Kamis, 29 Mei 2014

Semburat Cahaya Islam di Belanda



DEN HAAG malam itu menggigil dalam suhu udara 3 derajat Celcius. "Inilah masjid kita," kata M Chaeron, mantan Ketua Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME), kepada Republika di Den Haag. Dari luar, bangunan itu tidak mirip dengan masjid umumnya. Rumah panjang bertingkat dua, tanpa kubah. Suasana masjid baru terlihat ketika masuk ke dalam. Ada mihrab dan bentangan sajadah. Masjid Al-Hikmah di Heeswijkpein, Moerwijk kota Den Haag itu awalnya adalah gereja Immanuel.
Pada akhir 1995, di saat umat Islam Indonesia berupaya keras mengumpulkan dana untuk mendirikan masjid -- setelah musholah Al-Ittihad tidak dapat lagi menampung jamaah yang terus bertambah -- Probosutedjo, pengusaha Indonesia, membeli gereja tersebut dan mewakafkannya atas nama kakaknya RH Haris Sutjipto, yang wafat di Leiden, Desember 1995 setelah dirawat di kota itu. Masjid itu diserahterimakan Probo untuk umat Islam pada 1 Juli 1996.
Mengapa gereja? Untuk mendirikan bangunan baru di Belanda tidak mudah, sementara ketika itu banyak gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual kepada umum. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, salah seorang pendiri PPME, masyarakat sekitar gereja lebih senang gereja itu dijadikan masjid daripada digunakan untuk kepentingan lain, diskotik misalnya.
Gereja Immanuel itu kini menjadi masjid. Lantai bawah digunakan untuk pengajian dan kegiatan remaja Islam. Lantai atas untuk shalat. Pada Ramadhan lalu, masjid Al-Hikmah dipenuhi warga Indonesia, yang diperkirakan lebih 5.000 orang.
Berdirinya Masjid Al-Hikmah memperpanjang deretan jumlah masjid di Belanda. Pada 1990 saja, jumlah masjid sudah mencapai 300 di seluruh Belanda. Ini meningkat jauh dari 1971, yang ketika itu hanya terdapat beberapa buah, di antaranya Masjid Mubarak yang didirikan kalangan Ahmadiyah (1953), dan Masjid Maluku An-Nur di Balk. Masjid Maluku itu didirikan eks anggota Koninklijk Nederlandse Indische Leger (KNIL). Pada 1951-1952 sekitar 12 ribu anggota KNIL beserta keluarganya dari Maluku dibawa ke Belanda. Sebagian mereka beragama Kristen, sebagian lainnya Islam. Saat ini diperkirakan terdapat lebih 50 ribu orang Maluku di Belanda.
Berdasarkan data statistik Central Bureau de Statistiek 1994, jumlah umat Islam dari 15.341.553 jumlah penduduk Belanda saat itu, menempati posisi ketiga (3,7 persen), setelah Katolik Roma (32 persen), dan Kristen Protestan (22 persen). Sebanyak 40 persen warga Belanda mengaku tidak beragama, dan sekitar 0,5 persen pemeluk Hindu. Pada 1971, jumlah umat Islam 54.300 jiwa, dan meningkat pesat pada 1993 menjadi 560.300 jiwa. Kenaikan rata-rata 0,6 persen setahun. Umat Islam itu berasal dari Turki (46 persen), Maroko (38,8 persen), Suriname (6,2 persen), Pakistan (2,2 persen), Mesir (0,7 persen), Tunisia (0,9 persen), Indonesia (1,6 persen), dan lainnya (3,9 persen). Bertambahnya jumlah umat Islam dari tahun ke tahun itu, diperkirakan berasal dari imigran dan sebagian lain mendapatkan hidayah, dan pernikahan.
Islam di Belanda awalnya diperkenalkan sekelompok mubaligh Ahmadiyah. Kelompok yang menamakan dirinya Holland Mission ini giat berdakwah melalui diskusi dan berbagai tulisan. Mereka juga menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Belanda.
Dalam In het Land van de Overheerser karya Harry A Poeze, seperti dikutip Muhammad Hisyam dalam buku PPME; Sekilas Sejarah dan Peranannya dalam Dakwah Islam di Nederland, orang Islam pertama yang datang ke Belanda justru adalah Abdus Samad, Duta Besar Kesultanan Aceh untuk Belanda, pada tahun 1602. Hanya saja, kedatangan Abdus Samad ketika itu tidak dalam misi dakwah, selain waktu kunjungan yang singkat.
Selain Ahmadiyah, Islam mulai berkembang melalui orang-orang Indonesia. Ketika Belanda menerapkan politik etis, orang-orang Indonesia yang sebagian besar beragama Islam, berdatangan ke Belanda. Pada 1930-an, mereka mendirikan Perkoempoelan Islam. Organisasi, yang didirikan seorang Belanda Van Beetem yang kemudian berganti nama menjadi Mohammad Ali, ini diakui pemerintah Belanda, dan merupakan organisasi Islam pertama.
Selanjutnya, pada 1951-1952, sekitar 12 ribu anggota KNIL yang sebagian besar berasal dari Maluku, sebanyak 200 di antaranya beragama Islam, datang ke Belanda. Mereka yang semula ditempatkan dalam satu kamp dengan non-Muslim, lalu memisahkan diri dan bergabung sesama Muslim di kamp Wijldemaerk, Desa Balk, Provinsi Friesland. Di sinilah mereka membangun Masjid An-Nur yang dipimpin Haji Ahmad Tan. Sebagian lain, yang pindah ke Riiderkerk, mendirikan Masjid Baiturrahman yang indah pada 1990. Masjid ini pendanaannya dibantu Pemerintah Belanda.
Muslim Indonesia
Seperti Muslim Maluku, Ahmadiyah, Maroko, Suriname, dan Tunisia -- yang mendirikan organisasi, tempat ibadah, dakwah, dan membina agama bagi kelompoknya -- Muslim Indonesia pun membentuk kelompok tersendiri. Selain Perkoempoelan Islam, juga berdiri Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME) pada 1971. PPME yang hingga kini tetap bertahan, didirikan oleh mahasiswa dan pemuda Indonesia di Belanda dan Timur Tengah. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, para mahasiswa Indonesia dari Timur Tengah, termasuk Abdurrahman Wahid (Gus Dur) -- kini Presiden RI -- umumnya memilih Belanda dan Jerman sebagai tempat liburan. Melalui diskusi-diskusi intensif, para pemuda dan mahasiswa Indonesia di perantauan tersebut, akhirnya disepakati dibentuknya sebuah organisasi.
