai efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, karena sampel subjek penelitiannya (kasek) ada 50 orang. Kelima puluh nilai itu dihitung direratakan, sehingga terhasilkanlah nilai efektivitas (dari seluruh sampel) kepala sekolah.
Nilai akhir ini (dari sampel yang 50 orang itu) diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi kepala sekolah, sehingga simpulannya menjadi “tingkat efektivitas kepemimpinan kepala sekolah SD di Kabupaten Situsini termasuk …… (tinggi, sedang, atau rendah). Jadi, bukan berlaku untuk kepala sekolah yang disampel saja, melainkan untuk seluruh kasek anggota populasi penelitian.
Jika menggunakan persentase, maka simpulannya antara lain, misalnya, akan berbunyi “sebagian besar (86,68%) kepala sekolah SD di Kabupaten Situsini kepemimpinannya tergolong sangat efektif (“sangat efektif” dilihat dari skor rerata yang tinggi, misalnya 89,98 dalam rentangan skor 0 -100).
Informan (Narasumber) Penelitian dan Populasi Responden
Peneliti lain, sebagai contoh, ingin meneliti apakah sekolah-sekolah (SD) di Kabupaten Situsini itu mempunyai program (rencana) kerja yang jelas. Yang menjadi objek penelitiannya jadinya “pembuatan/ketersediaan program (rencana) kerja sekolah”. Operasionalnya, apakah sekolah punya rencana strategis (renstra) dan rencana operasional (renop) yang baik dan benar atau tidak. Renstra dan renop sekolah tentu punya sekolah (bukan punya kasek atau guru). Jadi subjek penelitiannya (yang memiliki objek penelitian) adalah sekolah (SD).
Dari mana data (informasi) diperoleh? Tentulah dari kepala sekolah atau para guru yang ikut menyusun (setidaknya mengetahui adanya) renstra dan renop tersebut. Karena mengenai hal ihwal renstra dan resnop itu sumber informasi yang akan ditanyai adalah kasek, maka jadilah kasek tersebut sebagai informan (narasumber) penelitian (nara = orang; sumber = dalam hal ini sumber data/informasi penelitian; narasumber = orang yang menjadi sumber data/informasi penelitian).
Jika ada pula guru yang ikut terlibat banyak dalam penyusunan renstra dan renop, dan bisa memberi informasi (data) kepada peneliti, maka guru itu pun jadi informan penelitian pula. Informan yang paling banyak tahu sesuatu informasi (data) mengenai hal yang diteliti, disebutlah sebagai narasumber kunci atau utama (key informan). Informan (narasumber) lainnya lazim disebut informan saja. Jika toh ingin dibedakan dapat disebut informan pelengkap. Jangan salah: yang menjadi informan kunci di sekolah bisa justru bukan kepala sekolah, melainkan guru. Misalnya dalam pelaksanaan secara detail atau rinci (mendalam) program ekstrakurikuler. Program ekstrakurikuler (ekstra = di luar; kurikuler = yang berkenaan dengan kurikulum utama yang tertulis dalam “buku kurikulum sekolah”) adalah kegiatan pendidikan/pengajaran di luar mata pelajaran yang ada dalam kurikulum pokok pendidikan sekolah.
Seperti telah disebutkan di atas, seluruh 222 SD yang akan diteliti mengenai hal tersebut merupakan subjek penelitian (jadi subjeknya lembaga–yang punya “sifat-keadaan” membuat atau mempunyai/tidak mempunyai renstra dan renop). Populasi penelitiannya (populasi subjek) jadinya ya 222 SD tersebut.
Dalam penelitian seperti ini, tidak ada populasi informan atau narasumber. Yang ada populasi subjeknya. Informan bukan subjek penelitian, bukan pula responden penelitian (walau seperti responden, informan juga menjawab pertanyaan). Informan bersifat kolektif (satu kesatuan), tidak individual. Jadi, kalau toh ada yang disebut “sampel informan” itu karena subjeknya (dalam hal ini sekolah) disampel. Tetapi informan yang ada di sekolah tidak disampel, melainkan dipilih mana yang jadi informan kunci dan mana informan pelengkap (dari seluruh “orang” yang ada di sekolah).
Rangkuman (Definisi)
