Rabu, 07 Mei 2014

Letak Geografis, Silsilah, Suku, Kebudayaan dan Peradaban Pra Islam



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bangsa Arab sebelum lahirnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Letak geografis yang yang cukup strategis membuat Islam yang diturunkan di Makkah menjadi cepat disebarluaskan ke berbagai wilayah. Di samping juga didorong oleh faktor cepatnya laju perluasan wilayah yang dilakukan umat islam, dan bahkan bangsa Arab telah dapat mendirikan kerajaan di antaranya Saba’, Ma’in dan Qutban serta Himyar yang semuanya berasa di wilayah Yaman.
Di sisi lain, kenyataan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw dan diturunkan dalam konteks geografis Arab, mengimplikasikan sebuah asumsi bahwa suatu pemahaman yang komprehensif terhadap al-Qur’an hanya mungkin dilakukan dengan sekaligus melacak pemaknaan dan pemahaman pribadi, masyarakat dan lingkungan mereka yang menjadi audiens pertama al-Qur’an, yaitu Muhammad dan masyarakat Arab saat itu dengan segala kultur dan tradisinya. Dan untuk memiliki pengertian yang sebenar-benarnya tentang asal mula Islam, maka satu hal yang perlu diketahui adalah bagaimana keadaan Arab sebelum adanya Islam, Muhammad, dan sejarah Islam terdahulu.
Untuk lebih jelasnya, pemakalah akan membahas pengaruh peradaban Arab terhadap peradaban Islam, letak geografis Arab, silsilah bangsa Arab, suku-suku bangsa Arab.




B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana letak geografis Bangsa Arab?
2.      Bagaimana dengan silsilah Bangsa Arab?
3.      Bagaimana dengan suku-suku Bangsa Arab?
4.      Bagaimana dengan kebudayaan bangsa Arab?
5.      Bagaimana dengan peradaban Pra-Islam?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui dan memahami letak geografis bangsa Arab.
2.      Mengetahui dan memahami silsilah bangsa Arab.
3.      Mengerti dan mengetahui suku-suku bangsa di Arab.
4.      Dapat mengetahui dan memahami kebudayaan bangsa Arab.
5.      Mengetahui dan memahami peradaban pra Islam.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Letak Geogarfis Bangsa Arab
Kata Arab identik dengan padang pasir dan tanah kering yang tidak ada air minum maupun tumbuhan. Kata ini telah dipakai sejak zaman dahulu pada jazirah Arab. Kata itu juga dipakai untuk istilah bangsa yang mendiami daerah itu dan menjadikanya sebagai tanah airnya.
Sebelah barat jazirah Arab dibatasi dengan laut Arab dan gurun Sinai. Sebelah timur menghadap ke teluk Arab dengan laut Hindia. Di sebelah utara dibatasi dengan Syam dan sebagian berbatasan dengan Irak, meski selisih pendapat mengenai batas-batas jazirah Arab sekitar 1.000.000 mil hingga 1.300.000 persegi.[1]
Letak geografis jazirah Arab memiliki peran strategis. Secara internal ia dikelilingi oleh padang pasir dan bebatuan dari berbagai sisi. Karena kondisilah, bangsa-bangsa asing tidak mampu menguasai dan menaklukannya. Dari  sini kita menyaksikan penduduk Arab menjadi bangsa yang merdeka dahulu, padahal mereka berdampingan dengan imperium besar yang tidak ada benteng alam ini, tentu bangsa Arab takan mampu melawan tangan dua imprium tersebut.
Secara eksternal, ia terletak di persimpangan antara tiga benua yang dikenal dimasa dahulu, baik dari arah daratan mupun lautan. Sebelah barat laut menjadi pintu masuk ke benua Afrika. Sebelah timur laut terbuka gerbang untuk bangsa-bangsa non Arab yang terdiri dari bangsa-bangsa Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara. Laut dari semua benua juga bertemu dijazirah Arab sehingga kapak-kapal biasa singgah dipelabuhan utama jazirah Arab.
Karena kondisi geografis inilah, sebelah utara jazirah Arab dan sebelah selatannya menjadi pemukiman yang pada penduduk dan menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, agama dan seni. [2]
Jazirah dalam bahasa Arab berarti pulau. Jadi “Jazirah Arab” berarti “pulau Arab”. Sebagian ahli sejarah menamai tanah Arab itu dengan “Shibhul Jazirah” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Semenanjung”. Dilihat dari peta, Jazirah Arab berbentuk persegi panjang yang sisi-sisinya tidak sejajar.[3]
B.     Silsilah Bangsa Arab Pra-Islam
Bangsa Arab hidup berpindah-pindah, no maden karena tanahnya terdiri atas gurun pasir yang kering dan sangat sedikit turun hujan. Perpindahan bangsa Arab dari satu tempat ke tempat lain mengikuti tumbuhnya stepa dipadang rumput yang tumbuh secara sporadis di tanah Arab. Padang rumput diperlukan oleh bangsa Arab yang disebut juga Badawi, Badawah, Badui, untuk menggembalakan ternak mereka berupa domba, unta, dan kuda sebagai binatang unggulannya. Penduduk Arab tinggal di kemah-kemah dan hidup berburu untuk mencari nafkah, bukan bertani dan berdagang yang tidak diyakini sebagai kehormatan bagi mereka. Wilayah Arab ini subur dalam menghasilkan bahan perminyakan.[4]
Para penulis klasik membagi negeri itu menjadi Arab Felix, Arab Petra, dan Arab Gurun, ini didasarkan atas pembagian wilayah itu kedalam tiga kekuatan politik pada abad pertama masehi yakni kawasan yang secara nominal berada dalam kendali persia. Arab Felix meliputi bagian semenanjung Arab, yang kondisinya tidak banyak diketahui. Arab Petra (gunung batu) berpusat didataran Sinai dan kerajaan Nabasia dengan ibukota petra. Arab gurun meliputi gurun pasir Suriah-Mesopotania (badiyah).

