Senin, 15 September 2014

JENIS KARYA SASTRA "PROSA"



Jenis Karya Sastra “prosa”
Karya sastra jenis prosa terbagi menjadi dua, yaknni prosa lama dan prosa baru. Prosa lama Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Sedangkan prosa baru adalah karangan sastra yang muncul setelah mendapat pengaruh dari sastra dan kebudayaan barat.
A.    Prosa lama
Ciri-ciri prosa lama 
1.      Statis Kalau kita baca Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Si Miskin, Hikayat Bangsawan, dan prosa lama yang lain, bentuk, pola, kalimat dan bahkan ungkapan.
2.      Diferensial sedikit
Memiliki ikatan unsur-unsur yang sama karena berhubungan dengan beberapa unsur yang kuat.
3.       
Prosa lama memiliki pola-pola bentuk yang dijadikan transisi. Kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang sama terdapat dalam cerita-cerita yang berlainan.
4. Terbentuk oleh masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat
Kebanyakan hasil sastra dalam kesusastraan lama tidak diketahui siapa pengarangnya. Kalau dicantumkan suatu nama, itu hanya nama penyadur dan bukan nama pengarang yang sebenarnya. Sebab cerita lama itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang diceritakan secara turun-temurun.

5. Tidak mengindahkan sejarah atau perhitungan tahun
Sejarah menurut pengertian lama adalah karangan tentang asal usul raja dan kaum bangsawan dan kejadian-kejadian yang penting, tanpa memperhatikan perurutan waktu dan kejadian-kejadiannya (tidak kronologis). Nama-nama tempat terjadinya perisitiwa juga tidak jelas.

6. Bahasanya menunjukkan bentuk-bentuk yang tradisional
  • Banyak memakai kata penghubung yang menyatakan urutan peristiwa, misalnya: harta, syahdan, maka, arkian, sebermula, dan lalu.
  • Banyak memakai bentuk yang tetap sehingga terdapat banyak pengulangan kata, misalnya: Kata sahibul hikayat, ada sebuah negeri di tanah Andalas Palembang namanya, Demang Lebar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak cucu Raja Sulan, Muara Tatang nama sungainya. (dari Sejarah Melayu)
  • Banyak memakai bentuk partikel pun dan lah
  • Banyak memakai kalimat inversi, misalnya: Syahdan maka bertemulah rakyat Siam dengan rakyat Keling, lalu berperang. Lalu diceritakanlah segala kelakuan tuan putri dengan nahkoda itu.

7. Pokok Cerita

Selalu raja-raja dengan istananya, pemerintahannya, orang bawahannya, dan lain-lain. Tidak pernah menceritakan orang kebanyakan, kalaupun ada, yang diceritakan adalah orang kebanyakan yang luar biasa. Misalnya, orang yang sangat dungu atau yang sangat cerdik dan orang yang selalu malang.
Ciri-Ciri Prosa Baru

Untuk prosa baru saya akan jelaskan secara singkat saja mengenai ciri cirinya berikut ini :
  • Rakyat sentris (keadaan masyarakat)
  • Dinamis(bisa diubah)
  • Dipengaruhi sastra Inggris dan Belanda
  • Adanya pengarang

Setelah mengenal mengenai Pengertian,Ciri-ciri kita akan segera beralih ke tahap pembelajaran berikutnya yaitu Bentuk Prosa Lama dan Prosa Baru :

Bentuk-bentuk Sastra Prosa Lama :
1. Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, Si Pitung, Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

2. Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

3. Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

4. Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:

       a. Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Beberapa contoh fabel, adalah: Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung Bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dll.

       b. Mite (Mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempuyai kekuatan gaib. Contoh-contoh sastra lama yang termasuk jenis mitos, adalah: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dll.

     c. Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dll.

     d. Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dll.

   e. Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Mahabarata, Bhagawagita, dll.

   f. Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dll.

5. Cerita berbingkai, adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam

Bentuk-bentuk Sastra Prosa Baru :

1. Roman, adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan pelaku dalam cerita tersebut. Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa macam, antara lain sebagai berikut:

         a. Roman bertendens, yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang mengandung pandangan hidup yang dapat dipetik oleh pembaca untuk kebaikan. Contoh: Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Salah Asuhan oleh Abdul Muis, Darah Muda oleh Adinegoro.

        b. Roman sosial, memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat. Biasanya yang dilukiskan mengenai keburukan-keburukan masyarakat yang bersangkutan. Contoh: Sengsara Membawa Nikmat oleh Tulis St. Sati, Neraka Dunia oleh Adinegoro.

       c. Roman sejarah, yaitu roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis, peristiwa-peristiwa sejarah, atau kehidupan seorang tokoh dalam sejarah. Contoh: Hulubalang Raja oleh Nur St. Iskandar, Tambera oleh Utuy Tatang Sontani, Surapati oleh Abdul Muis.

d. Roman psikologis, yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang mendasari segala tindak dan perilaku tokoh utamanya. Contoh: Atheis oleh Achdiat Kartamiharja, Katak Hendak Menjadi Lembu oleh Nur St. Iskandar, Belenggu oleh Armijn Pane.

e. Roman detektif, yang isinya berkaitan dengan kriminalitas. Dalam roman ini yang sering menjadi pelaku utamanya seorang agen polisi yang tugasnya membongkar berbagai kasus kejahatan. Contoh: Mencari Pencuri Anak Perawan oleh Suman HS, Percobaan Seria oleh Suman HS, Kasih Tak Terlerai oleh Suman HS.