Pertemuan pertama diadakan pada musim dingin awal Januari 1971 di Den Haag. Hadir ketika itu dari Rotterdam yakni Gus Dur, T Razali, Moh Chaeron, A Hambali Maksum, Abdul Muiz Kaderi, Rais Mustafa, dan Moh Sayuti Suaib. Dari Den Haag hadir Ramhat Zitter, Amir Alhajri, dan Jus Muhtar; dari Jerman Abdul Wahid Kadungga, Ali Baba, dan A Donny.
Pada 12 April 1971, PPME resmi dibentuk. Ketua ketika itu dipilih Abdul Wahid Kadungga, sekteratis Hambali Maksum. Gus Dur ketika itu diunggulkan memimpin organisasi ini, namun ia menolak karena berencana pulang ke Indonesia.
Ahmad Nafan Sulchan bercerita, jika ke Belanda Gus Dur selalu bertemu dengan para pengurus PPME, bahkan menginap di Mushola Al-Ittihad yang didirikan PPME. Beberapa bulan sebelum menjadi Presiden RI, Gus Dur sempat mengatakan bahwa jika ia datang lagi ke Belanda, ia tidak lagi bisa bebas seperti semula karena sudah diatur protokoler."Ternyata, benar. Gus Dur kini menjadi Presiden," ujar Nafan kepada Republika di Den Haag dua pekan lalu.
Mushola Al-Ittihad yang terletak di Daguerrestr No 2 Den Haag itu, juga pernah dikunjungi tokoh-tokoh Indonesia, antara lain Jenderal Purn AH Nasution, Ruslan Abdul Gani, Munawir Sadjzali, Nurcholis Madjid, WS Rendra, Emha Ainun Nadjib, dan Taufik Abdullah.
Setelah PPME terbentuk di Belanda, dua tahun kemudian di Jerman dibentuk pula PPME. Pernyataan berdirinya PPME pada 19 Januari 1973 itu antara lain ditandatangani oleh Akias AM, Romdhon Bernama Kusumah, AM Saefuddin, Saiful Rangkuti, Hasbi Tirtapraja, Sofyan Sadeli, Suparwata Rasyid, Titie Bernama Kusumah, Syamsuddin, Masykur Abdullah. Ketua umum dijabat Rasjid Soeparwata, seketaris umum Sofyan Sadeli. Sedangkan AM Saefuddin, mantan Menpangan, sebagai penasihat.
Dengan berdirinya PPME Jerman, status PPME Belanda akhirnya dinaikkan menjadi Dewan Pimpinan Pusat PPME, sedangkan Jerman menjadi Dewan Perwakilan Wilayah. Juga dibentuk DPW lain, yakni DPW Holland dengan cabang antara lain Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, dan Delf. Di Jerman, dibentuk cabang Dortmund, Frankfurt, Darmstadt, Offenbach, Giessen, dan Berlin.
Dalam perjalanannya, PPME yang menyadari posisi umat Islam minoritas, menjalin kerjasama organisasi-organisasi Islam internasional. Kontak-kontak kerjasama antara lain dilakukan dengan Mu'tamar al-'Alam al Islami di Pakistan, Muslim Word League di Makkah, Rabithah al-'Alam al-Islami di Makkah, dan World Assembly of Muslim Youth (WAMY) di Riyad. Hubungan dengan lembaga-lembaga tersebut antara lain soal buku-buku dan informasi. PPME adalah anggota tetap WAMY.
Hubungan kerjasama juga dilakukan dengan organisasi-organisasi Islam di Belanda dan Jerman, antara lain dengan organisasi Islam Turki, Maroko, Tunisia, dan Suriname. Di Belanda, juga berdiri Nederlandse Islamitische Parlement (NIP), organisasi yang bergerak dalam bidang penggalangan dan penyatuan organisasi-organisasi Islam di Belanda. Selain itu ada pula Federasi Organisatie Muslim Nederland. Federasi ini berfungsi mewakili kepentingan umat Islam dalam hubungannya dengan Pemerintah Belanda. Hubungan PPME dengan organisasi-organisasi itu antara lain menyangkut tukar menukar informasi.
Dalam skala besar, PPME menjalin hubungan dengan Rabithah Alam Islami, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan Stichting Der Islamitische Gemeenten in Suriname (SIS), dalam mengirim dai-dai ke Suriname. Melalui PPME pula, sejumlah alumni Timur Tengah berhasil direkrut sebagai guru agama di Suriname.
Selain itu, PPME juga ikut memprakarsai berdirinya Federatie Organisaties Muslim Nederland, yang diketuai tokoh Muslim Belanda Abdul Wahid van Bommel. Organisasi ini kemudian bubar dan diganti Islamitische Informatie Centrum.
Untuk internal, PPME pun giat mendorong remaja Muslim belajar Islam. Menurut Chaeron, mantan ketua PPME periode 1976-1979, pada setiap libur para remaja Islam dari Amsterdam, Den Haag maupun Rotterdam melaksanakan flits school atau pesantren kilat. "Kita perlu terus menerus memberikan pengajaran agama kepada mereka," ujar mantan wartawan Harian Abadi ini.
Dalam kegiatan dakwah dan sosial, PPME antara lain melakukan pengislaman, mengorganisasi perjalanan haji/umroh, pernikahan, dan memelihara solidaritas kekeluargaan. Dalam pengislaman, menurut laporan kerja kepengurusan periode pertama (71-73), PPME mengislamkan 21 orang (enam lelaki, 15 perempuan). Tahun 1984-1986 sebanyak sembilan orang yang terdiri diri dari orang Indonesia, Belanda, dan Inggris. Periode berikutnya sebanyak enam keluarga atau 33 orang. Jumlah seluruhnya tidak ada data resmi.
PPME juga memanfaatkan media elektronik dalam berdakwah. Melalui Kepala Seksi Siaran Bahasa Indonesia di Radio Hilversum, Ny Ardamari Sudji, pada 1970-an PPME diberikan kesempatan untuk mengisi siaran khusus Mimbar Jumat di radio tersebut. Namun sejak Januari 1994, acara itu ditiadakan lagi karena munculnya peraturan dari Pemerintah Belanda menghapuskan acara-acara yang tidak diprioritaskan atas pertimbangan keuangan.
PPME telah berbuat banyak. Masjid Al-Hikmah, yang semula adalah bangunan gereja, pun berdiri kokoh. Dalam buku tamu di pintu masuk masjid, Republika menulis pesan: Insya Allah, dari sini, dari masjid ini, Islam berjaya kembali di Eropa. asro kamal rokan

Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta © PT Abdi Bangsa 2000



BIDADARI KECIL




Awal Agustus 1998
Petikan gitar Slash yang membahana dari kamar sebelah membangunkanku dari tidur panjang. Aku menggeliat malas dan mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat. Pengaruh ekstasi yang kuminum tadi malam bersama Ardy sudah mulai mengendap. Basi'an, begitu istilah yang digunakan anak-anak muda terhadap pengaruh pemakaian ekstasi. Tenggorokanku terasa kering dan panas. Aku mencoba menggapai gelas yang ada di samping ranjang. Kosong. Tak berisi setetes airpun.

Aku menoleh. Ardy masih tergolek di sampingku. Tadi malam memang ia mengkonsumsi pil-pil setan itu jauh lebih banyak dariku. Tak heran jika sekarang ia masih tertidur nyenyak. Perbuatan yang kami lakukan semalam sangat liar.

Aku berusaha bangkit untuk mengambil sebotol Aqua dari dalam kulkas. Dengan sisa tenaga yang ada, aku berhasil menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya. Setelah itu aku berjalan ke kamar mandi, ingin mengguyur tubuhku yang terasa panas dan berkeringat.

Untung saja tempat kost yang baru kutempati dua bulan terakhir ini tidak seketat tempat kostku yang dulu. Rata-rata penghuni rumah mewah bertingkat tiga ini memang orang-orang mencintai pergaulan bebas dan pengkonsumsi narkoba seperti diriku. Ditambah lagi pemilik kost tinggal di Bandung dan jarang mengunjungi tempat ini. Mereka hanya mempercayakan keamanan kost kepada seorang satpam dan lima orang pembantu rumah tangga yang mata duitan. Keenam orang hanya ingin uang kost dibayar tepat waktu, dengan sejumlah tip untuk membungkam mulut mereka. Mereka tidak peduli para penghuninya mabuk-mabukan, pesta narkoba atau tinggal bersama. Yang penting bagi mereka adalah uang karena mereka sendiri bukan orang yang suci. Tersiar kabar bahwa pembantu-pembantu rumah tangga itu menjalani pekerjaan lain sebagai pramuria di warung bilyard.