Ungkapan orang-orang Arab pertama kali digunakan dalam literatur Yunani oleh Aeschylus (525-456 S:M) yang merujuk pada para perwira tinggi Arab yang ikut dalam barisan angkatan perang Xerxes. Semenanjung Arab adalah sebuah negeri yang sangat makmur dan mewah. Arab merupakan negeri tempat tumbuhnya tanaman penghasil wewangian dan rempah-rempah lainnya. Ciri bangsa Arab yang paling memikat para penulis barat ialah ciri yang terakhir (terutama minyak, pen). Watak orang-orang Arab yang independen telah menjadi bahan pujian dan kekaguman para penulis Eropa sejak masa lalu hingga saat ini. Itulah asal-usul bangsa Arab yang memiliki ciri karakteristik yang unik dan istimewa.[5]
Wilayah geografis yang didiami bangsa Arab sebelum islam, orang membatasi pembicaraan hanya pada jazirah Arab padahal bangsa Arab juga mendiami daerah-daerah disekitar jazirah. Jazirah Arab merupakan kediaman mayoritas bangsa Arab kala itu. Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian besar yakni bagian tengah dan bagian pesisir. Di sana tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang hanya adalah lembah-lembah berair dimusim hujan. Sebagian besar daerah jazirah Arab adalah padang pasir sahara yang terletak di tengah dan memiliki keadaan dan sifat yang berbeda-beda. Karena itu, ia di bagi menjadi tiga bagian yaitu [6]:
1.      Sahara langit, memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur ke barat, disebut juga sahara Nufud.
2.      Sahara Selatan, yang membentang menyambung sahara langit ke arah timur sampai selatan persia.
3.      Sahara Harrat, suat daerah yang terdiri atas tanah Hat yang berbatu hitam bagaikan terbakar.
Penduduk Sahara minoritas terdiri atas suku-suku Badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan dan nomaden, berpindah dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari air dan padang rumput untuk binatang gembalaan mereka yaitu kambing dan unta. Adapun daerah pesisir bila dibandingkan dengan Sahara sangat kecil, bagaikan selembar pita yang mengelilingi jazirah.
Bila di lihat dari asal-usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu Qathaniyun (keturunan Qahthan) dan ‘Adnaniyun (keturunan Ismail dan Ibrahim).
Masyarakat baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan badui. Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Bebrapa kelompok kabilah membentuk suku (trile) dan dipimpin oleh seorang syekh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan, sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang. Oleh karena itu, peperangan antar suku sering terjadi. Sikap ini tampaknya telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang Arab.
Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan bangsa Arab tidak berkembang. Ahmad Syalabi menyebutkan, sejarah mereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama islam.[7] Pengetahuan itu diperoleh melalui syair-syair yang beredar di kalangan para perawi syair.
C.    Suku-Suku Bangsa Arab
Berdasarkan garis keturunannya, para ahli sejarah mengkategorikan silsilah bangsa Arab kedala tiga macam, yaitu[8]:
1.      Arab al-ba’idah yaitu bangsa Arab yang telah lama musnah dan tidak mungkin lagi ditemukan detail-detail mengenai sejarahnya, contohnhya: kaum ad, tsamud, thasm, jadis, imlaq, umaim, jurhum, hadhur, wabar, abil,  jasim, hadhramaut, dan lain-lain .
2.      Arab al-Arabiah, yaitu bangsa Arab yang merupakan keturunan yasjub bin ya’rub bin qahthan, yang juga dikenal dengan nama Arab qathaniyyah.
3.      Arab musta’ribah, yaitu bangsa Arab yang merupakan keturunan ismail, yang juga dikenal dengan nama Arab adaniyyah.
Arab al-aribah, merupakan klan qahthan, bermukim didaerah Yaman suku dan golongan-golongannya berkembang semakin banyak, mereka merupakan keturunan saba bin yasjub bin ya’rub bin qahthan.
Dibangsa ini, kabilah yang paling terkenal adalah kabilah himyar bin saba dan kahlan bin saba, masih ada golongan-golongan suku saba yang lain yang berjumlah 11 atau 13 keturunan dan mereka merupakan populer dengan sebutan as-saba’iyyun, bangsa Arabiah merupakan sebutan lain dari bani saba.