2. Novel, berasal dari Italia yaitu novella ‘berita’. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa tersebut mengakibatkan perobahan nasib pelaku. lika roman condong pada idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus.

3. Cerpen, adalah bentuk prosa baru yang menceritakam sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan telapi hat itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu oleh Asrul Sani, Teman Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh Trisno Sumarjo, Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis.

4. Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.I Habibie, Ki Hajar Dewantara.

5. Kritik, adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.

6. Resensi, adalah pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.

7. Esai, adalah ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.

Jika ada kesempatan lagi silahkan berkunjung ke (baca : 
Unsur Intrinsik pada Cerpen ) silahkan baca sepuas yang anda mau dan mampu.
Prosa adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh banyaknya baris, banyaknya suku kata, dalam setiap baris serta tak terikat oleh irama dan rimanya seperti dalam puisi.

Prosa berbeda dengan 
puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa kadangkala juga disebut dengan istilah "gancaran".
Prosa dapat dibedakan berdasarkan pembabakannya, menjadi :
1.      Prosa lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat,  
2.      Prosa baru adalah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun.
Perbedaan antara prosa lama dan baru adalah sebagai berikut :

Prosa lama

1. Statis, lamban perubahannya
2. Istana Sentris, bersifat kerajaan
3. Bersifat fantastis, bentuknya hikayat, dongeng
4. Di pengaruhi sastra Hindu dan Arab
5. Tidak ada pengarang atau anonim

Prosa baru

1. Dinamis, perubahannya cepat
2. Rakyat Sentris, mengambil bahan dari rakyat sekitar
3. Realistis, bentuknya roman, novel, cerpen, drama, kisah, dsb.
4. Di pengaruhi sastra Barat
5. Nama pencipta selalu dicantumkan

Prosa biasanya dibagi menjadi empat jenis: prosa naratif, prosa deskriptif, prosa eksposisi, dan prosa argumentatif.


Prosa lama

Prosa lama adalah prosa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama Indonesia. Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul dan disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan.

Setelah masyarakat Indonesia menjadi akrab dengan tulisan, maka karya sastra berbentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.
Prosa lama terbagi atas:

1. Bidal 

Bilal, adalah cara berbicara dengan menggunakan bahasa kias. Bidal terdiri dari beberapa macam, diantaranya:

a. Pepatah
 
Pepatah adalah suatu peri bahasa yang mengunakan bahasa kias dengan maksud mematahkan ucapan orang lain atau untuk menasehati orang lain.
Contoh: Malu bertanya sesat di jalan. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.

b. Tamsil

Tamsil (ibarat) adalah suatu peribahasa yang berusaha memberikan penjelasan dengan perumpamaan dengan maksud menyindir, menasihati, atau memperingatkan seseorang dari sesuatu yang dianggap tidak benar.
Contoh: Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Keras-keras kersik, kena air lemut juga.

c. Kiasan
 
Ungkapan tertentu untuk menyampaikan maksud yang sebenarnya kepada seseorang, karena sifat, karakter, atau keadaan tubuh yang dimilikinya. Kata-kata sebutan yang digunakan dengan cara tersebut dinamakan bahasa kiasan.
Contoh: Makan tangan = memperoleh keuntungan besar. Buah hati = kekasih atau orang yang sangat dicintai.

d. Perumpamaan
 
Perumpamaan adalah suatu peribahasa yang digunakan seseorang dengan cara membandingkan suatu keadaan atau tingkah laku seseorang dengan keadaan alam, benda, atau makhluk alam semesta.
Contoh: Seperti anjing makan tulang. Seperti durian dengan mentimun.

e. Pemeo
 
Pemeo adalah suatu peribahasa yang digunakan untuk berolok-olok, menyindir atau mengejek seseorang atau suatu keadaan.
Contoh:
Ladang Padang, orang Betawi: maksudnya berlagak seperti orang Padang padahal dia orang Betawi atau orang Betawi yang berlagak kepadang-padangan.
Bual anak Deli: maksudnya membual seperti membualnya daerah Deli yang terus menerus, namun isinya tidakbermakna.