"Vi! Evi! Lagi ngapain kamu di dalam? Mandi ya?" Terdengar suara Ardy mencariku.

"Iya, Dy! Panas, nih!" Seruku dari dalam kamar mandi.

"Jangan lama-lama yah! Aku mau pipis nih!" Teriaknya.

Aku melengos. Memang setelah pengaruh obat-obatan tidak terasa lagi, aku sering merasa malas dan muak melihat Ardy. Entah mengapa. Aku hanya menyukainya jika dalam keadaan fly. Mungkin karena itulah cinta di antara pemuja obat-obatan terlarang dan pergaulan bebas sepertiku tak pernah langgeng.

Ardy sedang duduk mencangkung dengan celana pendek dan kaus oblong kumalnya ketika aku keluar dari kamar mandi. Asap rokok berbentuk bulatan-bulatan putih seperti donat menghempus dari hidungnya. Aku tersenyum terpaksa.
"Vi, basi'an kamu? Langsung mandi gitu!" ujarnya dengan gayanya yang kurang ajar.

Aku melengos. Aku memang tidak menganggap Ardy istimewa. Ia sama bejatnya seperti Roy, Glen, Harry, Rudy, bahkan Aryo yang telah merenggut keperawananku dan pergi begitu saja meninggalkanku. Mereka semua adalah pemuda-pemuda berandalan yang bisanya hanya berhubungan intim dan mengkonsumsi narkoba. tak lebih.

"Sok tau banget kamu! Kamu sendiri juga kegerahan, kan ?!" Tukasku tak suka. "Oh ya, kamu mau ke kampus nga siang ini? Daftar ulang , lho! Aku mau ke kampus, ah!"

Sebenarnya aku tak berniat ke kampus. Tapi karena ingin mengusir Ardy yang sudah dua hari menginap di sini. Aku tepaksa melakukan hal itu. Aku tau, Ardy sangat menghindari kampus. Mungkin semester ini pun ia sudah di-DO.

"Masih mikirin kampus juga , Vi?" Ardy tersenyum sinis. "Aku males, ah! Lagian buat apa belajar susah-susah? Toh kita masih bisa beli inex sama PT, kok! Nanti aja deh, kalo aku udah insyaf baru ke kampus. Aku mau ke rumah Tony aja!"

Ardy bangkit dan mengganti celana pendeknya dengan jeans bolong-bolong kesayangannya. Aku pun sibuk berdandan dan merapihkan berkas-berkas pendaftaran ulang, berpura-pura ingin pergi ke kampus. Padahal sehabis ini aku akan pergi ke kost Firna. Kemarin sahabatku itu mengajak shoping di Plaza Senayan. Daripada suntuk di kamar terus, lebih baik mencari udara segar. Siapa tau ada cowok keren yang bisa kugaet! Aku sudah bosan dengan Ardy yang sudah dua bulan menjadi pengawal setiaku. Meskipun tampangnya lumayan keren, badannya sama sekali tidak bagus. Kurus kerempeng seperti tiang listrik. Maklumlah pecandu narkoba! Mana bisa ia memiliki tubuh berotot seperti Ade Rai.

"Eh, Vi...."kata Ardy di depan pintu.

"Apa?!"

"Eh, jangan galak-galang dong! gini lho.... eng....bagi duit dong, Vi. Biasa..." Ardy memamerkan nyengir kudanya. "Buat beli cimeng."

"Ah, buat beli cimeng aja make minta sama aku!" Tukasku merogoh dompet dan melemparkan dua lembar lima puluh ribuan.

"Udah sana cabut! Eneg melihat tampangmu di sini!"

Ardy tertawa senang dan melambaikan tangannya.

Pertengahan Oktober 1998
Aku memegang perutku sambil tertatih-tatih menuju kamar mandi. Perutku terasa sangat mual. Di kelas tadi, pandanganku tiba-tiba kabur dan aku merasa ingin pingsan. Setelah pamit pada Pak Suryadi, dosen killer pengajar manajemen pemasaran, aku cepat-cepat ke kamar mandi. Di kamar mandi, kumuntahkan semua isi perutku. Kepalaku berdenyut-denyut seperti dihantam oleh tongkat yang sangat besar. Perutku terasa keras dan nafasku sesak. Aku mencoba bangkit. Ini pasti pengaruh putaw yang kukonsumsi bersama Firna dan teman-teman beberapa hari ini. Aku memang belum terbiasa menggunakan barang yang satu itu. Mungkin seperti inilah reaksinya, kataku dalam hati. Mual dan pusing.

Cepat-cepat kukeluarkan lipstik dan bedak dari tas mungilku. Aku harus berdandan untuk menutupi pucat pasi wajahku. Ketika hendak mengembalikan pearalatan kecantikan itu ke tempat semulanya, pandanganku bersirobok dengan bungkusan panty shield. Aku terpana. Otakku mulai berpikir cepat. Terakhir kali aku mendapat haid kira-kira satu setengah bulan yang lalu. Ah, sudah lama sekali? Apa.....aku sedang mengandung?!