Suku Himyar
Golongan suku himyar yang terkenal adalah :
a)      Qudha’ah yang diantaranya adalah bahra, baily, al-qain, kalb udzrah dan wabarah.
b)      As-sakasik, yang merupakan keturunan zaid bin wa’ilah bin himyar, zaid bergelar as-sakasik, ini bukan sakasik yang berasal dari suku kindah yang merupakan golonga dari suku kahlan
c)      Zaid al jumhur, yang meliputi himyar al-ashgar, saba al-asghar, hadhur dan dzu ashbah.
Suku kahlan
Golongan suku kahlan yang terkenal adalah : hamdan, alhan, asy’ar thayyi, madzhij ( yang melahirkan ans dan an-nakhl ) lahkm ( yang melahirkan kindah, lalu kindah melahirkan muawiyyah, bin as-sakun dan bani as-sakasik ), judzam, amilah, khaulan, ma’afir, anmar ( yang azd (dari al-azd  lahir dari golongan al-aus, al-khajraz,dan anak-anak jafnah yang menjadi raja syam yang terkenal dengan sebutan keturunan ghassan)
Suku kahlan melakukan imigrasi bahwa kebanyakan mereka berimigrasi sebelum terjadi banjir sail al-iram saat perniagaan mereka mengalami kegagalan karena romawi menguasai jalur perdagangan laut dan melumpuhkan jalur darat setelah menguasai mesir dan syam.
Ada pula yang berpendapat bahwa mereka berhijrah setelah terjadi banjir, saat lahan pertanian dan perternakan mereka mengalami kerusakan besar-besaran, setelah sebelumnya perniagaan mereka mengalami kegagalan total dengan begitu, mereka kehilangan sumber daya kehidupan. Pendapat ini dikuatkan dengan konteks kisah dalam QS. Saba’ ayat 15-19
Tidak dirugikan lagi, jika ada sebab selain sebab-sebab tersbeut, maka itu adalah persaingan antara suku himyar dan suku kahlan yang menyebabkan terusirnya suku kahlan . hal itu ditunjukkan denga berkuasanya suku himyar di yaman dan imigrasinya suku kahlan.
Golongan-golongan suku kahlan yang melakukan imigrasi bisa diklasifikasikan menjadi empat golongan, yakni :
a)      Al-azd
Imigrasi mereka karena mengiktui pendapat pemimpin mereka yang bernama “ imran bin amur muzaikiya. Mereka berpindah-pindha diyaman dengan membawa pemandu-pemandu jalan, lalu mereka pergi kearah utara dan timur. Adapun tempat-tempat yang di singgahi dan menjadi tempat tinggal setelah perjalana mereka adalah : “ imran dan amru tinggal di oman. Ia dan anak-anaknya tinggal disana. Mereka adalh suku azd oman.
Bani nashr bin al az tinggal didaerah tihamah. Mereka adalah suku azd syanu’ah. Tsa’labah bin amru muzaiqiya menuju dareha hijaz dan mendiami daerah antara ats-tsalabiyyah dan dziqar.
b)      Lahkm dan judzam
Mereka berpindah kearah timur dan utara dari negeri yaman. Salah satu dari sukulahkm adalah nashr bin rabiah, bapak dari raja-raja di al-hijrah.
c)      Bani thayyi
Setelah suku al-azd berimigrasi mereka juga pindah menuju utara hingga singgah dan mendiami daerah antara gunung aja dan gunung salma dua gunung itu dikenal dengan sbeutan dua gunung thayyi.
d)     Kindah
Mereka tinggal dibahrain dan terpaksa meninggalkanya, lalu singgah di hadramaut mereka mengalami hal serupa dengan mereka yang alami di bahrain. Mereka pun pergi kenajd. Disana mereka membangun kerajaan besar, hanya saja dalam waktu singkat, kerajaan itu hancur dan lenyaplah sisa-sisa peradabannya.
D.    Kebudayaan bangsa Arab Pra Islam