2. Hikayat
 
Hikayat berasal dari India dan Arab, yaitu bentuk sastra lama yang berisikan cerita kehidupan para dewa-dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat, kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah.
Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, Si Pitung, Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

3. Sejarah atau Tambo

Sejarah disebut juga Tambo, berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata sajaratun yang berarti pohon. Sejarah adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta.

Tambo atau cerita sejarah, kadang tidak sepenuhnya mengandung kebenaran, karena dicampurkan dengan hal-hal yang tidak masuk akal atau dongeng. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama.
Contoh:
Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612, Tambo Bengkahulu, Silsilah Raja Bugis (Raja Ali Haji)

4. Dongeng
 
Bentuk sastra lama yang bercerita tentang suatu kejadian yang luar biasa yang bersifat khayalan dari pengarangnya. Jadi dongeng bukan merupakan cerita yang benar-benar terjadi. Fungsi dongeng hanyalah sebagai penghibur hati saja atau pelipur lara. Itulah sebabnya dongeng disebut juga cerita pelipur lara.

Bentuk-bentuk cerita dongeng:

a. Mite (Mitos)
 
Mite (Mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang gaib, alam gaibatau yang dipercayai mempuyai kekuatan gaib, seperti dewa, peri ataupun Tuhan.
Contoh-contoh sastra lama yang termasuk jenis mitos, adalah: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai,Dongeng Abu Nawas, Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana. Mahabharata, Ramayana, Hikayat Illias dan Odyes karangan Homerus dan lain-lain.

b. Sage
 
Sage, adalah cerita lama yang di dalamnya mengandung unsur sejarah atau yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan tentang kepahlawanan,keperkasaan, serta kesaktian, keberanian, dan keajaiban para raja, pangeran atau tokoh-tokoh tertentu. Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, Kesaktian Hang Tuah, Lutung Kasarung, Damarwulan, Angleng Darma Dongeng Kesaktian dan keperkasaan Patih Gajah Mada dll.

c. Fabel
 
Fabel adalah dongeng tentang binatang yang bisa berbicara dan bertingkah laku seperti manusia, sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang).
Contoh:
Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Buaya dan Kera, Burung Gagak dan Serigala, Anjing yang Loba, Pelanduk Jenaka, Burung Bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi,Dongeng Perlombaan kancil dan siput

d. Legenda
 
Dongeng atau cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah, tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah.
Contoh:
Cerita tentang Tangkuban perahu, Dongeng Malinkundang, Legenda Banyuwangi, Dongeng terjadinya Kota Bandung, Nyai Rara Kidul

e. Penggeli Hati (Dongen Jenaka)
 
Penggeli hati adalah cerita komedi yang berkembang dalam suatu masyarakat atau cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor.
Contoh:
Si Kabayan, Pak Pandir, Cerita Lebai Malang, Joko Kendil, Pak Belalang, Abu Nawas, dll.

f. Cerita perumpamaan
 
Dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan bersifat mendidik.
Misalnya, orang yang pelit akan dinasehati dengan cerita Haji Bakhil atau Haji Pelit. Yang sombong akan dinasehati dengan cerita Firaun.

g. Parabel
 

Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Mahabarata, Bhagawagita, dll.

5. Kisah
 
Karya sastra lama yang berisikan cerita tentang, cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh kisah dalam karya sastra lama, antara lain:
a. Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan
b. Kisah Abdullah ke Jedah.

6. Cerita berbingkai

Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi, yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Cerita dalam cerita itu disebut cerita sisipan. Kadang kala cerita sisipan itu di dalamnya ada pula cerita. Sehingga cerita berbingkai ini menjadi cerita yang bersusun. Ceritra berbingkai biasanya bertemakan pendidikan akhlak, agar manusia tidak berbuat jahat atau lalim terhadap sesamanya.
Contoh: Seribu Satu Malam, Hikayat Kalilah dan Daminah, Hikayat Bayan Budiman

7. Cerita-cerita Panji
 
Disebut juga hikayat yang berasal dari kesusastraan Jawa yang berkisah tentang 4 kerajaan di pulau Jawa yaitu : kerajaan Jenggala, Kediri, Ngurawan dan Singosari.
Contoh : Hikayat Panji Semirang dan Hikayat Dalang Indra Kusumah

Prosa Baru

Bila dalam prosa lama kita dibawa pada alam khayal atau santai, namun dalam prosa baru kita dibawa pada peristiwa-peristiwa yang kita hayati dan alami tiap hari.
Prosa baru dapat dibedakan menjadi :

a. Roman

Ialah cerita yang melukiskan sesuatu kehidupan manusia atau pelaku-pelakunya dari awal sampai akhir, baik perbuatan lahir maupun peristiwa-peristiwa batinnya. Dari kecil, remaja, dewasa, sampai meninggal. Dalam roman sudah menjadi cirri khas adanya lukisan percintaan. Itulah sebabnya para orang tua zaman dahulu melarang anaknya membaca buku roman sebelum dewasa.