Nah, agar para mahasiswa mudah mengutip untuk menulis skripsinya apa yang dimaksud objek penelitian, subjek penelitian, responden penelitian, dan informan (narasumber) penelitian, berikut dituliskan rumusan pengertian atau definisinya (definisi = batasan pengertian).
(1) Objek penelitian adalah sifat keadaan ( “attributes”) dari sesuatu benda, orang, atau keadaan, yang menjadi pusat perhatian atau sasaran penelitian. Sifat keadaan dimaksud bisa berupa sifat, kuantitas, dan kualitas (benda, orang, dan lembaga), bisa berupa perilaku, kegiatan, pendapat, pandangan penilaian, sikap pro-kontra atau simpati-antipati,keadaan batin, dsb. (orang), bisa pula berupa proses dsb. (lembaga).
(2) Subjek penelitian adalah sesuatu, baik orang, benda ataupun lembaga (organisasi), yang sifat-keadaannya (“attribut”-nya) akan diteliti. Dengan kata lain subjek penelitian adalah sesuatu yang di dalam dirinya melekat atau terkandung objek penelitian.
(3) Responden penelitian adalah seseorang (karena lazimnya berupa orang) yang diminta untuk memberikan respon (jawaban) terhadap pertanyaan-pertanyaan (langsung atau tidak langsung, lisan atau tertulis ataupun berupa perbuatan) yang diajukan oleh peneliti. Dalam hal penelitian dilakukan dengan menggunakan tes, maka “responden” penelitian ini menjadi “testee” (yang dites). Responden penelitian bisa subjek penelitian, bisa orang lain.
(4) Informan (narasumber) penelitian adalah seseorang yang, karena memiliki informasi (data) banyak mengenai objek yang sedang diteliti, dimintai informasi mengenai objek penelitian tersebut. Lazimnya informan atau narasumber penelitian ini ada dalam penelitian yang subjek penelitiannya berupa “kasus” (satu kesatuan unit), antara lain yang berupa lembaga atau organisasi atau institusi (pranata) sosial. Di antara sekian banyak informan tersebut, ada yang disebut narasumber kunci (key informan)–seorang ataupun beberapa orang, yaitu orang atau orang-orang yang paling banyak menguasai informasi (paling banyak tahu) mengenai objek yang sedang diteliti tersebut.
(5) Populasi penelitian. Istilah ini mengandung ragam makna. Oleh karena itu perlu ditegaskan dengan istilah khusus: (1) Populasi subjek penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian dalam/dari sesuatu penelitian. Setiap subjek penelitian otomatis menjadi anggota populasi subjek penelitian. (2) Populasi responden penelitian (dalam hal responden bukan subjek penelitian) adalah keseluruhan responden penelitian dalam/dari sesuatu penelitian. Setiap responden penelitian otomatis menjadi anggota populasi responden penelitian. (3) Populasi objek penelitian adalah keseluruhan sifat-sifat keadaan yang menjadi sasaran penelitian. Setiap “aspek” sifat keadaan objek penelitian disebut populasi objek penelitian.
(6) Sampel penelitian. Sampel penelitian adalah sebagian dari “anggota” populasi penelitian yang terhadapnya pengumpulan data dilakukan. Hasil pengumpulan data dari sampel tersebut kemudian diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi.
Tambahan: Sampel Objek Penelitian
Contoh peristiwa pengambilan sampel dari populasi objek penelitian (hanya untuk memudahkan) adalah mengetes hasil belajar siswa sejak kelas pertama sampai kelas akhir sesuatu jenjang pendidikan (SD, SMTP, SMTA) lewat UNAS atau UAN. Pertama, dari seluruh mata pelajaran (yang harus dikuasai murid) hanya beberapa mata pelajaran yang diteskan (sampel mata pelajaran). Kemudian dari beberapa mata pelajaran tersebut hanya beberapa butir materinya saja dari sekian banyak butir pengetahuan atau ilmu yang dipelajari semasa bersekolah.
Catatan Lain (Pengingat)
Untuk diperhatikan dan dipahami: Berkait dengan informan (narasumber) penelitian pada atau di SATU “subjek” penelitian (berupa satu lembaga tertentu, bukan beberapa “unit subjek” atau lembaga), tidak ada populasi dan sampelnya.
Dikutip dari: tatangmanguny.wordpress.com