Wilayah Timur Tengah menurut Ali Mufrodi meliputi Turki, Iran, Israel, Libanon, Yordania, Syiria, Mesir dan kerajaan-kerajaan yang ada di kawasan Teluk Persia.[9] Turki yang berbudaya Turki dan Iran yang berbudaya Persia tidak dianggap berkebudayaan Arab karena memiliki kebudayaan sendiri-sendiri demikian juga Mesir yang sudah memiliki budaya Firaun, sedangkan yang masuk kawasan kebudayaan Arab terdiri dari Timur Tengah Afrika Utara seperti Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libia. yang menurut Haekal antara budaya dan peradaban tersebut tidak pernah saling mempengaruhi perkembangannya kecuali setelah adanya akulturasi dan asimilasi dengan peradaban Islam.
Orang-orang arab sebelum islam telah mengalami periode-periode kemajuan dengan adanya kerajaan-kerajaan sehingga hasil budaya mereka didapati beberapa bekasnya yang dapat di bagi kepada :
1.      Budaya materil yang sangat terkenal adalah: bendungan Ma'rib di Yaman dari kerajaan saba dan begitu juga bekas-bekas kerajaan Tsamud, Aad dan kaum Amalika.
2.      Budaya non material, sangat banyak juga yang terkenal, di antaranya, syair-syair bangsa arab yang terkenal dengan cerita-cerita tentang keturunan dan keahlian dalam membuat patung, keahlian mereka dalam bersyair sebenarnya karena mereka dapat mengetahui bangsa yang halus dan menarik dengan bahasa yang indah mereka dapat mewariskan amtsai (pepatah arab) dan pepatah itu merupakan kata-kata orang bijak seperti Luqman
Di samping budaya yang didapat dari bangsa Arab sebelum Islam, mereka terkenal terikat dengan Tahayul dan adat istiadat yang melembaga diturunkan turun temurun. Tahayul dan adat istiadat ini bertumpu kepada kepercayaan Watsaniyah. Mereka percaya hantu dan Roh jahat. Mereka juga percaya kepada kahin (tukang tenun, ramal). Mereka juga meyakini kejadian-kejadian alam yang halus. Misalnya, kalau terjadi sesat di jalan, hendaklah dibalikkan baju supaya dapat petunjuk.
Meskipun belum terdapat sistem pendidikan, masyarakat Arabia pada saat itu tidak mengabaikan kemajuan kebudayaan. Mereka sangat terkenal kemahirannya dalam bidang sastra yaitu bahasa dan syair. Bahasa mereka sangat kaya sebanding dengan bahasa Eropa sekarang ini. Keistimewaan bangsa Arabia di bidang bahasa merupakan kontribusi mereka yang cukup penting terhadap perkembangan dan penyebaran agama Islam.
E.      Peradaban Arab Pra-Islam
Peradaban Arab adalah akibat pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih dahulu maju daripada kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh itu masuk ke jazirah Arab melalui beberapa jalur yang terpenting di antaranya adalah :
1.      Melalui hubungan dagang dengan bangsa lain.
2.      Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, hirah, dan ghassan.
3.      Masuknya misi yahudi dan kristen.[10]
Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa Siria, Persia, Habsyim Mesir (Qibthi), dan Romawi yang semuanya telah mendapat pengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Penganut agama yahudi juga banyak mendirikan koloni di jazirah Arab, yang terpenting di antaranya adalah Yatsrib.
Walaupun agama yahudi dan kristen sudah masuk ke Jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka yaitu percaya pada banyak dewa, yang diwujudkan dalam bentuk berhala dan patung.
Orang-orang Arab adalah orang yang bangga, tetapi sensitif. Kebanggaan itu disebabkan bahwa bangsa Arab memiliki sastra yang terkenal; kejayaan sejarah Arab, dan mahkota bumi pada masa klasik dan bahasa Arab sebagai bahasa ibu yang terbaik di antara bahasa-bahasa lain di dunia. Beberapa sifat lain bangsa Arab pra-islam adalah sebagai berikut [11]