b. Novel

Bila dalam roman biasanya dikisahkan seluruh kisah hidup tokohnya, darimasa kanak-kanak hingga dewasa sampai meninggal dunia, tetapi dalam novel yang dilukiskan hanya sebagian dari hidupnya tokoh cerita, yaitu bagian hidupnya yang merubah nasib tokoh tersebut. Bila roman beraliran romantik, sedangkan novel beraliran ralisme (kenyataan), kadang-kadang naturalisme (alamiah).
Contoh : Pulang (Toha Mukhtar), Perburuan (Pramudia A. Toer)

c. Cerpen

Cerpen adalah semacam cerita rekaan. Cerpen lebih pendek daripada novel, sehingga bisa selesai dibaca dalam tempo satu atau dua jam. Dalam novel krisis (pergolakan) jiwa pelaku mengakibatkan perubahan nasib, tetapi dalam cerpen kritis tersebut tidak harus mengakibatkan perubahan nasib tokoh pelakunya. Cerpen dapat kita temui dalam majalah-majalah. Cerpen meliputi kisah, cerita ataupun lukisan.

d. Kisah

Pengertian lama kisah ialah ceritra tentang perjalanan. Dalam kesusastraan modern kisah sama saja dengan cerita biasa, yaitu yang menceritakan tentang sesuatu hal baik benda hidup maupun benda mati.
Contoh : Kisah pelayaran Abdullah dari Singapura ke Kelantan (Kisah Lama), Kisah Sebuah Celana Pendek (Kisah Modern)

e. Biografi dan Otobiografi

Biografi ialah catatan riwayat hidup seseorang, jasanya dalam masyarakat, yang ditulis oleh orang lain.
Contoh : Dr. Sutomo (Wahid Ratu), W.R. Supratman (Matu Mona)
Otobiografi ialah catatan riwayat hidup yang ditulis oleh diri sendiri.
Contoh : Kenangan Pangeran Ahmad Djajadiningrat

f. Drama

Ialah ceritra atau karangan yang berbentuk skenario lengkap, dimana semuanya telah diuraikan secara rinci oleh penulis drama, misalnya kalimat-kalimat yang harus diucapkan oleh pemain, sikap dan gerak-gerik yang harus dimainkan oleh pemain juga tempat adegan dalam cerita drama diuraikan secara rinci oleh penulisnya. Bahasa yang dipakai disesuaikan dengan bahasa golongan pelaku. Bahasa jongos berbeda dengan bahasa majikan, guru, dokter, pujangga dan lain-lain.
 
Drama biasanya untuk pentas dipanggung atau disandiwarakan. Drama dibagi atas beberapa bagian yang disebut babak dan babak dibagi pula atas adegan.

Didalam drama biasanya terdapat :
        a. Dialog : Percakapan antara dua orang sesuai dengan perbuatannya.
                            b. Prolog : Kata pendahuluan, maksudnya untuk menarik minat penonton terhadap apa yang akan di pertunjukkan.
                            c. Epilog : Kata penutup untuk mencantumkan dan mengikhtisarkan nilai-nilai yang dikandung.

g. Esai dan Kritik

Esai ialah suatu kupasan atau pembicaraan tentang obyek kebudayaan atau seni. Peninjauan obyek itu sendiri pandangan penulis esai tersebut, itulah sebabnya esai bersifat subyektif.

Penulis esai tidak menggubah sesuatu, ia hanya membicarakan suatu cipta hasil karya orang lain.
Kritik lain dengan esai, kalau esai sifatnya subyektif maka kritik sifatnya haruslah obyektif. Dalam kritik penulis mengemukakan kebaikan maupun kekurangan dari tulisan yang dikritiknya. Sehingga kritik bisa diterima oleh semua pihak, baik orang lain maupun penulis yang dikritiknya. Kritik sering tidak mengenakkan orang yang dikritiknya.
Yang termasuk essayist (ahli essay) antara lain :
a. Armin Pane : Mengupas Kesusastraan Indonesia Baru
b. Adiegoro : Mengupas Revolusi dan Kebudayaan
c. Asmar Ismail : Mengupas Drama




SIMPOSIUM

SIMPOSIUM

 Simposium adalah serangkaian pidato pendek di depan pengunjung dengan seorang pemimpin. Pidato-pidato tersebut mengemukakan aspekaspek yang berbeda daritopik tertentu
·         Tujuan metode simposium :
1.Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menganalisis beberapa aspek yang saling berhubungan dan yang dapat diperdebatkan
2.Membantu peserta untuk dapat mengerti hubungan dari macam-macam bagiandari suatu topik 

·         Penggunaan metode simposium:

1.Jika ingin membahas aspek-aspek yang berbeda dari topik tertentu
2.Jika kelompok lebih besar 
3.Jika kelompok tersebut membutuhkan keterangan yang ringkas/singkat
4.Jika ada pembicara yang memenuhi syarat
5.Jika tidak memerlukan tanggapan dari peserta
6.Jika pokok pembicaraan sudah ditentukan

·         Kelebihan metode simposium:

1.Dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil
2.Dapat menyampaikan informasi dalam waktu yang singkat
3.Pergantian pembicara menambah variasi dan menjadikan lebih menarik 

·         Kekurangan metode simposium

1.Kurang spontanitas dan kreativitas
2.Kurang interaksi dari kelompok dan hanya menekankan pada pokok pembicaran
3.Terasa agak formal
4.Sulit mengontrol waktu
5.Cenderung untuk dipakai secara berlebihan
6.Membutuhkan perencanaan yang hati-hati untuk mendapatkan jangkauan yangtepat



Simposium 2
Ialah serangkaian pidato pendek di depan peserta denganseorang pemimpin, pidato-pidato itu mengemukakan aspek-aspekyang beda dari topik tertentu. Metode ini biasanya digunakan ketika :a) Untuk mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari topiktertentu.b) Jika kelompok itu besar.c) Jika kelompok itu membutuhkan keterangan yang ringkas.d) Jika ada pembicara yang memenuhi syarat.e) Jika tidak memerluka reaksi mentee.f) Ketika pokok pembicaraan sudah ditentukan.Kelebihan metode ini, antara lain :a) Dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil.b) Dapat mengemukakan informasi dalam waktu yang singkat.c) Menyoroti hasil simposium.d) Pergantian pembicara menambah variasi dan menjadi lebihmenarik.e) Dapat direncanakan jauh-jauh hari.Kekurangan metode ini, antara lain :a) Kurangnya spontanitas dan kreativitas.b) Kurangnya interaksi antar kelompok dalam mentoring.c) Menekankan pokok pembicaraan. d) Agak terasa formal.e) Kepribadian pembicara dapat menekankan isi dengan kurang tepat.f) Sulitnya mengadakan kontrol waktu.g) Secara umum membatasi pendapat pembicara.h) Membutuhkan perencanaan sebelumnya dengan hati- hati, untukmenjamin jangkauan yang tepat.i) Cenderung untuk dipakai secara berlebihan.13) Simposium ForumIalah simposium yang diikuti dengan partisipasi peserta.Metode ini biasanya digunakan ketik a :a) Untuk memberi kesempatan interaksi kelompok setelahsimposium.b) Pada saat diperlukan kombinasi penyajian isi dan reaksi mentee.c) Ketika ada pendapat yang sulit yang harus ditangani dengan benarsebelum didiskusikan secara terbuka.d) Jika ada waktu dan persiapan yang cukup.e) Jika mengajukan beberapa pandangan yang berbeda untuk mintatanggapan dari mentee.
f) Jika kelompok itu besar.g) Jika kellompok itu membutuhkan keterangan yang ringkas.Kelebihan metode ini, antara lain :a) Menambah nilai simposium dengan reaksi mentee. b) Dapat dipakai pada kelompok besar maupun kecil (terutama yangbesar).c) Dapat dipakai untuk menyajikan banyak keterangan dalam waktuyang singkat.d) Menyoroti hasil simposium.e) Penggantian pembicara menambah variasi dan membuat lebihmenarik.f) Reaksi mentee mendorong mentee untuk mendengarkan denganlebih banyak perhatian.Kekurangan metode ini, antara lain :a) Membutuhkan banyak waktu.b) Tanggapan dari kelompok tertunda.c) Kepribadian pembicara memungkinkan penekanan pada isi yangkurang tepat.d) Sulit dalam kontrol waktu.e) Periode forum mudah terukur.Dari penjelasan di atas, maka jelaslah pengertian, kelebihan,kekurangan dan kapan metode-metode tersebut digunakan. Metodemetodeyang dijabarkan diatas, menunjukkan bahwa proses pembelajaranmentoring membutuhkan variasi strategi dan kegiatan alternatif. Sepertiyang diungkapkan oleh Evelyn Williams English dalam bukunya”Mengajar Dengan Empati” menyatakan bahwa kompilasi pengajaran67yang inovatif dan yang menyediakan berbagai variasi strategi dan kegiatanalternatif bagi para guru akan sangat mendukung siswa di semua tingkatanpada saat mereka memperoleh dan menerapkan pengetahuan dibidangmembaca, berfikir, menulis, berbicara, dan mendengar

Metode Simposium Metode simposium menurut Hadisoewito (2009: 32) mengetengahkan suatu sari ceramah mengenai berbagai kelompok topik dalam bidang tertentu. Ceramah tersebut diberikan oleh beberapa ahli. Pendapat tersebut menegaskan bahwa simposium adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan pengungkapan serangkaian cermah-ceramah yang disampaikan oleh sejumlah pembicara sesuai dengan keahliannya.