Dengan panik, aku segera melarikan mobilku menuju apotik terdekat. Tanganku bergetar memegang test kehamilan pribadi bersampul biru. Aku segera pulang ke kost yang hanya sepuluh menit dari kampus, dan mencoba alat yang mengerikan itu. Selama menunggu hasilnya, aku mondar-mandir tak karuan di dalam kamar. Jantungku berdegup kencang sekali. Oh Tuhan, aku tidak ingin hamil! Jeritku dalam hati.

Tapi ternyata semuanya sudah terlambat. Tertera dua garis merah di benda putih yang pipih dan panjang itu. Aku berteriak tak percaya. Kubanting kuat-kuat alat pengecek kehamilan dan gelas aqua bekas kugunakan untuk menampung urine. Tidak! Oh.....aku tidak mau mengandung! Aku tidak mau punya anak!

Aku menghenyakkan tubuhku ke atas ranjang. Berteriak-teriak seperti orang gila. Ku jambak-jambak rambutku yang panjang sampai kulit kepalaku seperti mau lepas. kutinju dinding kamar berkali-kali. Yang ada hanya kesakitan. Tapi tidak melenyapkan jabang bayi di dalam rahimku.

Mengapa aku sedemikian bodoh? Aku lupa memakai alat kontrasepsi ketika berhubungan dengan si brengsek Ardy! Padahal biasanya aku tak pernah lupa. Mungkin karena pengaruh ekstasi yang memabukkan, membuatku lupa akan kebiasaanku untuk mencegah kehamilan. Tapi nasi udah menjadi bubur. Aku memang mengandung. Dan cara terbaik yang harus kulakukan sekarang adalah menggugurkan kandunganku? Aku tidak ingin membesarkan anak di luar nikah. Tidak mungkin aku menuntut pertanggungjawaban Ardy. Pasti ia akan mengelak dan menuduh bayi ini hasil hubunganku dengan orang lain. Lagipula aku tidak siap menikah dengan pemuda bajingan itu dan membesarkan anakku dengannya. Menjadi orang tua tunggal pun aku tak siap.

Apa yang akan terjadi jika aku nekad mempertahankan janin ini?! Papa yang kejam dan bengis akan mengusirku. Beliau tidak memukulku dan menamparku seperti dulu kalau aku pulang sekolah lewat waktu atau aku kedapatan bergaul akrab dengan pria. Papa yang sok ningrat dan berdarah dingin itu pasti akan mencincang tubuhku! Dan beliau pasti tidak akan mengakuiku sebagai anaknya lagi. Padahal aku sangat membutuhkan harta dan warisannya. Aku adalah anak sulungnya dan aku harus mewarisi kekayaannya yang berlimpah ruah.

Cepat-cepat kuraih handphone dari dalam tas dan menghubungi Firna. Ia pasti tau cara mengeyahkan janin ini karena beberapa bulan lalu ia pun pernah melakukan yang sama.

Akhir oktober 1998
Berkat pertolongan Firna, aku berhasil menemui seorang dokter ahli kandungan yang bernaung di balik klinik megahnya di pusat Jakarta untuk mengadakan aborsi terhadap bayi-bayi malang dari wanita-wanita muda yang tidak siap memiliki anak sepertiku. Ketika sedang di-USG, aku sempat melihat bulatan kecil berwaran putih di layar monitor. Itu adalah janinku!

"Tuh, lihat.....sudah agak besar kan, anakmu, Evi?” Ujar dokter itu. "Sudah siapkah kamu menggugurkan janin yang lucu ini? Kelak dia akan menjadi anak yang sehat. Apa kamu tidak menyesal nantinya?"

"Nggak, Dok! saya ngak akan nyesal, kok!" Tukasku sekeras batu. Kulirik Firna yang cepat-cepat mengalihkan pandangan dariku. Aku tidak akan mempertahankan bayi ini. Aku tidak sanggup melihatnya menghancurkan masa depanku!

"Ok, deh....kalo gitu! Siap-siap aja di ruangan sebelah, ya! Pembayarannya tolong di urus di kasir.” Kata Dokter itu tersenyum. Aku melengos. Sok moralitas kau Dokter! Padahal dalam hati kau bersorak kegirangan membayangkan dua juta rupiah lagi masuk ke kantongmu!

Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Tidak seperti yang pernah kubaca di koran-koran, proses pengguguran kandungan ini tidaklah mengerikan. Mungkin karena aku di bius sehingga aku tidak merasakan apa-apa. Sehabis itu sudah boleh pulang dan aku merasa sangat lega karena akhirnya si pengganggu itu tidak ada lagi dalam rahimku.

Pertengahan Januari 1999
“Evi! Evi! kenapa kamu, Nak? Pa! Pa! Aduh, bagaimana ini? Evi! Evi kenapa, Pa?!”