Minggu, 20 Juli 2014

MENEJEMEN PENDIDIKAN





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam kehidupan yang semakin lama semakin ketat kompetensi dalam bidang pekerjaan ini, kita dituntut untuk dapat mengatur segala sesuatu dengan sistematis. Dalam menjalankan suatu proses kerja seseorang harus mempunyai pengetahuan tentang manajemen dari pekerjaannya tersebut. Dalam resume ini akan dibahas tentang pengertian,tujuan, prinsip, fungsi, dan ruang lingkup dari Manajemen pendidikan yang akan memperkaya wawasan keilmuan kita.

B.     Tujuan

Adapun tujuan pembuatan resume ini adalah untuk memberikan tambahan wawasan kepada kita sebagai calon pendidik atau guru dalam melaksanakan menejemen, khususnya dalam pendidikan. Agar pendidikan yang kita lakukan dapat berjalan dengan baik dan efisien guna mencapai tujuan pendidikan yang kita harapkan.

C.     Rumusan Masalah

1.      Apa itu menejemen dan pendidikan?
2.      Apa pendidngnya menejemen dalam sebuah pendidikan?








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Menejemen Pendidikan

Melihat dari asal katanya, menejemen pendidikan terbentuk dari dua suku kata, yaitu menejemen dan pendidikan.
Dimana menejemen sendiri menurut asal katanya adalah, Management berasal dari kata latin yaitu “manus” yang artinya “to control by hand” atau “gain result”. Kata manajemen mungkin juga berasal dari bahasa Italia maneggiare yang berarti “mengendalikan,” Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis manège yang berarti “kepemilikan kuda” (yang berasal dari Bahasa Inggris yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal dari bahasa Italia. Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris menjadi ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
Manajemen dapat didefinisikan sebagai “proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan, dan pengontrolan untuk optimasi penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien”. Manajemen adalah Suatu Proses dalam rangka mencapai tujuan dengan bekerja bersama melalui orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya.
Sedangkan pengertian pendidikan dalam UU Sisdiknas Pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan prtensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Jadi, jika kita mengacu kepada kedua pengertian diatas, maka kita dapat mendefinisikan Manajemen Pendidikan sebagai suatu Proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dalam mengelola sumber daya yang berupa man, money, materials, method, machines, market, minute dan information untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien dalam bidang pendidikan.



B.     Tujuan Managemen Pendidikan

Ada beberapa tujuan yang sangat mendasar dalam menejemen pendidikan, diantaranya :

1.      Efisien dalam menggunakan sumber daya
Dengan mempelajari manajemen pendidikan dengan baik, diharapkan seseorang dapat mengelola sumber daya secara efisien, misalnya sumber daya yang berupa pembiayaan, waktu dan lain sebagainya.


2.      Efektif dalam pencapaian tujuan
Dengan mempelajari manajemen pendidikan secara berkesinambungan dan secara sungguh-sungguh, diharapkan seseorang dapat mengefektifkanproses dan sumber daya yang dikelola untuk mencapai tujuan dengan optimal.

3.      Mendukung kegiatan pendidikan dalam upaya mencapai tujuan  pendidikan
Manajemen pendidikan juga mendukung dan memfasilitasi kegiatan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan pendidikan yang didukung dengan manajemen pendidikan yang baik, akan mendapatkan hasil yang baik sehingga tujuan pendidikan yang ditargetkan dapat tercapai.