Jumat, 08 Agustus 2014



Objek penelitian; subjek penelitian; responden penelitian; informan (narasumber) penelitian; populasi objek penelitian; populasi subjek penelitian; populasi responden penelitian; anggota populasi subjek penelitian; anggota populasi responden penelitian; generalisasi; unit analisis;

Objek, subjek, dan populasi penelitian
Hampir tidak dijumpai dalam buku-buku penelitian pembedaan subjek penelitian dari responden penelitian dan informan (narasumber) penelitian. Yang lazim ada hanya mengenai subjek penelitian, itu pun kadang tidak lengkap sepenuhnya terbicarakan, termasuk dalam buku penulis “Menyusun Rencana Penelitian” yang terbit pertama kali sekitar tahun 1986-an oleh penerbit (ketika itu) CV Rajawali (kemudian menjadi RajaGrafindo Persada).
Mari kita buat contoh penelitian untuk memperjelas perbedaan ketiganya. Topiknya mengenai “Kepemimpinan kepala sekolah Sekolah Dasar di Kabupaten Situsini.” Hal (objek) yang akan diteliti (= objek penelitian) adalah “kepemimpinan kepala sekolah” (yang konkrit atau “operasionalnya” adalah apakah kepemimpinan kepala sekolah atau kasek tersebut efektif/baik ataukah tidak). Jadi, subjek penelitian (yang mempunyai sifat-karakteristik/keadaan yang akan diteliti itu — si empunya objek penelitian, dalam hal ini efektivitas kepemimpinan) adalah kepala sekolah.
Di Kabupaten Situsini ada sebanyak 222 SD. Jadi, ada 222 kepala sekolah, karena per SD ada satu kepala sekolah. Keseluruhan kepala sekolah (para kepala sekolah SD sebanyak 222 orang) tersebut disebutlah populasi penelitian (tepatnya populasi subjek penelitian).
Responden dan Populasi Responden Penelitian
Jika para kepala sekolah itu sendiri yang diteliti (ditanya–dan akan merespon atau menanggapi pertanyaan) disebutlah kepala sekolah itu sebagai responden (perespon, pejawab = orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan). Jadi, dalam kasus ini, kasek merupakan subjek sekaligus responden penelitian).
Tetapi, jika yang ditanya mengenai apakah kepala sekolah mampu memimpin dengan efektif atau tidak itu langsung si kepala sekolah, maka jawabannya bisa sangat subjektif (cenderung menilai diri baik). Oleh karena itu, dengan anggapan (asumsi) yang dianggap paling tahu (bisa menilai, karena mengalami sendiri) mengenai kepemimpinan kasek itu baik atau tidak tentulah yang dipimpin oleh kasek tsb, yaitu guru, maka yang sebaiknya akan ditanya (dan merespon, menjawab pertanyaan-penilaian) adalah guru itu. Guru itu disebutlah sebagai responden penelitian (responden yang bukan subjek penelitian, karena subjeknya–si pemilik “sesuatu” yang akan diteliti, dalam hal ini kepemimpinan– tetap kepala sekolah, bukan guru).
Karena guru dari 222 sekolah itu banyak sekali (paling tidak per SD ada 6-7 orang), maka seluruh guru itu disebutlah sebagai populasi penelitian juga, tetapi populasi responden penelitian, bukan populasi subjek penelitian.
Setiap kasek dari 222 kasek itu disebut pula sebagai anggota populasi subjek penelitian, dan setiap guru dari 222 SD itu disebut sebagai anggota populasi responden penelitian.
Sampel Penelitian
Karena anggota populasi banyak, biasanya yang akan ditanyai (diteliti secara langsung) tentulah tidak semuanya, terlampau memakan waktu, energi dan biaya. Jadi yang akan diteliti hanyalah sebagian dari mereka. Sebagian anggota populasi yang diteliti dari seluruh anggota populasi itu disebut sebagai sampel penelitian.
Adapun langkah pengambilan sampel atau sampling-nya sebagai berikut:
Pertama-tama diambil terlebih dahulu sampel subjek penelitian (kepala sekolah). Katakanlah diambil 25%-nya (dari 222 kasek). Jadi akan terambil sebagai sampel sekitar 54 (dibulatkan agar hitungannya “bulat” menjadi 50) orang kasek. Tentu dari 50 SD.
Telah diketahui bahwa di setiap SD ada 6-7 guru kelas dan bidang studi (Agama/Penjas). Dari setiap SD tempat kepala sekolah sampel tadi diambil, diambillah sampel guru, misalnya 3 orang (dari 6-7 orang guru tadi). Tiga orang guru tersebut disebut sebagai sampel responden. Sampel responden inilah yang ditanyai (diminta penilaiannya).
Unit Analisis dan Generalisasi