1.      Secara fisik, mereka lebih sempurna dibanding orang-orang eropa dalam berbagai organ tubuh.
2.      Kurang bagus dalam pengorganisasian kekuatan dan lemah dalam penyatuan aksi.
3.      Faktor keturunan, kearifan, dan keberanian lebih kuat dan berpengaruh.
4.      Mempunyai struktur kesukuan yang diatur oleh kepala suku atau clan.
5.      Tidak memiliki hukum yang reguler, kekuatan pribadi, dan pendapat suku lebih kuat dan diperhatikan.
6.      Posisi wanita tidak lebih baik dari binatang, wanita dianggap barang-barang dan hewan ternak yang tidak mempunyai hak. Setelah menikah, suami sebagai raja dan penguasa.
Dalam bidang hukum, Musthafa Sa’id Al-Khinn sebagaimana dikutip oleh jaih mubarok [12]menyebutkan bahwa bangsa Arab pra-Islam menjadikan adat sebagai hukum dengan berbagai bentuknya. Dalam perkawinan, mereka mengenal beberapa macam perkawinan, di antaranya :
1.      Istibadha
2.      Poliandri
3.      Maqthu’
4.      Badal
5.      Shighar
Selain beberapa tipe perkawinan di atas, Fyzee yang mengutip pendapat Abdur Rahim dalam buku Kasf Al-Ghumma,[13] menjelaskan beberapa perkawinan lain yang terjadi pada bangsa Arab sebelum datangnya Islam sebagai berikut :
1)      Bentuk perkawinan yang diberi sanksi oleh Islam, yakni seseorang meminta kepada orang lain untuk menikahi saudara perempuan atau budak dengan bayaran tertentu (mirip kawin kontrak).
2)      Prostitusi, biasanya dilakukan kepada para pendatang atau tamu di tenda-tenda denga cara mengibarkan bendera sebagai tanda memanggil. Jika wanitanya hamil, ia akan memilih antara laki-laki yang mengencaninya sebagai bapak dari anak yang dikandung.
3)      Mut’ah adalah praktik yang umum dilakukan oleh bangsa Arab sebelum Islam meskipun pada awalnya, Nabi Muhammad SAW membiarkannya tapi selanjutnya melarangnya. Hanya kelompok syiah itsna ‘ashari yang mengijinkan perkawinan tersebut.
Anderson menambahkan pula bahwa di Arab pada jaman pra-islam, tampaknya telah ada berbagai macam corak perkawinan boleh jadi mulai dari perkawinan patrilineal dan patrilokal sampai pada perkawinan matrilineal dan matrilokal, termasuk juga apa yang dikenal sebagai perkawinan sementara waktu untuk bersenang-senang (mut’ah).[14][14]
Dalam kasus lain, anderson menguraikan bahwa bangsa Arab sebelum islam, sebagaimana orang badui di Arab sekarang, terorganisasikan berdasarkan kesukuan dan bersifat patriakal. Diluar suku, tidak ada jaminan keamanan, selain hukum. Pertumpahan darah yang tidak tertulis berdasarkan hukum ini, seseorang harus dibela oleh sanak keluarganya dari pihak laki-laki, bila dia dibunuh oleh salah seorang anggota suku lain, sedangkan sanak keluarga dari pihak laki-laki si pembunuh, jika mereka tidak menghendaki pertumpahan darah lebih lanjut, harus menyediakan tebusan darah, berupa sejumlah uang imbalan untuk diberikan kepada “ahli waris”. Oleh karena itu, wajarlah bila keturunan terdekat dari pihak laki-laki secara hukum berhak mewarisi harta milik seseorang pada saat dia meninggal, sedangkan para wanita, sanak keluarga jauh dan anak-anak yang belum dewasa tidak memiliki hak seperti itu.[15]
Uraian singkat di atas menunjukkan bahwa kondisi sosial Arab meskipun cenderung primitif, memiliki nilai peradaban yang tinggi bahkan menjadi istilah goldziher, meskipun bangsa Arab cenderung barbarisme, bukan jahiliyah (bodoh, dungu dan awam).[16]