C.     Prinsip Managemen Pendidikan

Kaitannya dengan prinsip menejemen pendidikan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya :
1.      Pembagian kerja (Division of work)
Dalam pembagian kerja perlu diperhatikan penempatan orang-orang yang sesuai dengan keahlian, pengalaman, kondisi fisik dan mental. Tujuan pembagian kerja adalah agar diperoleh hasil kerja yang terbaik.
2.      Pemberian Wewenang dan Tanggung Jawab (Authority and responsibility)
Setiap personil atau karyawan yang ditempatkan pada posisi prembagian tugasnya, harus dilengkapi dengan wewenang untuk melakukan pekerjaan dan setiap wewenang melekat atau diikuti pertanggungjawaban.
3.      Memiliki Disiplin (Discipline)
Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab. Disiplin ini berhubungan erat dengan wewenang. Apabila wewenang tidak berjalan dengan semestinya, maka disiplin akan hilang.
4.      Adanya Kesatuan Komando atau perintah (Unity of command)
Dalam organisasi atau perusahaan, seorang pemimpin atau manajer harus memberikan perintah yang jelas kepada bawahannya. Jika dalam organisasi atau perusahaan mempunyai jenjang struktur, perintah dari pimpinan yang paling atas ke pimpinan di bawahnya harus satu bahasa dan satu kesatuan perintah.
5.      Adanya Kesatuan Arahan (Unity of direction)
Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, personil atau karyawan perlu diarahkan menuju tujuan yang menjadi sasarannya.
6.      Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri
Setiap komponen organisasi, lembaga atau perusahaan baik pimpinan atau personil atau karyawan harus mengabdikan kepentingan pribadi demi kepentingan organisasi atu perusahaan

D.    Fungsi Managemen Pendidikan

Fungsi manajemen pendidikan adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Dalam Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya, diantaranya :
1.      Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu.
2.      Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang telah dibagi-bagi.
3.      Pelaksanaan (actuating) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha. Pelaksanaan adalah proses penggerakan orang-orang untuk melakukan kegiatan pencapaian tujuan sehingga terwujud efisiensi proses dan efektivitas hasil kerja.
4.      Pengendalian (controlling) adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.

E.     Ruang Lingkup Managemen Pendidikan

Kemudian, kaitannya dengan ruang lingkup menejemen pendidikan, maka dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
1.      Menurut Wilayah kerja, ruang lingkupnya meliputi : Manajemen seluruh negara, manajemen satu propinsi, manajemen satu unit kerja, dan manajemen kelas.
2.      Menurut Objek garapan, ruang lingkupnya meliputi : Manajemen siswa, manajemen ketenaga pendidikan, manajemen sarana-prasarana, manajemen tata laksana pendidikan, mqanajemen pembiayaan dan manajemen humas.
3.      Menurut Fungsi Kegiatan, ruang lingkupnya meliputi : Merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengko-munikasikan, mengawasi atau mengevaluasi.













BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Jadi, kesimpulannya adalah, dalam sebuah organisasi lebih lebih pendidikan, menejemen sangatlah diperlukan. Karena, tampa adanya sebuah control atau menejemen, sebuah pendidikan tidak akan bisa berjalan dengan baik dan efisien dikarenakan sistem yang mengatur segala yang ada dalam pendidikan itu tidak ada.
Oleh karena itu penting sekali bagi kita sebagai seorang guru atau  pelaksana pendidikan mengetahui tentang menejemen, agar pendidikan yang kita lakukan dapat bergalan dengan baik dan efisien guna mencapai tujuan pendidikan yang semestinya.















DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional.2000. Panduan Manajemen Sekolah.Proyek Peningkatan mutu Guru Kelas SD Setara D.II Jakarta.