Sayup-sayup aku mendengar suara Mama. Aku berusaha membuka mataku lebar-lebar. Tapi tidak dapat memperjelas penglihatanku. Hanya bayang-bayang sosok Mama dan Papa mendekatiku dan menguncang-guncang tubuhku. Tak lama kemudian, aku segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat. Tubuhku terasa ringan seperti kapas. Efek beberapa butir valium yang kutenggak bersama sekaleng bir memang membuatku seperti hilang ingatan. Sejak beberapa hari aku mulai bosan dan akhirnya mencoba bereksperimen dengan mencampurkan minuman keras dan obat-obat terlarang itu. Aku tidak tahu akibatnya akan seperti ini. Kedatangan Papa dan Mama yang mendadak ke Jakarta pun tak kuhiraukan lagi. Aku seperti ingin mati saja.

Awal Februari 1999
Aku mengikuti Papa dan Mama ke sebuah kamar putih yang bersih di ujung gang. Anganku masih melayang-layang dan tubuhku terasa sakit karena aku belum benar-benar bebas dari narkoba. Mungkin karena itulah Papa dan Mama membawaku ke tempat terpencil ini. Sebuah pesantren yang memiliki divisi rehabilitasi ketergantungan narkoba.

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan seorang wanita yang berjilbab putih, Papa dan Mama meninggalkanku. Aku tak peduli pada mereka. Yang kuinginkan saat ini adalah putaw, cimeng, dan valium!

"Oh....oh, tolong! Tolong! Tolong! Mana PT? Mana PT? Aku butuh PT! Ohhh!" Aku menjerit-jerit kesakitan. Sakaw, itulah keadaanku saat ini. Tubuhku terasa sakit dan luluh lantak. Tulangku ngilu. Perutku mual dan lendir tak henti-hentinya mengalir dari hidungku. Aku berteriak-teriak sampai wanita berjilbab tadi dan empat orang lainya datang. Mereka menyeretku ke kamar mandi. Sambil melafazkan dzikir, mereka menyiram sekujur tubuhku. Aku mengerang. Pagi-pagi buta seperti ini aku diguyur air dingin!

"Tolong! Aku mau pergi dari sini! Lepaskan aku! Tolong! Tolong! Tolong!" Aku memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman wanita-wanita itu. Tapi mereka seperti pantang menyerah. Setelah selesai memandikanku, mereka mengganti bajuku dan dengan tetap berdzikir mereka menidurkanku. Aku masih berteriak-teriak kesakitan. Akhirnya sepanjang malam aku menjerit-jerit tanpa ada yang menolong.

Pertengahan Oktober 1999
Aku sudah tidak menjerit-jerit lagi. Tubuhku sudah sehat menurut pemeriksaan dan laporan dari pembimbingku, aku sudah terlepas dari narkoba. Khasiat jamu ramuan dari pesantren, mandi dini hari diiringi dzikir dan doa, berendam di kolam yang tertutup dan air rebusan jahe yang diteteskan ke kedua bola mataku ternyata cukup ampuh menyembuhkan sakaw-ku. Kini aku sudah dapat mengikuti rutinitas pesantren dan bergaul dengan teman-temanku yang lain. Aku pun sudah mengenakan jilbab! Ya, aku sudah berjilbab seperti Ustadzah Maryam, Ustadzah Ayu, Wina, Shanti, Elvira, Saras, Dewi, dan muslimah-muslimah lainnya di pesantren ini. Dan aku memakainya bukan karena peraturan di sini mengharuskan wanita berjilbab, tapi karena hidayah dari Allah.

Meskipun bagi orang luar kegiatan pesantren ini membosankan, tapi bagiku di sinilah surgaku. Aktivias sholat berjamaah, tadarus Qur'an, mengikuti kajian, berdzikir, salat malam, kerja bakti membersihkan pondok dan sekitarnya, membuatku lupa akan kesenanganku dulu. Aku bahkan telah meminta izin kepada orang tuaku dan para pembimbingku untuk tinggal di sini dalam waktu yang cukup lama agar bisa mengabdikan diri. Aku ingin menolong orang lain yang pernah mengalami nasib yang sama seperti diriku dulu. Aku ingin membantu menyembuhkan dan mengembalikan kepercayaan diri mereka. Alhamdulillah niat baiku ini disambut dengan gembira oleh para pembimbing dan pengurus pondok pesantren. Bahkan kabarnya Ustadz Fikry yang menjadi ketua yayasan sekaligus anak pendiri pondok dan kepala pembimbing menyetujui dan mendukung niatku. Ia pun mengusulkan agar aku menjadi guru dan pembimbing di panti asuhan "Nurul Iman" milik yayasan yang letaknya tak jauh dari pondok ini.

Pertengahan Mei 2000
Sore hari yang cerah usai memberikan pelajaran bahasa inggris kepada anak-anak panti asuhan. Ustadzah Salma memanggilku. Pengurus "Nurul Iman" itu mengatakan bahwa besok ada seorang ikhwan yang ingin berta'auf denganku dan kalau memang kami berjodoh, ia akan segera melamarku untuk menjadi istrinya.