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Letak geografis jazirah Arab Sebelah barat jazirah Arab dibatasi dengan laut Arab dan gurun Sinai. Sebelah timur menghadap ke teluk Arab dengan laut Hindia. Di sebelah utara dibatasi dengan Syam dan sebagian berbatasan dengan Irak, meski selisih pendapat mengenai batas-batas jazirah Arab sekitar 1.000.000 mil hingga 1.300.000 persegi.
Bangsa Arab hidup berpindah-pindah, no maden karena tanahnya terdiri atas gurun pasir yang kering dan sangat sedikit turun hujan. Perpindahan bangsa Arab dari satu tempat ke tempat lain mengikuti tumbuhnya stepa dipadang rumput yang tumbuh secara sporadis di tanah Arab.
Suku-suku bangsa Arab terbagi menjadi dua :
1.      Suku Himyar
2.      Suku Kahlan
Dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial Arab meskipun cenderung primitif, memiliki nilai peradaban yang tinggi bahkan menjadi istilah goldziher, meskipun bangsa Arab cenderung barbarisme, bukan jahiliyah (bodoh, dungu dan awam).









DAFTAR PUSTAKA

Al-Mubarakfuri ,Syeikh Shafirrahman, , 2012,sejarah Emas dan Atlas Perjalanan Nabi Muhamad, Jakarta: Jaziyad visi Media.
Dedi Supriyadi, 2008,Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia
A.Syalabi, 1983, Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, Jakarta: Pustaka Al-husna.
Mufrodi,Ali ,1997,Islam di kawasan Kebudayaan Arab, Jakrta : Logos.






[1] Syeikh Shafirrahman Al-Mubarakfuri, sejarah Emas dan Atlas Perjalanan Nabi Muhamad, Jaziyad visi Media, Jakarta, 2012 hlm 28-30
[2] Syeikh Shafirrahman Al-Mubarakfuri, sejarah Emas dan Atlas Perjalanan Nabi Muhamad, Jaziyad visi Media, Jakarta, 2012 hlm 30
[3] http://hitsuke.blogspot.com/2009/05/kondisi-masyarakat-arab-pada-masa-pra.html diunduh pada hari Rabu tanggal  20-februari 2013 pukul 18.56 WIB
[4]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Setia, Bandung, 2008 hlm 47
[5]Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Setia, Bandung, 2008 hlm 49
[6] Ibid hlm 49
[7]A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 1, Pustaka Al-husna,Jakarta 1983 hlm 29
[8]Syeikh Shafirrahman Al-Mubarakfuri, sejarah Emas dan Atlas Perjalanan Nabi Muhamad, Jaziyad visi Media, Jakarta, 2012 hlm 32-35
[9]  Ali Mufrodi, Islam di kawasan Kebudayaan Arab, Jakrta : Logos 1997. Hal 3-4
[10] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Setia, Bandung, 2008 hlm 54
[11] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Setia, Bandung, 2008 hlm 55
[12] Ibid  hlm 55
[13] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Setia, Bandung, 2008 hlm 56
[14] Ibid hlm 57
[15] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Setia, Bandung, 2008 hlm 57
[16] Ibid hlm 57

Tidak ada komentar:

Posting Komentar