GENETIKA



BAB II
PEMBAHASAN

2.1    MATERI GENETIK
Material genetik bakteri terdiri atas kromosom dan plasmid. Keduanya terdiri atas DNA. Dua fungsi utama materi genetik adalah replikasi dan ekspresi. Material genetik harus bereplikasi secara akurat sehingga dihasilkan 2 replikan (anakan) yang identik dengan induknya. Materi genetik juga terekspresi dalam bentuk karakter terobservasi atau fenotip.

1.    Kromosom
Kromosom bakteri mempunyai beratnya 2-3% dari berat kering satu sel, pada sel haploid (prokariot) bersifat kromosom tunggal dan tidak berpasangan. Berbentuk sirkuler, panjangnya ± 1mm, beratnya 2-3% dari berat kering satu sel, disusun sekitar 4 juta kpb DNA, makromolekul yang sangat banyak ini dikemas agar tidak berubah dalam bentuk superkoil (± 70-130 superkoil domain) (Syahrurachman, 1994). Kebanyakan gen prokariota terdapat pada kromosom, yang terletak dalam suatu bagian pusat sitoplasma, yang dinamakan daerah nuklear atau nukleoid untukn membedakannya dari membran-pengikat nukleus pada sel eukariotik. Jumlah nukleoid dalam sel bakteri dapat lebih dari satu, tergantung kecepatan pertumbuhan dan ukuran sel. Nukleoid berisi gen yang penting untuk pertumbuhan bakteri.

2.    Plasmid
Plasmid adalah material genetik ektrakromosomal. Ukuran plasmid lebih kecil daripada kromosom. Plasmid biasanya mengkode polipeptida yang tidak penting bagi pertumbuhan secara langsung. Plasmid berbentuk sirkuler, tetapi terdapat plasmid berbentuk linier seperti terlihat pada Borrelia dan Streptomyces. Plasmid dibedakan menjadi 2, yaitu plasmid konjugatif dan non-konjugatif. Plasmid konjugatif adalah plasmid yang mampu didonorkan ke resepien, sedangkan plasmid non-konjugatif tidak

dapat didonorkan. Plasmid non-konjugatif biasanya berukuran kurang dari 7,5 kbp dan biasanya berjumlah banyak (10-20 perkromosom). Plasmid didistribusikan secara acak ke sel anakan.
Meskipun plasmid tidak berperan langsung dalam pertumbuhan, tetapi plasmid memiliki fungsi penting secara medis. Fungsi penting plasmid secara medis, yaitu kemampuan plasmid mengkode polipeptida resistensi antibiotik, toksin, struktur permukaan sel untuk perlekatan dan kolonisasi. Plasmid yang berperan dalam resistensi antibiotika disebur plasmid R atau faktor R. 