Subhanallah! Betapa terkejutnya aku mendengar kabar itu. Rasanya tak mungkin ikhwan yang sedemikian alim dan istiqamah seperti yang diceritakan Ustadzah Salma mau meminangku. Rasanya sudah lama aku mengubur impian menjadi istri dan ibu yang baik mengingat masa laluku yang sangat suram.

"Allah selalu memaafkan umat-nya yang pernah melakukan kesalahan, Evi."Ucap Ustadzah Salma dengan lembut ketika aku menyampaikan kekhawatiranku. "Jika seseorang telah bertobat. Lagipula kita ini manusia biasa, bukan Tuhan atau Malaikat. Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan, entah besar atau kecil. Allah akan memaafkan dan memberikan karunia kepada kita yang sudah kembali Fitrah-Nya. Jangan pesimis, Evi. Jangan pernah terbelenggu oleh masa lalu. Ambilah hikmah dari masa lalumu, dan buang yang buruk!"

"Tapi.....apakah ikhwan itu telah mengetahui latar belakang hidup saya, Ustadzah? tanyaku lagi. "Apakah... ia benar-benar mau menerima saya yang sudah pernah berzina dan mengkonsumsi obat-obat terlarang?"

"Tidak ada yang tidak ia ketahui tentang kau, Evi," sahut Ustadzah Salma sambil mengusap jilbabku. "Dan ia siap menerimamu apa adanya. Percayalah, ia sangat jujur dan baik hati."

Aku mengangguk haru. Hatiku mulai tenang. Dan ketika acara ta'aruf tiba, aku tidak lagi diliputi keraguan seperti sebelumnya. Aku mulai mantap dan berdoa kalau memang Allah telah mengizinkanku untuk menggenapkan setengah dienku, aku telah siap. Tak disangka ikhwan yang datang melamarku adalah Ustadz Fikry! Setelah melaksanakan salat istikharah beberapa malam, kami pun memutuskan untuk segera menikah.

Akhir Mei 2001
Pagi ini, aku sedang melayani suamiku sarapan pagi. Seperti biasa, tepat pukul delapan pagi setelah sarapan dan salat dhuha, Bang Fikri kembali dengan rutinitas di pondok pesantren. Sedangkan aku bersiap-siap untuk mengajar panti. Entah mengapa, ketika aku sedang mengoleskan selai coklat ke atas setangkup roti tawar di atas piring Bang Fikri, kram yang sangat dahsyat terasa di daerah pinggul dan di bawah perutku. Aku berteriak kesakitan sampai roti ditanganku terlempar.

"Evi....Evi! Ada apa, Vi! Evi!?" Bang Fikri meraih tubuhku yang terjatuh di lantai. Ia menepuk-nepuk pipiku tapi aku tak mampu bergerak lagi. Rasa sakit yang tak tertahankan membuatku tidak mampu berbuat apa-apa.
Dokter yayasan yang datang memeriksaku menyarankan agar aku segera di bawa ke rumah sakit Ibu dan Anak terkenal di Jakarta. Menurutnya, penyakitku sangat parah dan berkaitan dengan organ reproduksiku. Memang sejak pengguguran kandungan beberapa tahun lalu, jadwal haidku tidak teratur. Pernah aku lima bulan tidak mendapat haid. Tapi sekali menstruasi, darah kental bercampur onggokan-onggokan daging seperti hati ayam keluar dari vaginaku. Kupikir hal itu biasa aja dan aku enggan memeriksakan kandunganku ke dokter karena takut suamiku akan mengetahui rahasia pengguguran kandungan yang kupendam selama ini. Aku memang belum pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun kecuali Firna.

Setelah dirawat selama seminggu di rumah sakit dan melakukan beberapa tes mulai mulai USG vagina, observasi, tes kimia darah, hormon, dan urine; dokter spesialis kendungan menyatakan aku mengidap kanker leher rahim atau kanker cerviks! Astagfirullah, betapa beratnya ujian yang harus ku lewati ini, Ya Allah! inilah akibat kesalahan terbesar dalam hidupku yang pernah kubuat!

Aku tahu, Bang Fikri sangat terpukul dengan kejadian yang menimpaku ini aku juga sempat menangis berhari-hari tapi tetap saja tidak ada yang dapat kulakukan kecuali memasrahkan diri kepada Allah. Dan meskipun sangat berat, kami berdua berusaha tetap tabah dan tawakal, tidak mau menyalahkan Allah atas keputusan yang ia buat. Apapun yang terjadi, kami telah siap dan inilah yang terbaik bagi kami. Akhirnya kami mengikuti saran dokter untuk mengangkat rahimku agar kanker tidak menjalar ke bagian tubuhku yang lain. Aku tahu, aku tidak akan memiliki kesempatan untuk punya anak lagi, setelah janin yang dengan......kubunuh dulu.

Pertengahan Agustus 2001
Aku terbangun dan mendapati diriku sedang berada di ruangan putih yang bersih dan sangat terang. Tubuhku kurus kering. Mengenakan gamis dan jilbab putih. Ranjang yang kutiduri seperti berada di atas asap yang mirip segumpalan awan di langit. Aku ingin berteriak menanyakan keberadaanku. Tapi tenggorokanku tercekat, tak sanggup mengeluarkan suara apapun.