Yang dinilai oleh para guru itu kepala sekolah. Jadi kepala sekolah sebagai subjek penelitian menjadi unit analisis penelitian (Silakan baca lebih jauh dalam tulisan mengenai unit analisis dalam blog ini juga). Maksudnya “hitung-hitungan” nilai efektivitas kepemimpinan itu per kepala sekolah, bukan per guru.
Secara operasional, jelasnya, penilaian dari tiga guru bawahan seseorang kepala sekolah (sampel guru per sekolah tadi) dihitung dirata-ratakan. Misal guru A menilai 8, guru B menilai 7, dan guru C menilai 7,5. Total nilai 22,5. Reratanya 22,5 : 3 = 7, 5.
Rerata penilaian guru terhadap kepala sekolah atasannya (nilai 7,5 tadi)  jadilah sebagai nilai efektivitas kepemimpinan si kepala sekolah (dari satu sekolah). Dengan demikian, nantinya, akan ada sebanyak 50 nilai efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, karena sampel subjek penelitiannya (kasek) ada 50 orang. Kelima puluh nilai itu dihitung direratakan, sehingga terhasilkanlah nilai efektivitas (dari seluruh sampel) kepala sekolah.
Nilai akhir ini (dari sampel yang 50 orang itu) diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi kepala sekolah, sehingga simpulannya menjadi “tingkat efektivitas kepemimpinan kepala sekolah SD di Kabupaten Situsini termasuk …… (tinggi, sedang, atau rendah). Jadi, bukan berlaku untuk kepala sekolah yang disampel saja, melainkan untuk seluruh kasek anggota populasi penelitian.
Jika menggunakan persentase, maka simpulannya antara lain, misalnya, akan berbunyi “sebagian besar (86,68%) kepala sekolah SD di Kabupaten Situsini kepemimpinannya tergolong sangat efektif (“sangat efektif” dilihat dari skor rerata yang tinggi, misalnya 89,98 dalam rentangan skor 0 -100).
Informan (Narasumber) Penelitian dan Populasi Responden
Peneliti lain, sebagai contoh, ingin meneliti apakah sekolah-sekolah (SD) di Kabupaten Situsini itu mempunyai program (rencana) kerja yang jelas. Yang menjadi objek penelitiannya jadinya “pembuatan/ketersediaan program (rencana) kerja sekolah”. Operasionalnya, apakah sekolah punya rencana strategis (renstra) dan rencana operasional (renop) yang baik dan benar atau tidak. Renstra dan renop sekolah tentu punya sekolah (bukan punya kasek atau guru). Jadi subjek penelitiannya (yang memiliki objek penelitian) adalah sekolah (SD).
Dari mana data (informasi) diperoleh? Tentulah dari kepala sekolah atau para guru yang ikut menyusun (setidaknya mengetahui adanya) renstra dan renop tersebut. Karena mengenai hal ihwal renstra dan resnop itu sumber informasi yang akan ditanyai adalah kasek, maka jadilah kasek tersebut sebagai informan (narasumber) penelitian (nara = orang; sumber = dalam hal ini sumber data/informasi penelitian; narasumber = orang yang menjadi sumber data/informasi penelitian).
Jika ada pula guru yang ikut terlibat banyak dalam penyusunan renstra dan renop, dan bisa memberi informasi (data) kepada peneliti, maka guru itu pun jadi informan penelitian pula. Informan yang paling banyak tahu sesuatu informasi (data) mengenai hal yang diteliti, disebutlah sebagai narasumber kunci atau utama (key informan). Informan (narasumber) lainnya lazim disebut informan saja. Jika toh ingin dibedakan dapat disebut informan pelengkap. Jangan salah: yang menjadi informan kunci di sekolah bisa justru bukan kepala sekolah, melainkan guru. Misalnya dalam pelaksanaan secara detail atau rinci (mendalam) program ekstrakurikuler. Program ekstrakurikuler (ekstra = di luar; kurikuler = yang berkenaan dengan kurikulum utama yang tertulis dalam “buku kurikulum sekolah”) adalah kegiatan pendidikan/pengajaran di luar mata pelajaran yang ada dalam kurikulum pokok pendidikan sekolah.
Seperti telah disebutkan di atas, seluruh 222 SD yang akan diteliti mengenai hal tersebut merupakan subjek penelitian (jadi subjeknya lembaga–yang punya “sifat-keadaan” membuat atau mempunyai/tidak mempunyai renstra dan renop). Populasi penelitiannya (populasi subjek) jadinya ya 222 SD tersebut.
Dalam penelitian seperti ini, tidak ada populasi informan atau narasumber. Yang ada populasi subjeknya. Informan bukan subjek penelitian, bukan pula responden penelitian (walau seperti responden, informan juga menjawab pertanyaan). Informan bersifat kolektif (satu kesatuan), tidak individual. Jadi, kalau toh ada yang disebut “sampel informan” itu karena subjeknya (dalam hal ini sekolah) disampel. Tetapi informan yang ada di sekolah tidak disampel, melainkan dipilih mana yang jadi informan kunci dan mana informan pelengkap (dari seluruh “orang” yang ada di sekolah).