2.2    STRUKTUR DNA DAN RNA

DNA (ASAM DEOKSIRIBONUKLEAT)
DNA/ Kromosom bakteri lebih banyak diteliti dari pada kromosom organisme lain. DNA bakteri mampu mengkode 1000-3000 polipeptida yang berbeda-beda. DNA bakteri merupakan molekul berantai ganda yang sirkuler. Struktur Dna bakteri tidak merupakan bentuk sederhana tetapi merupakan belitan yang tidak teratur dalam sitoplasma. James Watson dan Francis Crick (1953) telah menemukan struktur DNA yang berupa dua untai pita DNA terpilin. Penemuan ini merupakan titik awal revolusi biologi karena merupakan penemuan struktur DNA ini sangat penting untuk mempelajari dan memahami bagaimana informasi genetik dapat dipindahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya serta bagaimana DNA dapat mengendalikan replikasinya.
Replikasi informasi herediter di dalam sel melibatkan sintesis molekul DNA baru yang mempunyai urutan nukleotida sama seperti genom sel inangnya. Molekul DNA adalah makromolekul yang mempunyai informasi herediter suatu sel. DNA ini tersusun oleh sub unit-sub unit yang disebut dengan nukleotida atau deoksiribonukleotida. Urutan nukleotida menentukan kespesifikan suatu informasi herediter dan berisi mekanisme untuk mengendalikan eksperi genetik.
Masing-masing deoksiribonukleotida terdiri dari basa nitrogen (asam nukleat), gula deoksiribosa, dan gugus fosfat. Basa asam nukleat terdiri dari basa purin terdiri : Adenin (A) dan guanin (G) yang mempunyai dua cincin. Dan pirimidin terdiri atas : timin (T) dan sitosin (C) yang hanya mempunyai satu cincin. Purin dan pirimidin merupakan molekul heterosiklis karena mengandung dua macam atom C dan N. Basa asam nukleat menempel pada deoksiribosa membentuk deoksiribonukleosida. Deoksiribonukleosida ini bergabung dengna gugus fosfat pada atom C5 membentuk subunit deoksiribonukleotida DNA.
RNA (ASAM RIBONUKLEAT)
Asam nukleat lainnya yang dijumpai secara alamiah ialah asam ribonukleat (RNA). Bedaanya dari DNA ialah :
1. Biasanya berutasan tunggal
2. Komponen gula pada nukloetida yang membentuk RNA adalah ribosa, dan bukan deoksiribose. Ribose adalah sama dengan deoksiribose kecuali adanya gugusan hidroksil pada atom karbon nomor 2
3. Basa bernitrogen pirimidin yang dijumpai pada  nukleotida yang membentuk RNA ialah urasil bukan timin.


           
2.3    REPLIKASI DNA
Replikasi DNA berarti penggandaan. Ada 3 model replikasi DNA yaitu :
1.    Model konservatif.
Model ini menyatakan bahwa 2 rantai DNA bereplikasi tanpa memisahkan rantai-rantainya.
2.    Model semi konservatif.
Model ini menyatakan bahwa 2 rantai DNA berpisah kemudian bereplikasi.
3.    Model dispersi.
Model ini menyatakan bahwa DNA terpecah menjadi potongan-potongan yang kemudian bereplikasi.
Meselson dan Stahl membuktikan bahwa DNA bereplikasi sesuai model semi-konservatif.Replikasi model semi konservatif dimulai pada suatu situs tertentu yang sudah pasti pada kromosom bakteri yang disebut titik pangkal kedua utas DNA memisah pada situs ini membentuk struktur berbentuk Y. Titik persimpangannya disebut titik tumbuh.Replikasi bergerak berurutan dari titik tumbuh, baik pada satu arah atau dua arah.Titik asal dan titik tumbuh terikat pada membran sel dan situlah kedua utusan tersebut diduplikasikan.Masing-masing utasan mempunyai urutan basa yang komplementer terhadap urutan basa pada utasan-utasan DNA yang mula-mula (Pelczar, 2009).

Enzim DNA polymerase nemanbahkan nukleotida pada ujung hidroksil-3' utasan atau utasan–utasan DNA yang sedang berreplikasi, jadi mensintenis utasan-utasan DNA dengan arah 5' ke 3'.Sejauh ini belum ditemukan polymerase yang mereplikasi dengan arah 3' ke 5'.Sintesis DNA bersifat sinambung.Selain mekanisme replikasi DNA yang baru saja diuraikan, inisiasi (pengawwalan) replikasi DNA membutuhkan suatu pancing atau pemula yaitu sepotong pendek RNA yang disentesis oleh RNA polymerase dan komplementer terhadap DNA.Dengan adanya pemula ini, DNA polymerase dapat mulai mensisntesis duoksiribonukleotida.Sekali pancingan mengena, DNA polymerase lalu mencerna RNA tersebut dapat menggantikannya dengan DNA. Berpartisipasinya RNA sebagai pancing tampaknya ekstensif karena setiap fragmen okazaki juga mengandung sebagian RNA sebagai pancing (Micheal Pelczar, 2009).
Bila titik-titik tumbuh telah bergerak di seluruh panjang molekul DNA, maka terbentuk dua molekul DNA yang lengkap.Setiap molekul berutasan ganda mengandung salah satu dari utasan asli atau satu utasan baru(Micheal Pelczar, 2009).