Assalamualaikum, Ibu.” Seorang gadis kecil yang cantik dan berpita putih menghampiriku. Ia meraih tanganku dan menciumnya. Aku tersentak.

Waalaikumsalam, Nak. Maaf…kau siapa? Aku tidak mengenalmu,” kataku heran. Gadis kecil itu tersenyum.

“Ibu…Ibu memang belum pernah mengenalku. Aku bidadari kecilmu. Bu. Bidadari yang kau lenyapkan tiga tahun yang lau,” sahut si gadis. Matanya yang bulat dan besar menatapku.

“Bidadari kecilku? Maksudmu… kau janin yang kugugurkan itu?!”

“Ya benar. Sekarang Ibu bisa melihat dan menyentuhku. Aku masih ada, Bu. Aku belum mati. Aku masih hidup…. di surga.”
“Apakah ini surga? Apakah aku sudah mati?”

“Tidak, Ibu belum mati. Akupun belum mati meskipun aku kau bunuh lewat tangan dokter yang keji itu. Aku masih ada di sini dan mengawasimu dari atas.”

Aku terpana. Wajah bidadari kecil itu begitu dekat. Aku menyentuh pipinya yang halus kemerahan. Ia tersenyum senang. Senyum kanak-kanaknya yang tulus dan memancarkan keluguan itu menyentuh hatiku. Ya, Allah, betapa teganya aku menghilangkan nyawanya untuk kepentinganku sendiri! Padahal ia tidak bersalah! Ia adalah anak yang suci dan bersih, tidak seperti pasangan biologis berlumur dosa yang membentuknya seperti ini. Sekarang aku sudah tidak bisa mengandung dan memiliki keturunan lagi. Ia adalah keturunanku pertama dan terakhir!

“Oh… bidadari kecilku!” Isakku dan meraih tubuhnya ke pelukanku. “Maafkan Ibu, Nak! Dulu Ibu khilaf, Ibu banyak dosa! Betapa teganya dulu Ibu memusnahkanmu! Maafkan Ibu, Nak! Sekarang semuanya sudah Ibu tebus.”

“Tidak, Ibu… bukan aku yang bisa memaafkan kesalahan ibu. Allah tidak ingin melihat Ibu menderita lagi. Allah akan memberikan kebahagiaan abadi buat Ibu,” ucap bidadari kecilku. Ia mengusap pipiku lembut, kemudian melangkah meninggalkanku.

Aku berteriak memanggilnya tapi ia tetap berjalan ke balik cahaya. Bersamaan dengan menghilangnya bidadari kecil itu, aku mendengar samar-samar suara ramai di sekelilingku.

Subhanallah! Evi membuka matanya! Papa…Mama… Avi sudah sadar!”

Aku mengerjapkan mataku. Dengan pandangan yang masih agak kabur, aku melihat Bang Fikry duduk di samping ranjang sambil menggenggam tanganku. Tasbih terjuntai di tangan satunya lagi. Papa, Mama, adik-adikku, ustadzah Salma, ustadzah Maryam, mengelilingi tempat tidurku. Aku tak dapat bergerak karena tubuhku terasa sakit dengan selang-selang yang seperti membelengguku.

“Evie, kau sudah tiga hari koma. Alhamdulillah sudah sadar,” bisik bang Fikry. Sadar? Aku masih di dunia! Tidak, aku harus pergi! Tugasku di sini sudah selesai! Aku tidak boleh berada di sini!

Kutatap Bang Fikry lekat-lekat. Ia tersenyum manis. Aku mencoba tersenyum kepadanya dan kepada orang-orang di sekelilingku. Lalu dengan tenaga yang ada, kuucapkan Laailaahaillallah berkali-kali. Bang Fikry seperti tahu maksudku. Dengan penuh ketabahan, ia menuntunku melafalkan kalimatullah. Yang lain hanya menatap kami sambil terisak. Tidak sampai sepuluh menit, terdengar suara tersedak dari tenggorokanku. Kupersembahkan senyumku yang terakhir kepada orang-orang yang setia menungguiku. Tubuhku terasa ringan ketika dijemput Malaikat Izrail. Aku telah siap menjalani kehidupan yang abadi di sisi Allah dan bertemu dengan bidadari kecilku lagi. (nur)

Penulis: Nabila F. Az-Zahra, Annida 10/XI

Selasa, 13 Mei 2014

KEAJAIBAN LEBAH MADU



 Diterjemahkan dari "For Men of Understanding" karya Harun Yahya, Ta-Ha Publisher, UK, 1999.

"Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia." (QS. An-Nahl : 68)

Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat.

Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.

Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah.

Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui "ilham" dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas. Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung "obat bagi manusia" tersebut.

Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur'an: "Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. An-Nahl : 69)

Tahukah anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini? Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah.

Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon. Sebagaimana firman Allah, madu adalah "obat yang menyembuhkan bagi manusia". Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit.

Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.


Diterjemahkan dari "For Men of Understanding" karya Harun Yahya, Ta-Ha Publisher, UK, 1999.


----------------------------------------------------------------------------