Rangkuman (Definisi)
Nah, agar para mahasiswa mudah mengutip untuk menulis skripsinya apa yang dimaksud objek penelitian, subjek penelitian, responden penelitian, dan informan (narasumber) penelitian, berikut dituliskan rumusan pengertian atau definisinya (definisi = batasan pengertian).
(1) Objek penelitian adalah sifat keadaan ( “attributes”) dari sesuatu benda, orang, atau keadaan, yang menjadi pusat perhatian atau sasaran penelitian. Sifat keadaan dimaksud bisa berupa sifat, kuantitas, dan kualitas (benda, orang, dan lembaga), bisa berupa perilaku, kegiatan, pendapat, pandangan penilaian, sikap pro-kontra atau simpati-antipati,keadaan batin, dsb. (orang), bisa pula berupa proses dsb. (lembaga).
(2) Subjek penelitian adalah sesuatu, baik orang, benda ataupun lembaga (organisasi), yang sifat-keadaannya (“attribut”-nya) akan diteliti. Dengan kata lain subjek penelitian adalah sesuatu yang di dalam dirinya melekat atau terkandung objek penelitian.
(3) Responden penelitian adalah seseorang (karena lazimnya berupa orang) yang diminta untuk memberikan respon (jawaban) terhadap pertanyaan-pertanyaan (langsung atau tidak langsung, lisan atau tertulis ataupun berupa perbuatan) yang diajukan oleh peneliti. Dalam hal penelitian dilakukan dengan menggunakan tes, maka “responden” penelitian ini menjadi “testee” (yang dites). Responden penelitian bisa subjek penelitian, bisa orang lain.
(4) Informan (narasumber) penelitian adalah seseorang yang, karena memiliki informasi (data) banyak mengenai objek yang sedang diteliti, dimintai informasi mengenai objek penelitian tersebut. Lazimnya informan atau narasumber penelitian ini ada dalam penelitian yang subjek penelitiannya berupa “kasus” (satu kesatuan unit), antara lain yang berupa lembaga atau organisasi atau institusi (pranata) sosial. Di antara sekian banyak informan tersebut, ada yang disebut narasumber kunci (key informan)–seorang ataupun beberapa orang, yaitu orang atau orang-orang yang paling banyak menguasai informasi (paling banyak tahu) mengenai objek yang sedang diteliti tersebut.
(5) Populasi penelitian. Istilah ini mengandung ragam makna. Oleh karena itu perlu ditegaskan dengan istilah khusus: (1) Populasi subjek penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian dalam/dari sesuatu penelitian. Setiap subjek penelitian otomatis menjadi anggota populasi subjek penelitian. (2) Populasi responden penelitian (dalam hal responden bukan subjek penelitian) adalah keseluruhan responden penelitian dalam/dari sesuatu penelitian. Setiap responden penelitian otomatis menjadi anggota populasi responden penelitian. (3) Populasi objek penelitian adalah keseluruhan sifat-sifat keadaan yang menjadi sasaran penelitian. Setiap “aspek” sifat keadaan objek penelitian disebut populasi objek penelitian.
(6) Sampel penelitian. Sampel penelitian adalah sebagian dari “anggota” populasi penelitian yang terhadapnya pengumpulan data dilakukan. Hasil pengumpulan data dari sampel tersebut kemudian diberlaku-umumkan (digeneralisasikan) kepada seluruh anggota populasi.
Tambahan: Sampel Objek Penelitian
Contoh peristiwa pengambilan sampel dari populasi objek penelitian (hanya untuk memudahkan) adalah mengetes hasil belajar siswa sejak kelas pertama sampai kelas akhir sesuatu jenjang pendidikan (SD, SMTP, SMTA) lewat UNAS atau UAN. Pertama, dari seluruh mata pelajaran (yang harus dikuasai murid) hanya beberapa mata pelajaran yang diteskan (sampel mata pelajaran). Kemudian dari beberapa mata pelajaran tersebut hanya beberapa butir materinya saja dari sekian banyak butir pengetahuan atau ilmu yang dipelajari semasa bersekolah.
Catatan Lain (Pengingat)
Untuk diperhatikan dan dipahami: Berkait dengan informan (narasumber) penelitian pada atau di SATU “subjek” penelitian (berupa satu lembaga tertentu, bukan beberapa “unit subjek” atau lembaga), tidak ada populasi dan sampelnya.
Dikutip dari: tatangmanguny.wordpress.com