2.4    EKSPRESI GEN                                                
Transkripsi
Transkripsi adalah langkah pertama dalam ekspresi genetis.DNA ditranskripsi menjadi RNA. Pita DNA yang menjadi cetakan disebut DNA template. Karena RNA hasil transkripsi membawa “pesan” untuk ditranslasi, maka RNA tersebut disebut RNA messenger (mRNA). Urutan basa mRNA sama dengan urutan basa DNA non-template, kecuali timin diganti urasil. Enzim yang berperan dalam sintesis mRNA adalah enzim RNA polimerase. Urutan DNA yang ditranskrip dapat terdiri atas 1 gen atau lebih. Transkripsi yang multigen terjadi pada gen-gen yang terekspresi dalam suatu paket fungsional. 
Transkripsi DNA terdiri atas 3 tahap, yaitu inisiasi, pemanjangan, dan penghentian. Inisiasi melibatkan pengikatan RNA polimerase ke DNA template. Elongasi adalah proses sintesis mRNA oleh RNA polimerase. Penghentian meliputi penghentian pemanjangan dan pelepasan mRNA dari DNA template.

Translasi
Translasi, yaitu langkah berikut nya didalam ekspresi gan adalah proses pengarahan sintensis protein oleh informasi genetis yang sekarang ada pad molekul mRNA.
Bila keempat basa yang berbeda-beda pada nukleotida-nukleodtida mRNA itu ditata dalam suatu deretan, maka setiap deret yang terdiri dari 3 basa disebut kodon, mampu menetapakan suatu amino tertentu. Karena ada empat macam basa yang berbeda-beda, jumlah deret berbasa tiga tersebut yang mungkin terbentuk adalah 43, atau 64 macam. Triplet-triplet basa ini masing-masing menetapkan suatu asam amino tertentu, merupakan sandi genetis.Sandi ini mungkin bersifat universal bagi semua spesies organisme hidup.

Kode pertama
Kode kedua
Kode ketiga

U
C
A
G



U

Fenilalanin
Fenilalanin
Leusin
Leusin

Serin
Serin
Serin
Serin

Tirosin
Tirosin
Stop
Stop

Sistein
Sistein
Stop
Triptofan

U
C
A
G


C

Leusin
Leusin
Leusin
Leusin

Prolin
Prolin
Prolin
Prolin

Histidin
Histidin
Glutamin
Glutamin

Arginin
Arginin
Arginin
Arginin

U
C
A
G


A

Ileusin
Ileusin
Ileusin
Metionin

Treonin
Treonin
Treonin
Treonin

Asparagin
Asparagin
Lisin
Lisin

Serin
Serin
Arginin
Arginin

U
C
A
G


G

Valin
Valin
Valin
Valin

Alanin
Alanin
Alanin
Alanin

Aspartat
Aspartat
Glutamat
Glutamat

Glisin
Glisin
Glisin
Glisin

U
C
A
G

2.5 MUTASI
Mutasi adalah perubahan spontan pada gen suatu makhluk hidup/bakteri. Sebagai contoh yang sederhana adalah adanya koloni bakteri Serratia marcescens yang berwarna putih diantara koloni yang berwarna merah. Jika koloni putih tersebut diisolasi dan kemudian diteliti sifat-sifatnya serta dibandingkan dengan bakteri dari koloni merah, maka sifat-sifat selain pigmentasinya sama. Bakteri dari koloni putih tersebut dikatakan mutan kadang-kadang mutan putih tersebut dapat kembali menjadi merah. Peristiwa ini dinamakan mutasi balik
Perubahan-perubahan karena mutasi dapat dibedakan dengan modifikasi (perubahan tidak menurun) yang disebabkan karena faktor lingkungan. Dalam hal modifikasi semua sel akan mengalami perubahan fenotif, sedangkan pada mutasi hanya sebgian kecil dari populasi. Ada dua macam mutasi yaitu mutasi selektif dan mutasi tidak selektif Mutasi selektif ialah mutasi yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup bakteri tersebut. Mutasi ini terjadi pada keadaan lingkungan tertentu misalnya adanya antibiotika.Mutan tersebut dapat tumbuh dengan adanya antibiotika dalam dosis tertentu yang dapat menghambat dan membunuh sel induknya.Mutasi ini dinamakan juga mutasi buatan.Mutasi tidak selektif ialah mutasi yang tidak mempunyai sifat yang lebih menguntungkan atau merugikan dibandingkan dengan pertumbuhan sel induknya.Mutasi ini disebut juga mutasi alami, tanpa campur tangan manusia.
Mekanisme terjadinya mutasi (mutagenesis).Sel yang mengalami mutasi (mutan) mengalami perubahan urutan nukleotida dari DNA nya.Bagian DNA yang mengalami perubahan tersebut dinamakan muton. Perubahan ini akan mempengaruhi sebagian dari aktivitas sel, misalnya susunan asam amino dari polipeptida/ protein. Ditinjau dari perubahan nukleotida atau basa DNA maka dapat dikenal macam-macam perubahannya, yaitu mutasi titik. Pertukaran, pengurangan, pengisian, pembalikan
Mutasi titik adalah mutasi yang disebabkan perubahan-perubahan atau pengurangan satu basa DNA saja.Misalnya adenin diganti dengan guanin atau timin diganti dengan sitosis.Pengaruh dari perubahan tersebut tergantung dari letak basa DNA pada gen. Perubahan tersebut dapat tidak dipengaruhi produksi protein atau mempengaruhi urutan asam amino dari protein atau tidak menghasilkan protein tertentu. Jika perubahan basa DNA tidak mempengaruhi produksi protein atau gejala fenotif lain maka mutasi inya dinamakan mutasi bisu. Mutasi ini kemungkinan karena perubahan kodon yang terjadi tetap mengkode asam amino yang samaProses pertukaran, pengurangan, penambahan dan pembalikan dapat berlangsung secara sederhana artinya meliputi satu atau beberapa basa DNA saja atau mencakup beratu-ratus DNA.Mutagenesis dapat terjadi karena adanya senyawa mutagen, sinat ultra violet, cat akredin dan sebagianya.Ada beberapa macam mekanisme mutasi yaitu:
1.    Mutasi Spontan
Mutasi spontan dapt terjadi setiap 108-109 pasangan DNA dan diperoleh satu mutan. Mutasi ini disebabkan karena terjadi kerusakan fisik pada DNA, terjadi perpindahan posisi DNA , kesalahan oleh enzim pada waktu terjadi replikasi. Sehingga urutan DNA, maupum pasangan basa berubah atau berbeda bentuk yaitu dari bentuk amino menjadi imine, yang disebut tautomer.
2.    Mutagenesis dengan basa analog
Basa analog adalah senyawa yang mirip dengan basa pada DNA, tetapi susunannya berdeda.
3.    Mutagenesisi kimia
Senyawa mutagen adalah agenesia yang mampu meningkatkan frekuensi mutasi.Karena senyawa mutagen bereaksi dengan satu basa atau lebih basa DNA.Senyawa mutagen dapat berupa asam nitrit, hidroksilamin, etil, sulfonat, dan lain-lain.
4.    Mutagenesisi karena perubahan pola pembacaan (reading frame shiff)
Akredin merupakan cat yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi karena senyawa akredin mempunyai bentuk sama dengan basa DNA, sehingga molekul ini dapat disisipkan diantara dua pasangan basa DNA dan menghilangkan sebagian basa, lalu akan terjadi pola pembacaan.
5.    Mutagenesis karena radiasi
Mikrobia bila ditumbuhkan dalam kondisi alam dan terkena sinar ultra violet dapat menyebabkan perubahan DNA, sehingga menimbulkan mutasi.